
Dara sangat lesu. Sepertinya sebelum berperang dia sudah tahu hasilnya, kalau dia akan kalah. Rasanya dia tidak ingin masuk ruang rapat itu. Tetapi karena dukungan yang diberikan oleh teman setianya yaitu Novi, akhirnya dia berjalan ke arah ruang rapat.
" Ayo Dara semangat! Hadapi musuhmu sampai akhir! Semangat,Ra! Semangat! Ayo Semangat! " Kata-kata Novi yang sedikit memberi energi ke Dara.
Dara sekarang sudah berada di dalam ruangan. Dia duduk dibarisan ke empat dari depan. Sebagian besar karyawan yang ikut mendapatkan tugas peralihan Manager pusat sudah hadir. Total ada sepuluh karyawan yang terpilih dan sekarang sudah ada delapan,termasuk Dara.
Di depan white board ada pria yang sudah menunggu mereka dari tadi. Dengan setelah jas hitam rapi, duduk didepan laptop. Lalu pria itu pun berdiri melihat Dara dan yang lainnya yang sudah duduk rapi di ruang rapat itu.
" Apakah sudah siap semuanya ? " Pria berjas bertanya.
" Sudah " Jawab Dara dan karyawan lain kompak.
" Apakah sudah masuk semua ? " Pria berjas itu bertanya lagi.
" Sudah " Mereka saling merlirik dan berhitung sebelum menjawab.
" Ini yang namanya Pak Seno ? perasaan tidak seganteng apa yang mereka eluh-eluhkan deh..menurutku biasa ajah. " Gumam Dara sambil membaca-baca file laporannya.
Pria berjas itu kemudian mengeluarkan HPnya lalu menelpon seseorang. Tidak berapa lama setelah pria itu menutup telponnya pintu ruang rapat terbuka. Pak Rizal, Bu Yanti dan satu orang lagi memasuki ruang rapat. Ketika melihat orang yang ketiga masuk mata Dara terbelalak. Dia kaget! Kenapa sesosok lelaki ini ada disini ? Dara masih heran.
" Selamat siang semua.." Bu Yanti menyapa.
__ADS_1
" Siang Bu.." Semua karyawan menjawab terkecuali Dara, dia masih mematung.
" Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya bahwa sekarang akan diadakan rapat terakhir atau rapat perpisahan untuk Pak Seno. Dimana didalam rapat itu Pak Seno akan menilai secara langsung hasil kerja kalian dan yang hasilnya bagus akan direkomendasikan langsung untuk menjadi manager utama di kantor pusat menggantikan posisi beliau. Silahkan Pak Seno ambil alih rapat ini. " Bu Yanti mempersilahkan Pak Seno untuk memimpin rapat. Lalu Bu Yanti dan Pak Rizal duduk di kursi peserta rapat bersama yang lain.
" Baik,terima kasih untuk Bu Yanti yang sudah mengijinkan saya untuk mengadakan rapat terakhir ini. Perkenalkan nama saya Seno Ardibratha. Saya biasa dipanggil Seno atau Ardi. Yang memanggil Seno biasanya para klien atau yang berhubungan dengan kerja. Tetapi kalau yang memanggil Ardi biasanya mereka yang sudah sangat akrab dengan saya. Ok kita langsung mulai saja rapat ini. " Ardi membuka rapat denga berwibawa. Dia berjalan kearah Iqbal.
Ketika Pak Seno menyebutkan namanya Dara langsung membuka file laporannya. Dia mencoba mencerna apakah apa yang dia lihat dan dia dengar adalah hal yang benar ? Dan benar saja di lembar terakhir dari laporan yang selama ini dia buat tertulis nama Seno Ardibratha.
Plak! Dara menepuk-nepuk pelan jidatnya. Pak Rizal yang menyadari tingkah anehnya Dara langsung bertanya kepadanya dengan berbisik.
" Kenapa, Ra ? Ada apa ? "
" Aduh..gimana nih ? Masa pertemuan pertama setelah telpon malam itu disini ? Mana gue gak ada rapi-rapinya. Kemeja kena kopinya si Novi. File lecek gara-gara si Novi salah ambil buat ngipasin kaki gue. Terus gue gak punya softcopy dari laporan gue. Bener-bener first impreson yang buruk. " Dara bergumam dalam hati, ketika teman-teman yang lainnya menyerahkan softcopynya ke pria berjas hitam yang dikiranya Pak Seno, dan ternyata itu adalah Iqbal, asisten Ardi di kantor barunya.
