
Braaakk!! Pintu kantor wakil Ceo dibuka paksa.
Seorang pria berbadan tinggi dan tegap menghampiri meja wakil Ceo yang masih tertegun. Tanpa aba-aba pria itu mencekram jas mewah Ardi dan bogem mentah mendarat tepat di pipi kirinya.
Bugh! Bugh! Bugh! Baku hantam terjadi.
Ardi tidak tinggal diam. Dia pun membalas menyerang pria berbadan tegap itu. Iqbal yang panik langsung menghubungi keamanan.
" Halo! Segera merapat ke ruang wakil Ceo. Segera!" Teriak Iqbal di telpon.
Drap! Drap! Drap! Beberapa pria berjas hitam berlari menuju ruangan Ardi.
" Siapa kamu sebenarnya? Kenapa tiba-tiba datang membuat onar di kantorku?" Tanya Ardi dalam posisi leher terkunci lengan pria tegap itu.
" Siapa aku? Kamu tidak mengenalku? Sebelum bermain api seharusnya kamu kenal aku terlebih dahulu." Jawab pria itu.
Bersamaan dengan pria berjas hitam, Dara dan Rizal juga sampai di kantor Ardi.
" Mas Doni! Lepaskan kak Ardi!" teriak Dara.
" Apa? Mas Doni?" tanya Ardi heran.
" Kenapa? Heran? Sekarang kamu sudah tahu siapa aku?" Doni melepaskan kunciannya.
Dara berlari memeluk kekasihnya, ada luka lebam di bawah matanya dan juga ada darah disalah satu sudut bibirnya.
" Kamu gak apa-apa, Kak?" tanya Dara cemas. " Mas Doni! Apa-apaan sih? Baru pulang dari luar negeri malah mukulin orang." Dara kesal.
" Pria hidung belang seperti dia pantas di pukuli, Ra. Kamu ngapain peduli sama dia? Sini kamu.... jangan deket-deket dia." Doni mencekram lengan Dara, tapi kemudian langsung ditepis oleh Dara.
" Dia bukan pria seperti itu!" Dara geram. " Makanya jangan langsung ambil kesimpulan sebelum tahu kebenerannya."
Flashback on
Di kantor Doni.
Seperti biasa setelah masuk kantor Doni memeriksa email di laptopnya. Setelah dirasa tidak ada hal yang penting lagi dia pun membuka laman web berita. Dalam hitungan detik berita yang sedang viral di media online pun langsung terpampang di layar tipis itu.
Doni menekan tombol interkom, menghubungi sekretarisnya.
" Tolong siapkan pesawat, satu jam lagi saya akan berangkat ke Indonesia."
" Baik, Pak."
__ADS_1
Lalu dia pun mengeluarkan ponselnya, menekan tombol panggilan cepat dan meletakkan benda pipih itu ditelinganya.
" Halo sayang, sekarang kamu kemas baju-baju ke dalam koper. Kita akan pulang ke Indonesia."
" Kok mendadak sayang? Kenapa?"
" Iya, soalnya ada urusan mendadak juga. Kamu siap-siap ya. Jangan lupa perlengkapan anak kita juga. Sebentar lagi aku suruh supir kantor jemput kamu."
Dengan waktu tempuh kurang dari 2 jam, akhirnya Doni beserta anak istrinya sampai ke Indonesia.
" Sayang, kamu langsung pulang ke rumah mama papa ya. Kasihan El pasti kecapekan. Aku pergi dulu, ada urusan sebentar."
" Ok! Kamu hati-hati ya sayang."
Doni mengantar istri dan anaknya masuk ke dalam mobil kantor yang sudah menunggu dari tadi. Sementara dia menggunakan mobil yang lain.
" Halo, Zal. Gue udah ada di Indo. Sekarang gue lagi di jalan mau ke gedung pusat BR group."
" Ngapain lu ke BR group? Bukannya pulang dulu ke rumah. Istirahat dulu."
" Gak ngapa-ngapain, cuma mau kenalan sama cowok yang katanya mau nikahin adek gue tapi malah pelukan sama cewek sexy di depan umum."
" A-Apa? Jangan bercanda lu, Don."
" Tunggu! Tunggu gue! Lu jangan berbuat macem-macem."
