
" Jangan macam-macam kamu, Fandi! Kamu kemarin lihat sendirikan. Aku sudah bertunangan dengan kak Ardi." Dara menunjukan cincin emas yang melingkar di jari manisnya.
" Aku gak akan macam-macam sama kamu, hanya satu macam." Fandi menggenggam tangan Dara.
" Lepaskan! Lepaskan aku Fandi!"
" Teriak! Semakin kamu teriak dengan kencang, semakin banyak orang yang dengar. Dan ketika semua orang dengar, maka cahaya blitz itu akan mengarah ke kita. Besok kita jadi tranding topik di media online dengan judul 'Tunangan dari pewaris tunggal BR group dipergoki sedang merayu cowok lain'. Dan gak lama dari itu Jaksel band pasti viral."
" Cih! Kamu melakukannya untuk pansos. Trik murahan. Walaupun kamu melakukan hal itu kepadaku, itu sama sekali tidak akan mengganggu kak Ardi."
" Kalau dilihat dari judul ceritanya memang tidak akan membuatnya terganggung. Tetapi, jika pose foto yang ditampilkan seperti ini..." Fandi menarik Dara kepelukannya. " Maka beda lagi ceritanya."
" Ya Tuhan, apa lagi ini? Hari ini masalahku dengan Novi baru saja selesai, kenapa sekarang Fandi memulai yang lainnya lagi?" batin Dara. " Tatapan licik Fandi sungguh sangat menjijikan. Aku benar-benar merasa bodoh kenapa dulu aku begitu sangat mencintainya. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah bersembunyi. Dan tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan orang ini."
" Kamu ini tidak konsisten ya. Dari tadi teriak-teriak terus minta dilepaskan. Tapi setelah jatuh dipelukanku kamu malah terdiam. Kenapa? Kamu merasa nyaman dalam pelukanku ya. Kamu pasti kangenkan dengan pelukan dari mantanmu ini?"
" Lepaskan aku! Hentikan omong kosongmu itu." Dara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ardi. Tapi, dia masih sibuk mengobrol dengan tamu undangan yang lain.
" Kenapa? Mau cari bantuan? Kekasih barumu masih sibuk disana. Lihat! Rina datang mendekatinya. Aku yakin dengan penampilan Rina yang sekarang pasti kak Ardi tersayangmu cepat atau terlambat akan jatuh kepelukannya."
Cepret! Cepret! Cepret! Blitz kamera memenuhi ruangan ballroom. Para wartawan sedang mengambil gambar untuk berita yang akan mereka tulis esok hari.
" Hahaha.. Baru juga ngomong dan belum ada lima menit, dan sekarang langsung terjadi. Kamu lihatkan? Bukan aku yang mengada-ada. Tapi, kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri. Pak Bosku yang tampan sedang memeluk mantan kekasihnya di depan orang banyak. Dan diabadikan oleh kamera wartawan."
" Aku tahu, bukan seperti itu kejadiannya. Rina sengaja menjatuhkan dirinya dan dengan reflek kak Ardi membantunya. Aku percaya dengan kak Ardi." batin Dara.
" Fandi! Lepaskan aku! Aku tidak tahu apa maksud dan tujuanmu sebenarnya." Dara terus berjuang melepaskan diri dari cengkraman Fandi.
__ADS_1
Fandi tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya.
" Ra, aku tahu dulu kita pernah punya cerita indah. Tapi, kamu tidak bisa bersikap seperti ini kepadaku. Ingat, Ra! Kamu udah punya Pak Bos. Dan lihat di jari manismu sudah ada cincin yang melingkar. Jaga sikap kamu, Ra. Kita harus jaga jarak, Ra. Kita harus menghormati perasaan Pak Bos," ucap Fandi tiba-tiba.
" Apa? Apa yang dikatakan barusan? Jaga sikap? Dan...kenapa ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah?" batin Dara.
Dara membalikkan badannya, dan dia melihat sesosok laki-laki yang dikenalnya.
" Mas Rizal," ucapnya lirih. " Mas, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak....."
" Tadi Dara tiba-tiba mencariku," sela Fandi. " Padahal aku sudah bilang kepadanya 'ini bisa membuat Pak Bos salah paham nantinya'. Tapi, dia bilang 'gak apa-apa, gak ada orang disini, gak akan ada orang yang melihat kita'. Kan, aku udah bilang tadi. Sekarang Mas Rizal ngelihat kita. Nanti dia bisa salah paham."
