
Ardi berjalan menyelusuri sebuah lorong. Suasananya gelap hanya diterangi oleh cahaya bulan. Dia tidak tahu kemana dia berjalan, dia hanya mengikuti kakinya melangkah.
Dia menuruni sebuah tangga. Berjalan menghampir sepasang sosok lelaki dan perempuan yang sedang berdiri ditengah ruang pesta yang sudah sepi.
" Bukankah itu Dara dan Fandy ? " batin Ardi.
Ardi berdiri tidak jauh dari mereka. Bersembunyi diantara pilar dekorasi pesta. Dia ingin mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
" Ra, aku janji..aku akan berubah.." Fandy menggenggam kedua tangan Dara.
Dara berdiri mematung.
" Aku janji. Tidak ada Fandy yang dulu. Fandy yang sekarang telah berubah, Ra. "
Dara menghempaskan tangan Fandy.
" Ra, plis..! Aku mohon sama kamu....beri aku kesempatan sekali saja...berikan aku kesempatan untuk berubah dan memperbaiki semuanya. Aku sangat mencintaimu sayang.." Fandy mendekat dan membelai rambut Dara.
" Tapi cintamu menyakitiku..hiks.." Dara terisak.
" Kamu membuatku tidak bisa bergerak dan bernafas."
" Ssttt..." Fandy mengusap air mata yang jatuh di pipi Dara.
" Maaf jika kamu merasa seperti itu. Aku hanya sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu. Kamu sangat berarti dihidupku, sayang. "
Dara melihat mata Fandy, seperti mencari pancaran ketulusan disana.
" Ra..." Fandy kembali menggenggam kedua tangan Dara dan meletakannya di atas dadanya.
" Coba kamu rasakan debaran jantung ini. Dia berdebar hanya karena dirimu. Aku hanya mencintaimu. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang membuatku menjadi gila ketika jauh darimu. Aku hanya ingin kamu benar-benar disisiku. Aku sangat takut kehilangan kamu, sayang. "
" Tapi jika kamu benar-benar mencintaiku tak seharusnya kamu berbuat itu ke aku. Aku merasa terkekang, Fan. Aku seperti burung dalam sangkar. "
" Iya sayang, aku minta maaf. Aku tak kan mengulanginya lagi. Aku janji..aku berjanji setulus hatiku. Aku akan berubah aku tidak akan mengekangmu lagi. Kamu boleh pergi atau main dengan siapa pun teman kamu, sayang. Asal kamu kembali kesisiku. Kembali kepelukanku, ya sayang. "
__ADS_1
" Entah aku tidak tahu.."
" Bukankah kamu yang selalu bilang, setiap orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik. Lalu kenapa kamu ragu memberikannya kepadaku ? "
" Aku bingung Fan. "
" Tidak usah bingung, sayang.." Tangan kanan Fandi membelai pipi kiri Dara.
" Coba tanya dengan hatimu yang paling dalam. Masih adakah aku disana ? Masih berdebarkah jantungmu ketika bersamaku ? Masih adakah rasa cinta untukku walau hanya sedikit ? "
Dara mengangguk.
Dada Ardi begitu sesak, dia sudah tidak tahan lagi. Dia berlari ke tengah ruang pesta itu mendekati Dara dan Fandy.
" Dara, jangan percaya dia ! Jangan percaya dengan kata-kata manisnya ! " Kata Ardi setengah berlari.
" Kak Ardi ! " Dara menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
" Plis, Ra ! Jangan dengarkan dia ! Itu semua tipu muslihatnya. Aku yakin dia tidak benar-benar berubah. " Kata Ardi mencoba menyadarkan Dara dari rayuan Fandy.
" Kamu yakin kan kalau setiap orang bisa berubah ? Begitu pula dengan aku. "
Dara tersenyum dan mengangguk.
Ardi melangkah lebih dekat dengan Dara. Tangan kirinya meraih tangan kanan Dara. Dan Dara langsung melihat tangan kanannya dan melihat siapa yang menggenggam tangannya.
" Ra, aku mohon.......Pikirkan baik-baik. Aku tidak mau kamu jatuh dalam jurang yang sama. " Kata Ardi menggenggam lebih erat tangan Dara.
Dara hanya melihat kearah Ardi dan Fandy secara bergantian.