" Dara Amelia, hanya anda yang belum menyerahkan softcopy laporannya. Mana flashdisk atau CD anda ? " Iqbal bertanya. Sontak seluruh isi ruangan melihat ke arah Dara.
" Maaf Pak, laporan sudah saya buat dan sudah saya cetak. " Dara berdiri dan mengangkat map yang ada ditangannya. " Tetapi ketika saya balik dari istirahat makan siang dan hendak memindahkannya ke flashdisk, softcopy yang ada di komputer hilang." Lanjut Dara.
" Maaf saya, tidak menerima alasan apapun. Anda langsung saya coret dari list rekomendasi. " Jawab Ardi dengan tatapan tajam.
" Maaf pak, apa bapak tidak bisa memberikan kesempatan kedua untuk Dara ? Karena saya tahu dia berkompeten. " Pak Rizal mencoba membela Dara.
__ADS_1
" Maaf Pak Rizal, saya tidak bisa melakukannya karena saya sudah benar-benar keluar dari perusahaan ini. Dan per hari senin nanti saya sudah bekerja di perusahaan yang baru bersama asisten saya ini. " Ardi menepuk bahu Iqbal. " Bagaimana Dara Amelia ? Apakah anda menerima konsekuensinya ? " Lanjut Ardi.
Deg! Jantung Dara berdebar kencang ketika namanya disebut oleh Kak Ardi.
" Ii..ya Pak, saya terima. " Dara menjawab dengan terbata.
Dara terduduk lesu di kursinya. Merasa malu dan sedih karena dengan telak dia gugur sebelum berperang dan itu disaksikan langsung oleh Kak Ardi.
Selama mengukiti rapat dia hanya duduk termenung. Matanya memang menghadap kedepan, melihat kearah teman-temannya yang sedang melakukan presentasi. Tetapi pikirannya entah melayang kemana. Hanya ketika lampu kembali nyala yang membuatnya sadar kembali. Dan ketika lampu mati untuk presentasi maka pikirannya pun terbang lagi.
Pak Rizal mengamati sikap Dara dari tadi. Dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa walau dia sebenarnya putra mahkota dari pemilik perusahaan itu. Dia disana masih merahasiakan jatidirinya. Ingin rasanya dia langsung menelpon sang Dirut untuk meminta bantuan darinya. Tetapi dia mengurungkan niatnya, karena dia tahu kalau Dara tidak suka hal yang begitu. Dia tahu betul kalau Dara ingin berusaha semaksimal mungkin dengan usahanya sendiri. Dikantor itupun tidak ada seorangpun yang tahu kalau mereka bersaudara, saudara sepupu. Dan Dara adalah keponakan Pak Dirut.
Itu sama-sama mereka lakukan agar mereka tahu mana-mana orang yang tulus ikhlas dan bermuka dua. Dan dari sekian banyak karyawan yang mereka temui selama mereka bekerja disana ada saja yang seperti ular. Termasuk Bu Yanti. Pak Rizal hanya memerlukan beberapa bukti lagi untuk melengserkannya.
" Dara Amelia, laporan tercetak anda mana ? Bisa saya lihat ? " Iqbal bertanya ketika presentasi karyawan terakhir sudah selesai dan lampu kembali menyala.
" Bisa, Pak " Dara lalu berjalan kearah Iqbal. Tetapi karena gugup ada kak Ardi disana, dia tidak memperhatikan jalannya.
Dug! Kaki Dara membentur kursi karyawan paling depan. Keseimbangan badannya hilang. Dengan sigap kak Ardi bangun dari duduknya dan menangkap badan Dara agar tidak jatuh. Tangan kak Ardi melingkar dipinggang Dara, dan tangan dara melingkar dileher kak Ardi.
Deg! Deg! Deg! Deg! Jantung Dara berdetak sangat kencang. Rasanya dia hampir pingsan dalam pelukan kak Ardi.
__ADS_1