
Dengan bersusah payah Dara merangkak untuk menggapai gagang pintu. Betapa terkejutnya Ardi ketika pintu kamar mandi telah dibuka dan melihat kondisi istrinya yang tersungkur di lantai.
“Ya ampun, Ra. Kamu kenapa sayang?” tanya Ardi cemas, seraya mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur. “Tunggu dulu di sini sebentar aku akan mematikan kran.”
“Kenapa bisa air yang begitu panas mengguyur tubuhmu, Ra? Lihat badanmu memerah. Aku akan memanggil Febri. Kamu jangan turun dari tempat tidur. Aku akan segera kembali,” kata Ardi setelah kembali dari kamar mandi.
Dara merasakan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya. Ia juga melihat ada sedikit cairan berwarna merah keluar dari lututnya dan di bagian lengan dan bahunya dia melihat kulitnya yang kemerahan seperti yang dikatakan oleh Ardi.
Kabar yang diberikan oleh Ardi ternyata membuat seisi rumah Eyang panik. Tidak hanya Febri yang masuk ke kamar, tetapi juga Eyang, Lia dan Tante Suci. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi hingga Dara terluka seperti itu. Farhan yang khawatir juga ingin ikut melihat kondisi wanita yang masih sangat dicintainya itu, tetapi ketika ia melihat Dara hanya berbalut kain handuk ia mengurungkan niatnya.
“Kenapa bisa seperti ini, Ra?” tanya Febri seraya membuka kotak P3Knya.
“Tadi aku terpeleset di kamar mandi dan tanpa sengaja tangan kananku memutar kran air panas. Jadi, seperti ini. Aw! Sakit!” papar Dara, meringis kesakitan.
“Untung hanya luka bakar ringan saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Cukup olesi pakai salep sudah pasti bakal sembuh. Lain kali lebih hati-hati lagi ya, Ra,” kata Febri.
“Terima kasih ya, Feb,” ucap Dara.
“Sekali lagi thank you ya, Feb,” kata Ardi.
“No problem. Asal jangan sampai lupa oles salepnya agar lekas sembuh,” jawab Febri.
“Ya ampun, Neng. Eyang sampai kaget. Syukur atuh kalau kamu tidak apa-apa. Sekarang lekas pakai baju agar tidak masuk angin. Pilih bahan yang nyaman agar luka bakarmu tidak tergores dan bertambah parah. Nanti Eyang antar sarapanmu ke sini. Cepat sembuh ya sayang,” kata Eyang seraya mengusap lembut pucuk rambut Dara.
__ADS_1
“Iya, Eyang. Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Febri juga tadi bilang kalau ini hanya luka bakar yang ringan. Tidak perlu diantar. Aku masih bisa jalan ke ruang makan. Aku baik-baik saja, Eyang,” kata Dara, menggenggam tangan Eyang yang sudah keriput namun terus memancarkan kehangatan.
Setelah memastikan keadaan Dara dalam kondisi baik Eyang, Febri, Tante Suci, beserta Lia keluar dari kamar agar wanita itu bisa mengenakan bajunya. Ardi memilah baju yang akan dikenakan istrinya, tetapi baginya tidak ada yang cocok. Lalu ia mengambil sebuah kaos berwarna putih dan juga celana joger berwarna abu dari dalam tasnya. Ia menaruhnya di pangkuan Dara.
“Pakai ini saja. Bahannya lembut dan juga ukurannya besar. Jadi, tidak menempel langsung ke kulitmu. Ayo lekas pakai, Ra,” papar Ardi.
“Tidak mau! Aku punya bajuku sendiri. Aku akan mengambilnya sendiri dari dalam lemari,” kata Dara seraya turun dari atas ranjang, tetapi tubuh Ardi berdiri tegap di jalurnya. “Awas minggir!”
“Mau dapat pahala? Nurut sama suami,” tukas Ardi.
Dengan terpaksa Dara kembali menjatuhkan bokongnya ke atas ranjang. Dia mengambil baju yang diberikan oleh suaminya tadi. Ia membalikan badan untuk melepas lilitan handuk dan mengenakan bajunya dengan hati-hati.
