
Srrkk ! Srrkk ! Suara dari semak-semak.
" What is that ? " Putri takut dan memeluk Dara.
" Tenang sayang..tidak apa-apa. Ada tante disini. " Dara mengusap-usap bahu Putri menenangkannya.
Dara mendorong pelan tubuh Putri dengan tangan kanannya agar dia berlindung dibalik badannya. Dara berjalan perlahan mendekati semak-semak yang bergerak itu.
" Roaarr!! Roaaarr !! " Novi keluar dari semak-semak menakuti Dara dan Putri.
" Aahhh..!! " Mereka teriak.
" Aku adalah Tirex yang sedang lapar. " Novi berjalan mendekati mereka.
Sontak mereka berdua langsung lari menjauhi Novi. Dari kejauhan Ardi melihat tingkah mereka bertiga yang sedang main kejar-kejaran itu. Karena asik main Putri tidak memperhatikan langkahnya dan hampir jatuh untung saja Dara sigap dan menangkapnya. Tetapi karena salah posisi justru kaki Dara terkilir karenanya.
" Auuhh ! " Dara terduduk dan memegangi kakinya.
Ardi langsung berlari menghampiri Dara. Dia segera melepaskan sepatu Dara lalu memijatnya sedikit.
" Sakit ? " Ardi bertanya dengan tangan menyentuh pergelangan kaki Dara.
" He em. " Dara mengangguk.
Ardi langsung menggendongnya mencari tempat duduk untuk Dara. Novi dan Putri ikut berjalan dibelakangnya. Ditaruhnya Dara disalah satu kursi yang disediakan untuk pesta nanti malam. Ardi berlutut didepan Dara. Kaki yang terkilir ditaruhnya diatas kaki kanan Ardi.
" Sakit ? " Ardi memastikan sekali lagi.
" He em " Dara mengangguk.
" Tahan sebentar ya. " Ardi lalu memutar pergelangan kaki Dara.
Kretek ! Bunyi suara tulang Dara yang bergeser.
" Ah! " Dara memekik dengan tangan kanannya mencekram bahu Ardi.
" Sekarang coba gerakan kakimu. " Kata Ardi.
Dara pun menggerakan kakinya dan memutar pelan pergelangan kakinya.
" Sakit ? " Tanya Ardi lagi.
" Tidak " Dara menggelengkan kepalanya.
Deg ! Deg ! Deg ! Deg ! Mata mereka saling bertemu. Jantung Dara berdebar kencang. Rasanya pipinya sekarang semerah tomat.
" Thank you Uncle ! You saved my queen. " Putri memeluk Ardi.
" You're welcome Princess. Your queen is my queen too. " Kata Ardi membalas pelukan Putri, yang kemudian melirik ke arah Dara.
__ADS_1
Dara pun menurunkan kakinya. Dara menjadi salah tingkah. Karena dia tahu apa maksud dari perkataan Ardi barusan. Itu bukan hanya sekedar basa-basi untuk anak kecil.
" Ra, sepertinya yang tadi bukan hanya basa-basi deh." Bisik Novi yang sedang membantu Dara berdiri.
" Tadi yang mana ? Gue gak ngerti maksud lu apaan. " Jawab Dara sekenanya sambil mencoba jalan tapi ternyata masih sedikit sakit. " Ah! "
Ardi menangkap tangan kiri Dara. Menahannya agar tidak jatuh.
" Masih sakit ? Ada krim hangat atau minyak kayu putih ? Kalau ada nanti dibalurin aja biar tidak sakit lagi. Kalau tidak ada nanti aku carikan. " Kata Ardi cemas.
" Tidak usah pak. Ada kok di tas saya. Pak Seno tidak perlu khawatir. " Dara melepaskan tangan Ardi, mencoba jalan lagi yang masih dibantu Novi.
Ternyata Dara berjalan dengan sedikit pincang. Karena tahu berjalan kearah pavilium jaraknya agak jauh, Ardi pun berjalan menyusul Dara dengan menggandeng tangan Putri.
Setelah berada didepan Dara, Ardi memberi isyarat ke Novi untuk melepaskan tangannya. Dan Novi mengikutinya. Lalu dia menggodang Dara dipelukannya.
" Apa yang bapak lakukan ? " Dara meronta.
