
Tut! Sambungan telpon dengan Mas Doni berakhir.
" Oh iyah, tadi kan lagi chat sama kak Ardi." Ucap Dara.
Benar. Ada pesan masuk dari kak Ardi sebelum panggilan telpon dari Mas Doni.
" Aku udah nyampe rumah, Ra. Mau packing baju buat besok. Kamu jangan lupa bawa jaket ya.. Soalnya disana dingin." Isi chat Kak Ardi.
" Iya, Kak. Kalau jaket sih aku selalu bawa." Jawab Dara.
" Yudah aku mau packing baju dulu ya.. Besok aku jemput. Bye.."
Dara kembali menyimpan HPnya diatas nakas. Dia bangkit dari duduknya menuju lemari. Ia memilih beberapa pasang baju untuk dia bawa besok. Kini baju-baju itu sudah tersimpan rapi dalam travel bagnya.
Dara pun beranjak pergi tidur. Dalam hatinya dia merasa sedikit gugup untuk esok hari. Karena ini kali pertama dia pergi bersama kak Ardi dengan status yang berbeda. Bukan lagi sekedar teman. Bukan lagi atas nama sahabat. Tetapi, calon istri.
Sementara itu.....
Drrtt! Drrtt! Drrtt! Ponsel Rizal berdering.
Masih menatap layar laptopnya pewaris tahta Cahayagroup ini menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
" Ya, halo.."
" Halo, Zal. Lagi dimana? " Tanya Doni.
" Masih di kantor. Kenapa? "
" Cowok yang melamar Dara untuk jadi istrinya, orang itu adalah Putra Mahkota dari BR group."
" Iya. Gue udah tahu."
" What? What the hell! Lu udah tahu tapi lu gak ngabarin gue?" Doni kesal.
" Sorry! Gue bukan gak mau ngabarin lu atau bagaimana, tapi sekarang gue lagi sibuk dengan masalah perusahaan. Lu tahu sendiri kantor cabang yang gue pegang lagi ada kasus. Jadi, gue gak ada maksud buat gak ngasih tahu lu." Terang Rizal.
" Ok! Lalu kenapa bisa anak dari BR group ngelamar Dara?"
" Yang gue tahu, mungkin Dara udah cerita sama lu atau belum. Dulu si cacing punya sahabat di kantor yang lama, sebelum akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah. Tapi enah kenapa mereka pernah hilang kontak beberapa tahun lalu. Nah, sahabat ini lah yang melamarnya sekarang."
" Lu punya informasi khusus tentang dia? .... Eh, Siapa nama anak itu?"
" Seno Ardhibratha. Atau biasa dipanggil kak Ardi oleh Dara. Gue belum punya informasi yang lebih mendetail tentang dia. Tapi gue akan mencari infonya."
" Ok! Gue tunggu kabar dari lu. Bye."
" Bye!" Rizal mematikan ponselnya.
" Gue akan cari semua informasi tentang lu, Di. Gue akan mencari celah dari diri Lu. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan Lu pasti punya sesuatu hal yang bisa membuat Dara jauh dari lu. Dan lihat saja bagaimana nanti ketika Dara berpaling dan kembali ke pelukan gue." gumam Rizal.
__ADS_1
Pagi telah menjelang. Dara sudah beranjak dari peraduannya. Dia sudah berdandan rapi dan sedang mengecek ulang barang bawaannya.
" Mm... Baju-baju udah, peralatan mandi udah, handuk juga udah. Terus apa lagi ya?"
" Sayang, sarapan dulu yuk." Ajak Mama Tika yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
" Kenapa? Belum selesai packingnya? Perlu mama bantu?"
" Gak usah, Ma. Udah selesai kok. Aku cuma cek ulang aja, dan udah semua kok ini."
" Ok! Jangan lupa jaketnya sayang, kan disana hawanya dingin."
" Iya, Ma. Nih jaketnya." Dara menunjukan jaket jeans kesayangannya.
" Kok bawanya yang itu sih sayang? Kan ada yang lebih tebal. Nanti kamu kedinginan lho disana."
" Gak apa-apa, Ma. Ini juga cukup." Ucap Dara sembari memasukan ponsel ke dalam tas jinjingnya.