Rizal jalan mendekat dan merangkul bahu adik sepupunya itu. " Tenang, Mas mu ini gak akan salah paham. Karena aku tahu betul siapa adikku ini." Rizal tersenyum kearah Dara.
" Terima kasih, Mas," jawab Dara.
" Syukurlah kalau Mas Rizal gak salah paham. Aku jadi lega. Kalau begitu aku permisi dulu ya, Mas." Fandi mempercepat langkahnya hingga dia hilang diantara kerumunan orang.
" Sama-sama. Iya, tadi pas wartawan ngambil foto Ardi dan bintang film baru itu, Mas lihat kamu gak ada disamping Ardi. Terus reflek cari keberadaan kamu. Gak tahunya lagi sama Fandi si bocah abstrak itu."
" Aku masih ingat bagaimana raut muka Mas Rizal tadi siang. Aku tahu perasaan di dalam hatinya pasti campur aduk sekarang. Biarpun seperti itu dia selalu bersedia menolongku. Terima kasih, Mas. Untuk semua yang kamu lakukan untukku dan maaf aku tidak bisa menerima cintamu, semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang terbaik." batin Dara.
" Kenapa diem?" tanya Rizal.
" Gak apa-apa."
" Ya sudah, masuk yuk. Aku antar kamu ke tempat Ardi."
__ADS_1
Rizal menggandeng tangan adik sepupunya itu.
" Ra, kamu tahu? Entah seperti apa perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku ini. Aku sendiri pun bingung menjelaskannya. Ada rasa cinta, marah, cemburu, takut, dan senang dalam waktu yang bersamaan. Beberapa hari yang lalu memang benar aku ingin memaksamu untuk tinggal disisiku. Tapi, setelah tadi aku melihat bagaimana ekspresi wajahmu ketika menunjukan cincin di jari manismu aku merasa orang yang sangat jahat jika aku terus memaksakan kehendakku. Jujur! Aku belum sekuat itu melepasmu dengan Ardi, tapi aku akan berusaha. Berbahagialah dengannya, maka aku pun akan bahagia untukmu." batin Rizal.
Ardi mulai gelisah karena sedari tadi matanya tidak menemukan keberadaan Dara. Tapi kemudian mata mereka saling bertemu, Dara memberikan senyuman membalas tatapan cemas Ardi. Dan perasaan Ardi berangsur-angsur lega.
" Kamu dari mana saja? Aku cemas mencarimu," kata Ardi, raut muka cemas memang belum sepenuhnya hilang.
" Maaf, Kak. Tadi aku...."
" Di, jaga baik-baik adek gue ya. Hati-hati! Ada bocah abstrak yang bergentayangan. Lengah sedikit gue gak tanggung akibatnya!" sela Rizal memperingatkan.
" Bocah abstrak? Apa itu?" celetuk Pak Wawan.
" Papa?"
" Pakdhe?" ucap mereka bersamaan.
Dara menghampiri Pak Bos yang sekaligus Pakdenya itu dan menyalaminya.
" Apa kabar kamu, Ra?" tanya Pak Wawan.
" Alhamdulillah sehat, Pakde." jawab Dara.
" Pakde dengar dari Pak Adit kalau kamu lebih memilih Ardi ketimbang Rizal. Kenapa bisa begitu? Padahal kamu kan lebih kenal Rizal lebih dulu ketimbang Ardi, dari masih bayi malah."
" Kan memang aku menganggap Mas Rizal itu seperti Mas Doni. Mereka berdua kedudukannya sama. Aku tidak melebihkan diantara keduanya."
__ADS_1
" Hmm..begitu. Coba mana tanganmu Pakde mau lihat." Pak Wawan menarik tangan Dara. " Cincin yang cantik, Ardi pintar sekali memilih cincin yang pas untuk Dara. Tapi menurut Pakde ini belum sah. Harus dilakukan ulang dengan pesta yang meriah tentunya."
" Lega rasanya hati ini. Pakde tidak marah padaku. Dia menerima keputusanku. Terima kasih, Pakde." batin Dara.