
" Dara! Ardi!" Mama Tika memanggil, mencari keberadaan dua sejoli yang di mabuk cinta.
Dara yang kaget dengan teriakan Mama, dia tiba-tiba mendorong dada kak Ardi. Seketika mereka langsung berpandangan. Lalu ingatan mereka terbang ke beberapa hari kebelakang saat di rumah sakit.
" Hahaha..." Dara dan Ardi tertawa mengingat hal itu.
" Kenapa ini pada ketawa? " Mama Tika heran.
" Eh, Mama. Gak apa-apa, Ma. Cuma keingat sama kejadian lucu aja." Jawab Dara.
" Hmmm.. Nak Ardi, Ayah dan Ibu mau berpamitan pulang. Kamu masih mau disini atau mau ikut pulang?" Goda Mama Tika.
" Pulang, Tan. Besok kan mau jemput Dara." Ucap Ardi.
" Aku pamit pulang dulu ya, Ra. Nanti aku kabari kalau mau jemput kamu."
" Hmm." Dara mengangguk.
Dara, Mama Tika juga Papa Malik mengantar keluarga Ardi hingga depan rumah.
" Sayang, Tante pulang dulu ya.. Besok kita ketemu lagi." Ucap Ibu Heni.
" Iya, Tante. Hati-hati dijalan." Jawab Dara.
" Pak Malik dan Ibu Tika, terima kasih untuk jamuannya. Kami tunggu kedatangannya di gubuk kami." Kata Ayah Adit.
" Insya Allah, Pak. Nanti gantian kami yang berkunjung ke istana, Bapak." Jawab Papa Malik.
" Hati-hati di jalan ya.."
Ardi dan kedua orang tuanya memasuki mobil. Perlahan minibus itu menjauh dan hilang dari pandangan.
Mama dan Papa masuk kedalam rumah, tetapi gadis bergaun biru ini masih berdiri diluar. Dia memandangi langit malam yang cerah nan indah bertabur bintang.
" Terima kasih.. sudah mau menjadikanku pendamping hidupmu. Langit yang cerah adalah tanda dari awal yang baik. Dan semoga niatan yang baik ini akan berjalan lancar. Tanpa ada halangan hingga hari spesial itu tiba." batin Dara.
Dara berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menatap sofa ruang tamu yang ada di hadapannya. Dia mengingat-ingat posisi tempat duduknya tadi.
" Ah! Tadi kak Ardi duduk di sofa ini." batin Dara. Lalu dia duduk di sofa itu.
" Hmm.. Seperti kenal." Dara mengedarkan penciumannya.
Deg!
" Ini wangi parfum kak Ardi. Wanginya nempel di sofa ini." Dara menyandarkan punggungnya. Dia memejamkan matanya, menikmati aroma parfum kekasihnya yang memenuhi hidungnya sekarang.
" Ini adalah wangi parfum yang aku rindukan sejak dulu. Wanginya menenangkan gak bikin pusing apalagi bikin gatal hidung. Memang dia pintar dalam segala hal. Termasuk pintar dalam memilih parfum." batin Dara.
Kruuuukkk ! Perut Dara mulai demo minta diisi.
__ADS_1
" Oh iya. Tadi kan aku makan dikit banget gara-gara grogi sama kak Ardi dan orang tuanya. Pantesan cacing di perut udah mulai memainkan okestranya." Ucap Dara sambil mengusap-usap perutnya.
Dara berjalan ke ruang makan. Dia menyendok nasi ke atas piringnya. Lalu menuangkan beberapa lauk diatas piringnya. Sebuah bukit kecil pindah keatas piring Dara.
" Ya ampun, sayang. Kamu habis bikin gedung pencakar langit? Makanya porsi makanmu menjulang sampai kelangit juga?" Mama heran melihat piring yang ada ditangan Dara.
" Hmm.." Dara menjawabnya hanya dengan senyuman.
" Ra, kamu cerita ke orang tuanya Ardi kalau sebenarnya kamu juga dilamar oleh Rizal?" Kata Papa tiba-tiba lalu duduk di dekat Dara.
" Masalahnya tadi pasti Papa dan Pak Adit ngobrol di ruang kerja Papa Adit bilang kalau dia merasa beruntung. Kamu lebih memilih Ardi ketimbang Rizal."
" Mungkin kak Ardi yang cerita, Pa. Kan kak Ardi sama Mas Rizal temenan." Kata Dara setelah menelan makanannya.