" Ok! Gue bakal tunggu lu. Pesta perkenalan gak akan rame kalo gak ada lu. Hehehe."
Sambungan telpon terputus.
Rizal yang mengerti betul sikap Doni, dia langsung menemui Dara.
" Ra, Doni udah pulang dari luar negeri. Sekarang dia lagi menuju ke kantornya Ardi." Kata Rizal.
" Ngapain mas Doni ke kantor Adi?" tanya Dara heran.
" Katanya dia mau kenalan, tetapi menurutku itu bukan kenalan dalam arti yang sesungguhnya. Soalnya tadi Doni juga nyinggung tentang Ardi yang pelukan sama cewek."
" Aduh! Pasti mas Doni kemakan sama berita online yang lagi viral sekarang." Dara cemas. " Sekarang gimana dong, Mas? Aku takut kak Ardi diapa-apain sama mas Doni."
" Ya udah, tinggalin kerjaan kamu. Kita susulin Doni sekarang."
" Baik, Mas."
__ADS_1
Falshback off
" Foto-foto itu sudah cukup menjelaskan semuanya, Ra. Dia terang-terangan menggoda gadis sexy di depan umum. Jangan naif kamu, Ra. Jangan mau kamu dibohongi olehnya."
" Kak Ardi bukan orang seperti itu! Karena aku ada di tempat kejadian!"
" Wow! Fantastic!" Doni terkekeh. " Kamu berada di tempat yang sama dengannya dan dia berani melakukan itu? Wow! Keren!"
" Don! Gue juga ada disana." Rizal mencoba melerai perdebatan sengit diantara kakak beradik ini. " Dan gue tahu betul, Ardi bukan pria hidung belang yang seperti lu kira."
" Ardi? Lu manggil dia Ardi? Sepertinya ada banyak cerita yang gue lewati."
" Iya. Ardi temen gue. Sebenarnya sebelum gue tahu kalo dia pewaris tunggal BR group, kita udah temenan." Terang Rizal.
" What? Lu masih nganggep dia temen setelah dia menyusup ke perusahaan bokap lu selama beberapa tahun terakhir?"
" Tapi gue udah periksa semua data perusahaan dan semua aman. Tidak ada kerugian ataupun kecurangan yang dia lakuin selama dia bekerja di perusahaan papa. Justru perusahaan banyak mendapatkan keuntungan karenanya."
" Itu hanya akal-akalan dia aja. Setelah ini pasti dia bakal mencuri semua klien kita."
" Cukup! Mas Doni Cukup! Mas Doni tega sama aku. Mas Doni tega memfitnah calon suamiku!" pekik Dara.
" Ra, aku gak memfitnah cowok yang ada disampingmu itu. Aku hanya berbicara sesuai apa yang aku lihat."
" Tapi, Mas Doni..." Dara bingung harus menjelaskan apa lagi ke kakak tersayangnya itu.
" Mas Doni, saya akan membuktikan kalau apa yang mas Doni tuduhkan ke aku itu salah. Dan saya tidak pernah sekalipun punya niatan untuk mempermainkan Dara." Ucap Ardi.
" Bagus! Aku pegang janji kamu! Tapi jika ternyata semua itu benar... jangan sekali-kali kamu mendekati Dara lagi dan jangan harap kamu akan lepas dari pengawasanku." Ujar Doni yang kemudian meninggalkan ruangan itu, lalu disusul oleh Rizal yang berjalan di belakangnya.
Dara membantu Ardi bangun dari tempatnya tersungkur. Dia memapah membantunya berjalan ke kursi kerjanya.
" Iqbal, tolong ambilkan kotak P3K." Pinta Dara.
" Baik."
Dara mengusap lembut wajah kekasihnya.
" Maafin mas Doni ya, Kak. Sebenarnya dia orang yang baik dan penyayang kok. Dia hanya sedang termakan rumor miring itu. Jadi, mata hatinya tertutupi oleh amarah." bela Dara.
" Iya, aku ngerti. Dia hanya sangat mencintaimu, mencoba menjagamu dari segala macam hal yang bisa melukaimu."
" Terima kasih untuk pengertiannya, aku akan coba menjelaskan semuanya ke mas Doni. Sehingga kesalahpahaman ini usai."
__ADS_1
" Terima kasih kamu sudah percaya kepadaku."