" Ra, kamu sudah mengakui perasaan yang sesungguhnya ada dihatimu untukku. Walaupun itu harus mengulang dari awal akan aku lakukan untukmu. Akan aku buat kamu selalu jatuh cinta lagi dan lagi hanya padaku. " Fandy menarik perhatian Dara.
" Tidak akan aku biarkan ! " Ardi geram.
" Dia calon istriku ! Aku tidak akan membiarkanmu merampas Dara dariku. "
__ADS_1
" Calon istri ? " Fandy sinis.
" Bukan kah sampai detik ini Dara belum menjawabnya ? Kamu terlalu narsis. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Kemarin dia mencintaiku. Maka besok atau lusa bahkan selamanya dia hanya mencintaku. "
Ardi mematung karena perkataan Fandy. Memang benar sampai detik ini Dara belum menjawab pertanyaannya. Dan mungkin juga benar kalau sebenarnya selama ini cintanya tak terbalas.
Ketika Ardi sedang kalut dengan pikirannya sendiri tiba-tiba dia merasakan ada sebuah tangan yang berupaya melepaskan genggaman tangannya. Dan itu adalah Dara.
" Kak Ardi, terima kasih untuk cinta yang kamu tawarkan untukku. Terima kasih juga kamu sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku sangat menyayangi. Tapi...maaf hati ini hanya milik Fandy. " Dara melepaskan genggaman tangan Ardi.
" Ra, plis ! Aku mohon sama kamu..Kamu jangan pergi dengannya. Kamu boleh menolakku asal jangan pergi dengan dia. Dia tidak pantas untukmu, Ra. Aku akan mencarikan lelaki yang terbaik untukmu, Ra. Asal, plis ! Aku mohon jangan dia. " Ardi mencoba meraih tangan Dara kembali tetapi tidak bisa.
Dara sudah berjalan bergandengan tangan dengan Fandy. Sebelum menghilang dikegelapan Dara berkata sesuatu. " Kak Ardi ! Aku yakin diluar sana masih banyak perempuan lain yang lebih baik dariku dan lebih pantas menjadi pendamping hidupmu. Lupakan aku. Dan carilah Dia. Dia akan membuat hidupmu bahagia. "
" Dara, Tidak Dara !! Tidaaakk !! aku tidak mau orang lain. Aku hanya ingin kamu. Aku hanya mencintaimu. Dara aku mohon tinggal bersamaku. Dara jangan pergi. Tidaakk !! Jangan pergi dariku !! Dara !! " Ardi berteriak dan tersungkur dilantai.
Hosh ! Hosh ! Hosh ! Ardi terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya.
" Ya Tuhan ! Mimpi yang sangat nyata ! " batin Ardi.
Dia duduk ditepi ranjang. Menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Snut ! Dadanya merasa sakit ketika adegan dimimpi itu terlintas dipikirannya.
Ardi berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah mengeringkan mukanya dengan handuk dia mengambil HP yang berada diatas meja.
" Jam satu malam lewat dua puluh lima menit. Berarti sudah lebih dari satu jam setelah pesta selesai. "
Ardi berjalan kembali ke ranjangnya.
" Ah iya ! setelah kejadian itu aku meninggalkannya di teras bersama cowok brengsek itu. Aku dengar si cowok itu mempersembahkan lagu untuknya. Karena aku tidak ingin mendengar lagu itu aku memilih pergi dari ruangan aula. Dengan dalih aku akan mengantar Direktur Wawan ke parkiran karena beliau harus pergi ke kota S. Setelah itu aku menitip pesan kepada Iqbal kalau aku tidak bisa menemani mereka hingga acara selesai. " Ardi bergumam sendiri.
Dia kembali merebahkan tubuhnya. Dengan mata melihat langit-langit kamar pikiran Ardi menerawang jauh.
" Aku sangat suka gadis dengan kuncir kuda, apalagi itu kamu Dara. Sungguh mimpi ini terasa begitu nyata bagiku ! Disini masih merasakan sakit jika bayangan mimpi itu mulai terlintas. " Ardi memegangi dadanya.
" Ra, buang mantanmu jauh-jauh. Jangan pertemanan sebagai alasan untuk hubungan baru kalian. Aku yakin itu tidak sehat. Terlebih itu adalah Fandy. Dia akan kembali memanfaatkanmu dengan kenangan-kenangan yang dulu pernah kalian buat. Aku yakin itu ! "
__ADS_1