
Drrt! Drrt! Drrt! Ponsel Doni yang ada diatas nakas berdering.
" Halo, Don! Gue udah dapet infonya. Apartemen itu milik Candra Wijaya. Dan baru beberapa minggu ini ditempati oleh tunangannya, yaitu Rina Rosa," ucap Rizal dari sebaramg telpon.
" Ok! Tolong info perkembangannya ya.."
" Don! Baru saja Ardi masuk ke gedung apartemen itu."
" Apa? Lu gak salah lihatkan, Zal?"
" Gak, Don! Soalnya gue parkir persis di depan pintu lobby itu."
" Ok! Lu awasi terus ya. Bentar lagi gue nyusul lu kesana. Gue selesaiin dulu kerjaan disini."
" Siap! 86!"
Bip! Sambungan telpon terputus.
Doni mengepalkan tangannya, kesal." Awas lu, Di! Sebentar lagi gue bakal kasih unjuk ke Dara wajah asli lu."
Dari arah lantai bawah terdengar suara ribut-ribut karena asap yang mengepul di taman belakang. Secepat kilat Doni berlari ke sumber suara.
" Ada apa sih, Mah? Kok rame-rame gini? Mana banyak asap lagi. Uhuk! Uhuk!" tanya Doni.
" Gak tahu ini, Don. Tiba-tiba banyak asep dari belakang. Ternyata adek kamu tuh lagi bakar-bakar sampah," jawab mama Tika kesal.
" Sampah?" tanya Doni heran.
" Iya, kata bi Odah tadi begitu pas dia nanya ke Dara. Lagian calon penganten ada-ada aja kelakuannya sampe bakar sampah segala. Bukannya duduk manis buat perawatan atau siap-siapin diri buat acara lusa malah mainan sama asep. Kan gak lucu pengantian perempuannya bau asep. Udah dandan cantik-cantik tapi bau asep. Heh!" mama Tika menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuannya itu.
" Tuh, anaknya lagi jalan kesini," lanjut mama Tika. " Tanyain aja langsung ke anaknya. Sebenarnya apa yang dia bakar sampe bikin rumah berasap begini."
__ADS_1
Dara dengan santainya berjalan masuk tidak menghiraukan mama Tika yang sebelumnya marah-marah kepadanya, karena sudah membuat seisi rumah heboh.
" Kamu mulai berubah pikiran, Ra? Mau membatalkan acara pernikahan dengan cara membakar seisi rumah?" ledek Doni.
Dara menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badannya Dara menjawab. " Justru aku sedang memusnahkan kerikil-kerikil tajam yang bakal merusak pernikahanku nanti."
" Kamu masih yakin melanjutkan pernikahan ini?"
" Apa maksud, mas Doni?" tanya Dara kesal.
" Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mencoba melindungi adik perempuanku tersayang dari jeratan lelaki hidung belang."
" Doni! Jangan bicara sembarangan kamu! Kalau papa denger atau keluarga Pak Adit denger gimana? Kan gak enak. Lagian kalau belum ada buktinya kamu jangan asal ngomong. Mama tahu kamu sangat menyayangi adikmu, tapi gak seperti ini juga dong, Nak. Kasihan adikmu. Lusa sudah hari pernikahannya," ucap mama Tika.
" Justru itu, Mah! Sebelum janur kuning melengkung lusa nanti, aku bakal mengebuktiin semuanya ke mama, papa, terutama ke kamu, Ra. Lihat saja nanti, Ra. Aku akan tunjukin ke kamu kalau kecurigaanku benar selama ini."
" Terserah mas Doni mau berbuat apa. Yang jelas aku sangat percaya dengan kak Ardi. Titik!" Dara berlari kembali ke kamarnya.
Brak! Dara menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dara terduduk dilantai, memeluk kedua lututnya.
Sementara itu Rizal masih terus memantau di depan pintu lobby utama.
" Sudah lebih dari setengah jam Ardi masuk kesana dan belum keluar juga. Apa sih yang lu lakuin di dalam sana, Di? Jangan bikin kepercayaan gue ke lu luntur seketika tanpa sisa! Gue gak akan segan-segan buat habisin lu, kalau lu macem-macem di belakang Dara," gumam Rizal.
Rizal menunggu di dalam mobil dengan cemas. Pikiran negatifnya telah membuatnya menjadi kacau balau. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabat baiknya di dalam apartemen itu hingga akhirnya jendela mobilnya diketuk.
Tok! Tok! Tok!
" Doni!" Rizal tersentak. Lantas dia langsung menurunkan kaca jendela mobilnya.
" Gimana, Zal? Dia masih di dalam?"
__ADS_1
" Masih!"
" Apa perlu kita tangkap basah aja kucing garong itu? Pasti diatas sana dia lagi asik makan ikan asin," cibir Doni.
" Belum tentu, Don! Kita harus pastikan dulu. Menurut gue Ardi bukan tipe lelaki serendah itu."
" Terserahlah! Gue mau buktikan sendiri."
Doni berjalan memasuki area gedung apartemen itu disusul dengan Rizal yang setengah berlari mengejar langkah Doni. Menggunakan lift mereka menuju unit apartemen yang sudah sedari tadi dipantau oleh anak buah Rizal.
Di depan pintu lift sudah menunggu petugas cleaning servis yang ternyata orang suruhan Rizal. Dia memberikan info kalau orang yang mereka maksud, yaitu Ardi masih berada di dalam.
Rizal dan Doni bergegas menuju pintu apartemen yang diduga milik Candra Wijaya. Doni menempelkan kupingnya dipintu kayu itu. Dia berusaha mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Tapi nihil, tak terdengar apa pun.
Doni pun memberi isyarat pada Rizal. Dan dalam hitungan ketiga mereka berdua menendang secara bersamaan pintu apartemen itu hingga jebol.
Mereka memasuki apartemen itu yang ternyata sudah porak poranda bagai kapal diterjang badai. Sofa dan meja sudah jungkir balik tidak pada tempatnya. Lampu tidur, vas hingga asbak pecah berhamburan di lantai.
Di atas ranjang mereka menemukan Rina Rosa yang sudah terbujur lunglai dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedangkan kaki dan tangannya terikat dengan kain sprei.
" What the hell!" Doni terperanjat menyaksikan keadaan ruangan itu.
Sementara di tempat lain Rizal menemukan Candra Wijaya dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Dia pingsan dengan kondisi pelipisnya berdarah. Rizal pun semakin bertanya-tanya dimana Ardi, sahabatnya itu. Apakah dia baik-baik saja?
Lalu Rizal mendengar suara gemricik air dari kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kekhawatirannya semakin memuncak, dan dia pun bergegas lari memeriksa kamar mandi itu.
Dan dugaannya benar. Ardi sudah terkapar diatas bathup dengan air yang memenuhi badannya. Dengan pakaian yang masih lengkap berupa kemeja dan jas beserta sepatunya Ardi merendamkan dirinya di dalam bathup.
Sontak Rizal langsung teriak memanggil Doni, " Don! Sini cepat! Cepat tolongin Ardi!"
" Apa? Ardi?" Doni yang kagetpun langsung berlari mendekati Rizal.
__ADS_1
Secara bersamaan mereka mengeluarkan Ardi dari dalam bathup. Dengan hati-hati mereka memapahnya keluar dari kamar mandi itu menuju ruang tamu. Mereka meletakkan dengan perlahan tubuh Ardi diatas sofa yang sebelumnya sudah dibetulkan posisinya.
Doni menatap dengan heran tubuh Ardi yang masih terkapar diatas sofa itu. Apa yang sebenarnya telah terjadi diruangan mewah ini?