Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.07


__ADS_3

Hari ini Dara setengah hati untuk masuk ke kantor. Dia merasa bingung dengan dirinya sendiri, entah harus kesal atau marah kepada siapa. Dia tahu kalau Papanya hanya menyampaikan pesan dan keputusan tetap dikembalikan ketangannya. Tapi entah kenapa Dara menjadi bersikap dingin pada kedua orang tuanya.


Mama dan Papa sedang berada di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan paginya. Dara langsung melengos pergi tanpa pamit dan bicara pada mereka. Mama melihatnya dengan tatapan sedih. Papa hanya bisa menenangkan Mama dengan memberikan pelukan dibahunya.


Dengan mengendarai kuda besi metiknya Dara meluncur ke kantor. Dara mencoba tetap fokus ketika berkendara. Akhirnya dia tiba di tempat parkiran kantor dan memarkirkan motornya disana. Dibukanya jaket dan helmnya, lalu dia masuk ke dalam kantor.


Mas Jono OB yang kebetulan berpapasan dengan Dara di depan kantor tidak berani menyapanya. Biasanya Dara yang sering menyapanya terlebih dahulu. Mukanya yang ditekuk membuat nyali Mas Jono ciut. Padahal si OB hanya ingin menyampaikan kalau kotak makannya yang ditinggalkan di dapur kantor sudah bersih dan disimpan di dalam rak atas.


Dara menaruh jaketnya disandaran kursi kerjanya. Menaruh tasnya dimeja dan mulai menyalakan tombol power pada cpu komputernya. Dara membaca file dari Bu Yanti yang berisi tentang data dan alih tugas Pak Manager kantor pusat. Setelah komputer menyala Dara login ke email dan memeriksa apa ada email penting atau tidak.


Novi yang sedari tadi sudah datang tetapi ketika melihat muka muramnya Dara, dia tidak berani menegurnya. Dia tahu kalau sedang begini Dara tidak bisa diajak ngobrol, yang ada jawabnya jutek dan bad mood juga.


Tululut..Tululut..! Tululut..Tululut..! Telpon interkom di meja Dara berdering.


" Ya Haloo.." Dara mengangkat telponnya.


" Ra, tolong keruangan saya sebentar..sekalian bawa filenya Pak Seno, manager pusat. Ada yang ingin saya periksa dan bicarakan. " Ternyata bu Yanti yang telpon.


" Baik bu,saya segera kesana. " Dara menutup telponnya dan langsung menyambar file yang sedari tadi ada dihadapannya.


Dara berjalan kearah ruangan Bu Yanti. Ketika hendak sampai dia melihat Pak Rizal keluar dari ruangan Ibu Kepala Cabang. Deg! Dara mencoba bersikap biasa saja. Saat mereka berpapasan Dara terus menatap ke ruangan Bu Yanti tanpa menghiraukan Pak Rizal. Merasa diacuhkan Pak Rizal balik badan dan menarik tangan Dara.

__ADS_1


" Maaf pak, lepaskan tangan saya. Ibu Kepala sudah menunggu di ruangannya. " Dara mencoba menghentakan tangannya dengan kencang tapi genggaman Pak Rizal terlalu kuat.


" Kamu marah sama aku,Ra ? " Tanya Pak Rizal


" Maaf, saya tidak marah sama bapak. Saya hanya merasa kecewa dengan seseorang yang sudah saya anggap kakak sendiri. " Dara menjawab dengan sinis.


" Aku bisa menjelaskannya, Ra..Pliz jangan menatap aku dengan tatapan marah seperti itu. " Pak Rizal maju selangkah mendekati Dara.


" Ini urusan pribadi bukan urusan kantor. " Dara berjalan mundur. " Cepat lepaskan tangan saya, Pak. Jika tidak aku akan berteriak dan semua karyawan akan melihat adegan seorang Pak Manager sedang memaksakan kehendaknya kepada staff karyawannya. " Lanjut Dara dengan sarkasme.