" Papa gak menyangka, Ra. Ternyata lelaki yang kamu pilih menjadi calon suami itu.. putra mahkota dari BR group."
" Papa gak nyangak ternyata Pak Adit sesupel itu orangnya... Cepat habiskan makananmu lalu istirahat ya, Nak."
" Iya, Pa, Ma."
Mama dan Papa pergi ke kamarnya hendak istirahat. Tak lama kemudian gadis yang masih mengenankan gaun biru itu menyelesaikan makanannya. Setelah selesai Dara menaruh piring kotornya di wastafel dapur.
Dara membawa secangkir air hangat ditangan kanannya. Dan dia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Ceklek!
Menekan tombol on pada remote AC. Kemudian Dara mengganti gaun birunya dengan piyama tidur. Mengambil sebuah hanger baju dari dalam lemarinya. Dara memasangkannya di gaun biru itu dan menggantungnya di belakang pintu.
" Gaun yang cantik." Dara membelai gaunnya.
" Besok minta tolong Bi Odah buat diloundry bajunya."
Dara membanting bokongnya ke tepi ranjang. Dia memainkan gawai yang sudah ada digenggamannya.
" Kak Ardi udah nyampe rumah belum ya?" Tanya Dara dalam hati.
" Coba chat aja deh.."
Dara membuka aplikasi pesan berlogo gagang telpon berwarna hijau. Dia membuka pesan Ardi sebelumnya lalu mengetikan pesannya.
" Kak, Lagi dimana? Udah sampai rumah belum? "
Ting! Pesan balasan dari Kak Ardhi masuk.
" Masih dijalan. Bentar lagi nyampe. Kenapa, Ra?"
" Gak apa-apa cuma tanya aja." Dara jaim.
Dara meletakkan benda pipih itu diatas bantal. Berjalan ke arah kamar mandi, ia ingin menghapus make up yang masih menempel diwajahnya.
__ADS_1
Membuka keran wastafel, Dara menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menadahi air. Lalu dia membasuh mukanya dengan air dan juga sabun.
Dara menepuk-nepuk wajahnya dengan handuk bersih. Sekarang dia merasa kulit wajahnya bisa bernafas dengan lega.
Drrtt! Drrtt! Drrtt! Ponsel Dara berdering.
" Mas Doni? Tumben udah malem telpon." batin Dara.
Tut! Dara menggeser tombol hijaunya.
" Halo Mas.. Tumben jam segini telpon."
" Halo, Ra. Mas kepo dengan hasil pertemuan dua keluarga." Jawab Doni.
" Kepo kenapa, Mas? Semuanya baik-baik aja kok, gak ada yang perlu dikhawatirin Mas." Terang Dara.
" Tahu gak, Mas?"
" Ya gak lah! Kan aku gak ada disitu." Doni memotong pembicaraan Dara.
" Ih.. Mas Doni, orang belum selesai ngomong malah dipotong."
Doni terkekeh dengan sikap manja Dara.
" Udah! Diem! Udah! Berhenti ketawanya!"
" Ok!" Doni menahan tawanya.
" Jadi orang tua kak Ardi itu adalah seorang pemilik perusahaan yaitu BR group, Mas. Dan ternyata Om Adit juga tahu kalau Papa itu salah orang kepercayaannya Pakde Wawan." Terang Dara.
" Terus besok aku diajak langsung sama kedua orang tuanya kak Ardi untuk ikut ke kota B. Disana keponakan Om Adit mau lamaran. Sekalian ngenalin aku sama kelurga besarnya."
" Oh! Jadi begitu....."
" Begitu kenapa, Mas? "
" Gak apa-apa. Ya sudah sekarang kamu istirahat. Besok kan mau pergi piknik sama calon mertua. Hehehe..."
" Piknik? Emangnya anak TK.."
" Bagi Mas Doni, kamu akan selalu seperti anak TK. Yang harus selalu Mas jaga. Walau pun jarak kita jauh tapi Mas masih bisa memantau kamu."
" Iya! Salah satu anak buah Mas Doni yang memata-matai aku itu Mas Rizal. Semua-semua diaduin ke Mas Doni." Ucap Dara pura-pura kesal.
" Hahaha.. Kan demi kebaikan kamu. Karena kita sayang kamu, Ra. Ya sudah Mas tutup telponnya dulu. Ada kerjaan yang harus diselesaikan. Salam buat Mama dan Papa ya..Besok hati-hati di jalan. Bye! Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam..."
Tut! Sambungan telpon putus.
__ADS_1