Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.08


__ADS_3

Dari dalam mobil yang sedang berjalan keluar dari area kantor cabang, Ardi membuka ponselnya mencoba mencari nomer telpon seseorang lalu menelponnya.


Tut..Tut..! Pada nada sambung yang kedua telpon dijawab.


" Halo, Pak Bambang..Tolong cari tahu segala informasi tentang Rizal Ramadhan, Manager utama dari kantor cabang PT. Cahayagroup. Saya tunggu infonya segera. " Tut ! Ardi memutuskan sambungan telponnya.


Deg! Ada rasa yang tak nyaman di dada Ardi. Beberapa hari ini dia sangat sibuk dengan serah terima jabatannya agar ketika dia benar-benar sudah keluar dari perusahaan itu, maka tidak ada lagi ganjalan. Tetapi, apa yang tak sengaja dia lihat tadi di kantor cabang itu membuat suasana hatinya buruk.


Ardi melihat Rizal menarik tangan Dara. Suatu pemandangan aneh yang terjadi di area perkantoran. Kemudian ketika mereka sama-sama berada di dalam kantor Bu Yanti, Dara tidak menyadari keberadaan Ardi. Dan ketika selesai meeting,saat Ardi ke toilet tidak sengaja melihat Rizal memeluk pinggang Dara di dapur kantor. Pemandangan yang sangat tidak mengenakkan baginya.


Ardi memandang keluar jendela. Mengalihkan pikiran dengan melihat hiruk pikuk jalanan. Tiba-tiba HP dalam genggaman Ardi bergetar. Bzzz.!! Bzzz..!!


" Ya..Halo Yah.." Ardi memjawab telponnya.


" Kamu segera ke kantor ayah yaa..ayah tunggu."


" Baik yah.." Tut! Sambungan telpon terputus.


" Pak, putar arah ke kantor Citra Bratha group. " Ardi memberi perintah pada sopir pribadinya.


" Baik, Pak. " Di putaran jalan depan mobil langsung menuju tempat tujuan.


Tidak berapa lama sampai di kantor Citra Bratha group. Ardi turun dari mobilnya dan menuju pintu masuk. Di depan gedung asisten pribadi ayahnya yaitu Iqbal dan dua orang security sudah menunggunya dari tadi. Mereka membungkukan badan tanda memberi hormat kepada Ardi dan mempersilahkannya masuk, lalu mengikuti langkahnya dari belakang. Sepanjang jalan menuju lift karyawan yang berpapasan juga melakukan hal yang sama seperti para security, membungkukan badan mereka.


Ardi sudah sampai di depan lift. Para karyawan yang dari tadi sudah menunggu secara sadar diri bergeser dan mempersilahkan Ardi untuk mempergunakan liftnya terlebih dahulu. Tidak sedikit juga karyawati yang berdiri di barisan belakang berbisik-bisik membicarakan ketampanan dan keramahan Ardi.

__ADS_1


Isu yang merebak dikalangan karyawati bahwa Ardi akan segera bekerja disana. Sebagai wakil direktur. Mendampingi ayahnya. Sudah dua hari sejak kemarin dia pergi ke kantor ini untuk belajar, beradaptasi, dan mempersiapkan dirinya. Hingga akhirnya nanti dia akan pindah dan menggantikan posisi ayahnya kelak.


Ting! Pintu lift terbuka. Ardi memasuki lift diikuti oleh Iqbal, dan para security hanya mengantarnya sampai depan pintu lift. Dengan wajah yang datar dan mata tajam penjaga keamanan terlatih itu membuat para karyawan lebih segan lagi. Lalu dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Merasa kosong dan masih ada tempat untuk yang lain, lalu sang putra mahkota dari Citra Bratha group ini memberi isyarat pada si asisten agar beberapa karyawan bisa masuk ke dalam lift dan bisa melanjutkan kerja mereka. Para karyawan yang sudah menunggu di barisan depan memasuki lift itu.


Satu persatu karyawan yang telah sampai di lantai tujuannya keluar dari dalam lift tanpa lupa membungkukan badan tanda hormat dan terima kasih. Akhirnya hanya tinggal mereka berdua. Sang putra mahkota dan asistennya.


" Iqbal, tolong setelah ini buatkan saya secangkir teh hangat, gulanya sedikit saja. " Perintah Ardi memecah keheningan.


" Baik, pak.." Iqbal mengangguk menerima perintah.