“Kenapa harus membalikan badan?” tanya Ardi
“Apakah pipimu juga terkena cipratan air panas juga tadi? Kenapa sekarang terlihat memerah?” ucap Ardi seraya mencubit dagu istrinya.
Bugh! Dara memukul pelan dada bidang suaminya. Lalu ia memeluknya dengan erat. Terasa sekali irama jantung Ardi di telinga Dara. “Detakannya sangat kencang. Kak Ardi benar-benar mengkhawatirkanku,” batin Dara.
“Aku mandi dulu, ya. Kamu tunggu aku di meja makan. Ok?” titah Ardi, tetapi Dara sama sekali tidak meresponnya. Dia hanya terus memandang suaminya dengan lekat.
“Kenapa kamu memandangiku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Ardi heran. Ia memalingkan wajahnya ke cermin. “Tidak ada yang aneh, aku masih terlihat tampan walau belum mandi.”
Bugh! Dara kembali memukul dada bidang suaminya. “Sejak kapan kamu begitu narsis?” tanya Dara seraya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Semenjak ... tadi. Hehehe...,” jawab Ardi sambil terkekeh. “Lalu kenapa kamu memandangiku seperti itu? Pasti kamu juga sedang mengagumi ketampanankukan? Benar begitukan?”
“Dasar! Benar-benar narsis. Sudah sana masuk kamar mandi. Basuh seluruh badan Kak Ardi sampai bersih biar sindrom narsisnya juga luntur terbawa air.”
Senda gurau yang begitu mesra diantara Ardi dan Dara ternyata menggoreskan luka yang begitu dalam bagi seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari celah pintu kamar yang tak tertutup dengan rapat, yaitu Farhan. Tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya begitu tajam, tak sedetikpun ia melepaskan pandangannya dari wanita yang sedang merapikan rambutnya sekarang.
Terdengar Dara berpamitan untuk pergi ke meja makan. Farhan yang tidak mau Dara mengetahui keberadaannya, ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya sebelum wanita berkuncir kuda itu meraih gagang pintu.
“Sepertinya tadi ada orang. Apa aku salah lihat, ya?” gumam Dara. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju ruang makan.
Di meja makan sudah tersaji makanan yang begitu menggoda lidah. Pesmol ikan gurame tersaji dengan cantiknya di tengah meja. Di keliling dengan tahu dan tempe goreng, tumis kangkung, ayam goreng, berbagai lalapan mentah dan matang, serta sang primadona sambal terasi.
Tanpa terasa Dara menelan salivanya melihat sajian yang ada di hadapannya. Perutnya pun langsung melihatkan reaksi yang membuat pipinya kembali merona merah. Kegaduhan cacing dalam perut Dara terdengar ke seluruh orang yang sudah duduk mengitari meja makan. Eyang memanggil gadis berkuncir kuda itu agar mengambil kursi berdekatan dengannya.
Baru saja Dara menjatuhkan bokongnya ke atas kursi, dengan percaya diri Farhan menarik kursi di sebelahnya. Kejadian itu bertepatan dengan Ardi yang baru saja sampai ke ruang makan. Beberapa detik suasana menjadi kaku karena Farhan tidak beranjak dari kursinya.
“Maaf, Di. Aku tidak sengaja. Silakan duduk di samping istrimu,” kata Farhan seraya bangkit dari duduknya.
“Tidak apa, Kak. Aku bisa duduk di mana saja. Aku tahu pasti Kak Farhan ingin kenal lebih dekat dengan istriku. Benar begitu, Kak?” ucap Ardi.
“Oh, tentu saja. Aku ingin mendengar dari sisi Dara, bagaimana cerita cinta kalian bermula. Bagaimana Nyonya Seno Ardhibrata, dapatkah Anda menceitakannya kepada kami?” tanya Farhan seraya memandang wanita yang berada di sampingnya.
“Benar, Teh. Aku juga pengen tahu bagaimana si manusia kaku ini mengutarakan cinta dan melamar Teh Dara,” celetuk Lia.
__ADS_1