Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 93


__ADS_3

Semua orang yang berada di meja makan sudah tidak sabar mendengar cerita yang akan keluar dari mulut Dara. Kisah cinta yang terbilang sangat singkat itu membuat sebagian besar keluarganya penasaran. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan mereka mantap untuk melangsungkan pernikahan.


“Jadi, siapa yang pertama kali jatuh cinta?” tanya Lia.


“Dara,” jawab Ardi dengan cepat.


“Bohong! Tidak mungkin Teh Dara yang jatuh cinta terlebih dulu,” oceh Lia.


“Tanyakan saja langsung pada orangnya. Benar begitu, Ra?” goda Ardi.


“Benar,” ucap Dara lirih.


“Sejak kapan kamu menyukainya?” celetuk Farhan.


Dara menoleh ke arah Farhan. Dalam netra lelaki itu terlihat sekali guratan kecemburuan. Ia segera memalingkan wajahnya dan memandang mata jernih milik suaminya.


“Semenjak aku bekerja sebagai leader staf marketing di perusahaan pertamaku bekerja. Di sana awal aku bertemu dengannya. Berawal dari teman kerja dan sekarang menjadi teman hidup,” papar Dara.


“Cerita yang sangat menarik,” potong Eyang. “Tetapi kita sudahi dulu sampai di sini obrolannya. Sekarang kita sarapan dahulu setelah itu wawancara bisa dilanjutkan kembali. Ok?”


“Ok, Eyang,” jawab Lia dan Febri serempak.


Febri mulai merasa aneh dengan sikap yang ditunjukan oleh kakaknya. Raut wajahnya seketika berubah saat mereka membicarakan tentang Dara dan Ardi. Febri terus memperhatikan dua insan yang sedang duduk berdampingan di hadapannya sekarang. Bukan tanpa alasan jika Febri memikirkan tentang segala kemungkinan yang ada.


***


“Di, kita jalan-jalan, yuk. Tidak perlu jauh-jauh yang dekat saja. Kan Dara juga belum kenal benar tempat ini,” ajak Febri.

__ADS_1


“Benar, A. Kita ke taman saja. Lagi pula malam ini malam minggu. Pasti rame dan seru,” timpal Lia.


“Ok! Kalian atur saja.” Ardi menyetujuinya. Tampak sekali senyum semringah di wajah Lia dan Febri setelah mendengar jawaban dari pria tampan di hadapan mereka itu.


“Di, memang tidak apa-apa Dara pergi? Bukannya tadi pagi baru saja terjadi insiden kecil yang membuatnya terluka?” celetuk Farhan yang tiba-tiba duduk di samping Ardi.


“Menurut Febri itu hanya luka bakar kecil saja. Jadi, aku rasa tidak masalah selama dia mengoleskan salep pada tubuhnya dan mengenakan baju yang nyaman,” jawab Ardi.


“Benar, Kak,” ucap Febri. “Ini bukan masalah yang besar. Lagi pula di sana paling kita duduk-duduk dan mengobrol saja. Jadi, Kak Farhan tidak perlu khawatir.”


“Khawatir? Oh tidak, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja...,”


“Terima kasih ya, Kak untuk perhatiannya. Istriku pasti sangat senang mendengarnya.”


“Istri? Oh tentu. Dia kan istrimu, jadi sudah seperti adik bagiku,” kilah Farhan.


***


Ardi dengan erat menggenggam tangan istrinya menyusuri jalan setapak. Disusul oleh Lia dan Febri, di barisan paling belakang Farhan berjalan seorang diri.


“Kita duduk di sana saja. Tidak terlalu banyak orang. Terlebih dekat dengan tukang jajan juga,” kata Lia. Kemudian dia menggelar tikar lipat yang dibawanya tanpa menunggu persetujuan yang lain. “Ayo duduk. Aku udah capek, nih.”


Masing-masing dari mereka melepaskan alas kaki sebelum naik ke atas tikar. Ardi duduk persis di belakang Dara. Dia menaruh dagunya di atas bahu istrinya seraya berkata, “Kamu suka dengan tempat ini?”


“Mm.” Dara mengangguk dengan senyum simpulnya.