" Aku mencoba membantumu. Kakimu sakit. Nanti akan semakin sakit kalau dipaksa jalan. " Jawab Ardi.
" Pak, Pak Seno tidak perlu melakukan ini. Saya bisa berjalan sendiri. " Dara terus meronta.
" Iya... Nanti kalau sudah sembuh. " Ardi terus berjalan.
" Pak, tolong turunkan saya..banyak mata yang melihat kita. Saya tidak enak dengan mereke semua." Dara masih terus meronta.
Dara langsung diam pasrah. Dia menyembunyikan mukanya di dada Ardi. Dalam posisi seperti ini Dara bisa mendengar jelas detak jantung Ardi.
Berpuluh pasang mata menatap kearah mereka. Ada yang berbisik-bisik. Ada juga yang memandangnya dengan tatapan sinis.
Mereka pun sampai di kamar yang ditempati Dara dan teman-temannya. Ardi meletakkan Dara dikasurnya dengan hati-hati. Menempatkan bantal di kepala dan kakinya.
" Kayu putihnya dimana ? " Ardi bertanya pada Dara.
" Itu..ada di tas saya. " Jawab Dara menunjuk tas kerjanya.
" Biar saya saja yang mengambil Pak. " Kata Novi sambil meletakkan sepatu Dara di lantai lalu berlari mengambil minyak kayu putih di dalam tas Dara. " Ini Pak. " Novi menyerahkan botol hijau berukuran sedang ke Ardi.
" Terima kasih. " Ardi menerimanya.
Ardi membuka tutup botol hijau itu lalu menumpahkan isinya ke telapak tangannya. Kemudian dia menggosoknya dan mengusapkan ke kaki kanan Dara.
" Pak. Terima kasih. Bapak tidak perlu melakukan ini. Saya bisa sendiri Pak. " Dara menghentikan tangan Ardi.
" Baiklah. " Jawab Ardi singkat karena mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan beberapa pasang mata yang menatap lekat ke arah mereka.
" Uncle! Now you are my king ! Because you saved my queen. " Kata Putri memecahkan keheningan.
" As you wish my princess " kata Ardi membelai rambut Putri. " Now I will take you home to your Momy. Ok ? " Lanjut Ardi.
__ADS_1
" But..I want to be here with my queen " Putri memeluk Dara.
" Putri..My Princess..Aku baik-baik saja..I'm ok! Kamu pulang dulu ke Momy ya..Nanti malam kan kita ketemu lagi. Ok sayang ? " Dara mencium kening Putri.
" Ok! Get well soon my queen. " Putri mencium pipi Dara.
" Thank you. My Princess. " Jawab Dara.
" You...em..Kamu belum berterima kasih dengan my king. "
" Aku sudah bilang terima kasih barusan. "
" No yet ! "
" Now say thank you " kata Putri
" Terima kasih Pak "
" Not like that ! " Putri protes.
" Folow me "
" Thank you my king "
" Sama saja sayang. " Dara membela diri.
" No ! He is my king now. So you have to say...Thank you my king. " Putri bersikeras Dara menuruti keinginannya.
Dara menghela nafas. Tanda menyerah dengan sifat keras kepalanya Putri. Walau ini akan sangat membuatnya malu.
" Thank you my king. " Dara mengatakannya menahan malu.
" You're welcome my queen. " Jawab Ardi yang membuat semua orang disana tersenyum.
Setelah adegan yang membuat jantung Dara hampir copot karena menahan malu, Ardi membawa Putri pergi dari tempat itu. Mengantarkan Putri ke Momynya.
Didalam kamar Novi, Eka dan Irma menggoda Dara.
" Cie..cie..cie..Thank you my king.." Kata Novi menirukan Dara.
" You're welcome my queen. " Irma menirukan Ardi.
" Apaan sih kalian ? orang cuma nurutin maunya si Putri biar cepet selesai gak ngerengek terus. " Kata Dara sembari menyapu obat dikakinya.
" Beneran juga gak apa-apa. Toh, janur kuningnya belum ada yang melengkung. " Timpal Eka.
" Eh..Tapi kan lu udah punya calon suami ya, Ra. Terus Pak Seno gimana dong ? Kan sayang juga kalau dilepasin. " Kata Novi mengagetkan Eka dan Irma.
" Apa ? Calon suami ? " Kata Eka dan Irma berbarengan.
__ADS_1