" Sayang, disana kamu harus menunjukan nilai-nilai yang Mama dan Papa tanamkan di diri kamu dari kecil. Buat keluarga besar Ardi jatuh hati, layaknya Ardi jatuh hati kepadamu, ya Nak."
" Insya Allah, Ma. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Dara memeluk Mama.
" Ya sudah. Yuk, kebawah. Papa sudah nunggu di meja makan."
Dara menggandeng lengan Mama menuruni anak tangga.
" Bi, tolong bawain turun tasnya Dara di kamar. Tolong ya, Bi." Ucap Mama.
" Bi, tunggu..." Dara menghentikan langkah Bi Odah.
" Iya, kenapa Neng?"
" Awas hati-hati ada bomnya. Hehehe.." Dara tertawa melihat muka polos Bi Odah.
" Iiihh Neng Dara.. Kirain ada apa." Bi Odah melanjutkan langkahnya meninggalkan nona mudanya yang masih tertawa.
" Jaga sikap kamu disana sayang. Takutnya Ardi tahu sifat jahilmu ini, nanti malah dia jadi ilfeel sama kamu." Mama mengingatkan.
" Tenang Mama sayang. Bisa dibilang kak Ardi sedikit banyak udah tahu sifat aku kok, Ma. Jadi gak usah khawatir ya."
" Kamu disana sampai kapan, Ra?" Tanya Papa.
" Gak tahu, Pa. Mungkin nanti sore udah pulang atau juga besok."
" Ya sudah yang penting kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik."
" Siap, Pa."
Ting Tong! Bel rumah berbunyi.
__ADS_1
" Sepertinya itu Ardi sudah datang. Mama bukain pintu dulu ya." Mama berjalan kearah pintu depan.
Dara menyudahi sarapannya. Dia membenahi mulutnya dari sisa makanan dengan tisu yang ada di depannya. Lalu bersama Papa, Dara berjalan ke ruang depan.
" Selamat pagi, Nak Ardi." Sapa Papa.
" Selamat pagi, Om." Ardi mencium punggung tangan Papa.
" Hayuk sarapan dulu." Ajak Papa.
" Terima kasih, Om. Tadi udah sarapan di rumah."
" Mau berangkat sekarang?"
" Iya, Om. Biar gak panas dijalan."
" Ini, neng tasnya." Kata Bi Odah.
" Terima kasih, Bi. Sini aku aja yang bawa." Ardi mengambil travel bag dari tangan Bi Odah.
" Hati-hati, Den. Kata neng Dara di dalem tasnya isinya bom. Hehehe.." Bi Odah menirukan gaya bicara Dara.
Seketika pipi Dara merona menahan malu.
" Haha.. Bibi bisa aja becandanya." Ucap Ardi.
" Om, saya pinjem Daranya dulu ya. Insya Allah besok sore kita sudah pulang."
" Ok! Hati-hati di jalan ya, Nak Ardi. Om titip Dara. Dan salam buat Pak Adit dan Ibu Heni ya."
" Iya, Om. Nanti saya sampaikan."
" Tante, pamit berangkat dulu ya."
" Iya. Hati-hati ya nyetirnya. Jangan ngebut!"
" Iya, tante."
" Ma, Pa, Aku berangkat dulu ya. Asslamu'alaikum.."
Dara berjalan dibelakang Ardi menuju mobil. Lelaki tampan itu membuka pintu kursi belakang untuk menaruh travel bag, lalu dia membukakan pintu depan untuk Dara. Ardi berjalan memutar kedepan untuk duduk di kursi kemudi.
Akhirnya mobil hitam itu pun meninggalkan rumah Dara. Diiringi dengan lambaian tangan dari Papa Malik dan Mama Tika.
" Mm..Om dan Tante mana Kak?" Tanya Dara.
" Ayah sama Ibu udah berangkat dari subuh. Katanya mereka ada keperluan yang harus diurus dulu disana. Jadi berangkat duluan deh."
" Owh..." Dara mengangguk.
__ADS_1
" Ya ampun gimana ini? Aku pikir bakalan ada Om dan Tante. Tapi ternyata cuma kita berdua doang. Hadduuuhhh.. kok berasa canggung banget sih sekarang. Plis! Jangan ada kekakuan diantara kita dong! Sumpah salah tingkah banget sekarang!" Batin Dara.