Sesampainya di lantai tujuan lift terbuka dan mereka di sambut oleh dua orang petugas keamanan yang lain. Mereka mengantarkan Ardi dan Iqbal ke ruangan Pak Presiden Direktur yang berada di belakang meja keamanan. Meja keamanan ini berbentuk seperti meja resepsionis pada umumnya, dengan meja tinggi di depan dan meja ukuran standar di belakangnya menghadap para security yang sedang berjaga.


Ruangan resepsionis keamanan ini dilengkapi sebuah monitor yang menggambarkan keadaan di dalam ruangan Presdir. Ada beberapa alat komunikasi satu arah yang tertata rapi di atas meja. Ardi memperhatikan sekilas meja kerja para security itu.


Tok..tok..tok..!! Iqbal mengetuk pintu.


Iqbal membuka pintunya dan mempersilahkan Ardi memasuki ruangan terlebih dahulu dan menutup pintunya meninggalkan para security di depan.


" Di, Ayah sudah mempersiapkan ruangan kamu. letaknya satu lantai di bawah ruangan ini. Jadi kapan kamu mulai pindah ? " Ayah bangun dari kusi kerjanya berjalan mendekat ke arah Ardi yang sekarang sudah duduk di sofa tamu dalam ruangan itu.


" Secepatnya yah..semoga beberapa hari lagi sudah selesai urusan dikantor lama..dan minggu depan bisa ikut gabung di perusahaan ayah. " Jawab Ardi dengan mata terpejam dan kepala menyandar pada sofa.


" Kamu kenapa, Di ? " Tanya Ayah yang sudah duduk di sofa tamu.


" Gak apa-apa yah, hanya sedikit cape. " Ardi menyembunyikan perasaan sebenarnya. Tenggorakan Ardi tiba-tiba merasa tak nyaman. Kering dan sedikit sakit. Ardi membenarkan posisi duduknya dengan salah satu tangannya mengusap-usap lehernya.

__ADS_1


" Iqbal, tolong tehnya. " Ardi mengingatkan Iqbal untuk membuatkan minum yang tadi sudah dia pesan waktu di dalam lift.


" Baik, Pak.." Iqbal membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


" Kamu gak apa-apa,nak ? " Tanya ayah khawatir.


" Gak apa-apa yah..hanya kurang minum jadi tenggorokannya kering dan gak nyaman. " Ardi menjelaskan agar kekhawatiran di wajah ayahnya hilang.


" Yasudah, mulai besok kalau kemana-mana kamu bawa galon air ya..biar gak kering lagi tenggorokannya. Hahaha.." Ayah tertawa meledek Ardi.


Ardi hanya tersenyum mendengar lelucon garing yang keluar dari mulut ayahnya.


Pak Presdir mengajari anaknya semua tentang perusahaan sebelum dia pergi meeting beberapa menit lagi. Ardi membaca dengan seksama file-file yang sudah disiapkan untuknya. Bertemankan teh hangat Ardi masih terus mempelajarinya. Menandai apa yang dia tidak mengerti sehingga memudahkannya untuk bertanya pada yang bertanggung jawab disetiap divisinya.


" Di, ayah pergi rapat direksi sebentar. Nanti kalau memungkinkan ayah kembali lagi kesini. Tapi jika tidak nanti malam kita lanjutkan di rumah di ruang kerja ayah. " Kata pak Presdir sembari merapikan jas dan dasinya.


" Iya yah. " Jawab Ardi singkat.


Pak Presdir meniggalkan Ardi di dalam ruangan itu sendirian. Merasa lelah dia meregangkan badannya.


" Hoooaaamm..! " Ardi menguap. Cukup menguras tenaga dan perasaannya hari ini.


" Jam dua dua puluh tujuh menit. Pantes perut udah keroncongan. " Ardi membaca jam ditangannya.


Sebenarnya pas jam makan siang tadi Pak Presdir sudah menawarkan makanan. Tetapi, karena suasana hatinya masih sedikit kurang baik dan masih serius membaca file-file perusahaan ayahnya, dia melewatkan makan siangnya.

__ADS_1


Ardi merapikan kembali file-file itu dan meletakannya di meja kerja ayah. Mengeluarkan HP dari saku celananya Ardi mengirim pesan WA ke ayah kalau dia harus kembali ke kantornya untuk membereskan beberapa file dan mengambil beberapa barang yang ada diruangannya itu.


__ADS_2