“Aku mulai lapar. Ada yang mau pesan sesuatu?” tanya Lia.

__ADS_1


“Aku mau mie ayam,” ucap Farhan. “Kamu juga mau mie ayam kan, Ra?”


Dara mendongak kaget ke arah Farhan. Dia segera mengangguk agar tidak terjadi suasana yang kaku. Dia memutarkan kepalanya mengahadap Ardi. “Kamu juga mau mie ayam kan, Kak?” tanyanya dengan manja.


Ardi mengangguk seraya tersenyum manis kepada istrinya. “Li, pesanlah apa yang kamu mau. Aku pergi ke mini market sebentar untuk membeli minuman.”


“Ok! Siap A.” Lia langsung meluncur melaksanakan tugasnya.


“Di, aku ikut. Aku juga ingin beli rokok,” ujar Farhan menahan langkah Ardi sejenak.


Kini tinggal Febri dan Dara. Masih terasa canggung diantara mereka berdua. Dara mengambil ponsel dalam tasnya untuk mengalihkannya dari suasana yang tidak mengenakan itu.


“Ra, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Febri memecah keheningan.


“Cukup baik. Terima kasih ya sudah mau mengobatiku tadi pagi,” tutur Dara.


“Tidak masalah. Itukan sudah menjadi tugas seorang dokter,” jawab Febri seraya terkekeh. “Jadi, Ardi yang menyuruhmu mengenakan kaos itu?”


“Iya,” jawab Dara, seraya melihat kaos yang ia kenakan. “Katanya agar tidak menempel ke kulit bajunya dan tidak tergesek. Takut menyebabkan luka baru jika aku menggunakan baju-bajuku yang pas dengan tubuh.”


“Wah! Ternyata Ardi sudah berubah banyak ya. Aku tidak mengira kalau dia bakal menjadi orang yang begitu perhatian. Sungguh aku terkejut. Karena selama ini dia terkenal sangat cuek orangnya,” papar Febri.


“Iya. Aku juga dulu berpikir seperti itu. Terlebih orang-orang yang selalu dekat dengan Kak Ardi adalah orang-orang yang punya tittle, punya jabatan atau berpendidikan tinggi, tampang yang rupawan. Sementara aku ... sangat jauh dari semua itu. Aku selalu bilang pada diriku sendiri kalau orang seperti dia tidak akan pernah melihat ke arahku walau sedetik saja. Kak Ardi itu seperti bayangan yang tak dapat ku sentuh, seperti langit yang tak bisa ku gapai, seperti bintang yang hanya bisa ku nikmati kilaunya dari jauh. Dia berdiri kokoh di tempatnya tanpa ada orang yang berani mengusiknya.”


“Pantas saja Ardi lebih memilihmu. Karena apa yang kamu lakukan adalah kebalikan dari yang semua pernah aku lakukan dulu. Aku selalu berusaha agar dia melihat ke arahku. Aku akan melakukan apapun itu asalkan mendapatkan perhatian darinya, tetapi selalu saja usaha yang aku lakukan sia-sia. Dia tetap bergeming di tempatnya. Seperti yang aku lakukan kemarin bagaimana aku mencoba mencuri perhatiannya dengan berdandan sepertimu dan sekali lagi usahaku yang terakhir tidak membuahkan hasil. Malah membuat kalian semakin mesra. Benar begitu, Nyonya Seno Ardibratha?”


Mereka berdua terkekeh karena nada suara Febri yang tiba-tiba membesar saat mengucap gelar kehormatan Dara. Suasana yang kaku perlahan mulai mencair. Tak ada lagi ketegangan di antara dua wanita itu.

__ADS_1


Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba muncul sebuah tangan dari belakang bahu Dara sambil menggoyang-goyangkan botol yogurth dingin. Wajah Dara semringah melihat minuman kesukaannya berada di hadapannya. Dia langsung mengambil botol itu tanpa melihat siapa yang memberikannya.


“Terima ka ... sih,” ucapan Dara terpotong karena ketika memutar badannya ia baru sadar kalau yang memberikan minuman itu adalah Farhan. Bukan suaminya. “Terima kasih.” Dara mengulangi ucapannya tanpa ekspresi.


__ADS_2