Pak Rizal melepaskan tangan Dara, tapi sebelum itu dia berkata. " Tapi kamu harus janji akan menemui aku di balkon atas saat jam istirahat nanti. "


Dara berlalu ke ruangan Bu Yanti tanpa menoleh kebelakang. Di dalam ruangan Ibu Kepala Cabang, Dara mencoba tetap tenang dan memperhatikan setiap arahan yang diberikan. Mencatat dan menandai hal-hal yang penting yang ada di file itu. Tak berapa lama, ada suara ketukan pintu dari luar ruangan.


Ceklek! Pintu terbuka. " Bu, Pak Manager Seno sudah datang. " kata Pak Rizal memberitahu dengan masih berdiri di depan pintu.


" Iya,persilahkan masuk " Bu Yanti memberi perintah. " Ra,untuk sementara ini dulu kamu bisa kembali ke mejamu. " Bu Yanti seraya berdiri ingin menyambut kedatangan tamunya.


" Baik bu. " Dara menganggukan kepalanya dan langsung keluar tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di ruangan itu.


Ceklek! Greb! Dara keluar ruangan Bu Yanti. Tiba-tiba langkahnya berhenti. Dia menoleh kearah ruangan tadi,dan memandangi pintu yang sudah tertutup itu.

__ADS_1


" Seperti ada yang aneh. Apa ya ? Hmmm..sepertinya orang itu tidak asing. Aku terlalu buru-buru tadi, jadi tidak bisa melihat dengan benar. Pak Manager kantor pusat yang katanya mirip Andy arsyil." Gumam Dara.


Dara kembali ke mejanya. Sepanjang jalan dari lorong hingga meja kerja, Dia sedang memikirkan apa yang sekiranya nanti akan dibicarakan dengan Pak atau Mas Rizalnya itu. Dara masih tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh Pak Manager yang sekaligus kakak sepupunya tadi.


Dara mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia kembali menatap layar komputernya. Mengerjakan sesuai yang diarahkan oleh Bu Yanti.


" Maaf, Ra...ini tadi ada titipan file dari Pak Rizal. " Novi membalikan badannya memberikan map berwarna biru.


" Oke! Makasih " Jawab Dara singkat.


" Ra, sebenarnya lu kenapa sih..? Dari pagi ditekuk mulu mukanya. " Novi memberanikan diri bertanya.


" Gak. Gak apa-apa ." Jawab Dara singkat, sesuai perkiraan Novi.


Dara bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur kantor. Seperti biasa dia ingin membuat teh manis hangat. Cangkirnya tidak ada ditempatnya. Dara mencarinya di rak bawah, di tempat tumpukan gelas kotor, kemudian dia memncarinya di rak atas. Ternyata gelas itu ada disana dengan kotak bekalnya yang ketinggalan kemarin.


Dara mencoba meraihnya dengan sedikit berjinjit, karena gelas dan kotak bekalnya agak masuk letaknya. Ketika mencoba meraih dengan satu tangan dan tangan yang lain bertumpu dimeja ternyata ada sedikit tumpahan air disana , Dara tidak menyadarinya. Tiba-tiba tangannya menginjak air itu dan terpeleset dengan kepala hampir membentur meja. Tapi entah dari mana datangnya, Pak Rizal menyelematkannya dengen cara menahan badan dengan memeluknya dari belakang. Dengan segera Dara melepaskan tangan yang memeluknya itu dan mengucapkan terima kasih.


Dara tidak jadi membuat teh manis, dia akan kembali ke meja kerjanya. Saat berbalik badan hendak keluar dari dapur dia seperti melihat sosok yang dikenal. " Seperti Kak Ardi.." Dara berkata dalam hati.


Dia lalu mengejar orang itu ingin tahu sebenarnya siapa yang dilihatnya tadi ? Benarkah Kak Ardi atau bukan ? Jika iya dia ingin bertanya kenapa setelah malam itu dia tidak ada kabar sama sekali ? Telpon atau pesan WA pun tidak. Sebenarnya yang kemarin itu serius atau tidak ? Dara masih bertanya-tanya.

__ADS_1


Sesampainya di meja resepsionis, lelaki berjas hitam itu sudah tidak ada. Dara berjalan keluar kantor, menoleh ke kiri dan kanan masih mencari sosok itu. Tapi tetap tidak ada. Yang dia lihat hanya sebuah mobil hitam yang berjalan pergi menjauh dari kantornya.


__ADS_2