
Mama Tika membantu Dara untuk berdandan. Sesuai perintah Ardi, dia mengenakan gaun dan kalung yang sudah dibelikannya kemarin. Sebuah gaun brokat panjang yang cantik berwarna ungu pastel dengan lengan 3/4 dan leher bulat memperlihatkan tulang kecantikannya, membuat gadis yang terbiasa tampil casual itu terlihat anggun. Terlebih lagi rambut yang biasa dikuncir kuda kini dibentuk sanggul kecil dengan aksen rambut spiral di samping telinganya.
Kalung dengan inisial D kini terpasang di lehernya. Dan cincin yang dipasangkan oleh Ardi, sejak hari itu tidak pernah ia lepaskan sedetikpun. Benda itu selalu melingkar di jari manisnya.
Tok! Tok! Tok!
" Neng Dara, itu ayang bebebnya udah dateng," teriak Bi Odah.
" Iya, tunggu sebentar," balas Dara.
" Ayang bebeb? Hehehe.. Ada-ada aja Bi Odah," Mama Tika terkekeh dengan kelakuan asisten rumah tangganya. " Hayuk, mama anter ke depan."
Mama menggandeng tangan Dara keluar dri kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati, karena Dara menggunakan highheels.
Ardi yang sedang menunggu di ruang tamu depan sedang asik ngobrol dengan Papa Malik.
" Om titip Dara baik-baik ya," ucap.Papa Malik. " Dan jangan kemaleman pulangnya, ok?"
" Baik, Om," jawab Ardi.
" Di, pasangan pesatmu sudah siap," kata Mama Tika sembari menggandeng tangan Dara.
" Dara!" ujar Ardi lirih. Dia terpesona dengan penampilan kekasihnya.
" Kenapa, Di? Kok bengong begitu..," tanya Mama Tika. " Apa ada yang salah dengan Dara? Terlalu menor ya? Atau Daranya gak cantik?" goda Mama Tika.
" Gak kok tante. Cantik. Cantik banget malah." Ardi terus menatap Dara.
Pipi Dara makin merona warnanya karena mendengar pujian dari calon suaminya.
" Syukurlah kalo cantik. Tapi, kenapa kamu diam aja? Jadi pergi ke pesta gak nih?" goda Mama Tika lagi.
" Eh? Iya tante. Maaf tante..." Ardi salah tingkah. " Kita pergi yuk, Ra. Saya pinjam Daranya sebentar ya om, tante."
" Mah, pah, aku pergi dulu sebentar ya." Dara mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
" Hati-hati di jalan dan jangan ngebut ya, Di." pesan Papa Malik ketika Dara dan Ardi memasuki mobil.
Sepanjang perjalanan Ardi terus saja mencuri pandang ke arah Dara. Dia merasa tidak percaya, gadis kuncir kuda yang selalu berpenampilan cuek kini tampak cantik dan anggun.
__ADS_1
" Kenapa dari tadi lirik-lirik terus? Apa ada yang salah?" kata Dara. " Maaf ya, kalo kemenoran. Soalnya mama yang bantu dandanin."
" Gak! Kamu cantik banget kok."
" Bohong! Pasti ada yang gak beres." Dara membuka tasnya, mencari tempat bedak karena ada cermin disana.
" Udah! Kamu cantik kok. Beneran deh." Ardi meyakinkan Dara.
" Terus...kenapa dari tadi kak Ardi lirik-lirik terus sambil senyum-senyum?"
" Itu karena....ada gadis cantik duduk disampingku," goda Ardi. " Setahu aku, dulu gadis ini selalu berpenampilan cuek. Tapi hari ini dia mendadak menjelma menjadi seorang bidadari. Cantik banget."
Mendengar ucapan manis dari orang terkasihnya, Dara tertunduk malu.
" Kita sudah sampai." Ardi menghentikan mobilnya di depan lobby hotel.
Seorang valley hotel membukakan pintu Dara, lalu Ardi memberikan kunci mobilnya untuk membawanya ke tempat parkir tamu.
Dara memasuki ballroom hotel sambil memeluk lengan Ardi. Kilatan cahaya dari kamera memenuhi ruangan bernuansa gold itu. Tidak heran, karena acara amal ini banyak mengundang artis terkenal sampai pengusaha besar.
Tak! Tok! Tak! Tok! Seorang wanita cantik berkaki jenjang berjalan mendekati mereka berdua. Wanita berambut panjang itu mengenakan dress panjang dengan potongan leher v, sehingga sedikit nampak belahan dadanya.
" Baik." Ardi menjawab dengan singkat.
" Dara, kamu juga datang? Wah, benar-benar kebetulan yang sangat pas ya..," sapa wanita itu.
" Iya," jawab Dara sembari tersenyum balas menyalaminya.
" Siapa wanita ini? Dia sangat cantik. Kenapa dia kenal dengan aku? Sepertinya aku belum pernah ketemu dengannya. Tetapi, dari suaranya sangat familiar. Selebihnya aku tidak mengenalinya," batin Dara.
" Kenapa kamu diam? Kamu tidak mengenalinya?" tebak Ardi.
" Hmmm.." Dara menggeleng.
" Dia, Rina," ucap Ardi santai.
" Hah? Rina?" Dara terkejut.
" Iya, ini aku Rina. Kamu tidak mengenaliku?" kata Rina sembari tersenyum anggun.
__ADS_1
" Benar. Dia Rina. Lengkung bibirnya ketika dia tertawa itu masih nampak wajah yang aku kenal. Jika diperhatikan lebih teliti lagi, dibalik bibir merahnya yang merona masih terlihat sedikit membengkak. Lalu dibagian tulang pipi dan rahangnya juga masih sedikit membengkak. Tetapi karena riasan wajahnya yang sempurna, dia bisa menyamarkan itu semua," batin Dara.
" Aku hampir saja tidak mengenalimu, Rin. Kamu tampak berbeda sekali. Kamu sangat cantik dan anggun," puji Dara.
" Iya, Ra. Sepulang dari acara di puncak aku diharuskan melakukan operasi plastik untuk film pertamaku," terang Rina.
" Film pertama? Wah! Kamu hebat, Rin. Sekarang kamu jadi bintang film."
" Iya, semua tidak lepas karena jasa tunanganku. Candra Wijaya. Dia kebetulan punya kedekatan emosional dengan sutradara filmku. Jadi, aku bisa mendapat peran utama difilm itu."
" Wah! Kamu benar-benar sangat beruntung, Rina. Aku sangat iri denganmu."
" Ah! Itu hal yang biasa, Ra. Dewi keberuntungan memang selalu menyertaiku." Rina menunjukan senyum termanisnya.
" Baiklah, ngobrolnya dilanjutkan lain waktu. Aku dan Dara akan menyapa kedua orang tuaku dulu. Permisi," ucap Ardi yang langsung menggandeng tangan Dara.
" Kita nanti ngobrol lagi ya, Rin..," kata Dara sembari melambaikan tangannya.
" Iya, tentu," jawab Rina dengan tersenyum.
Seketika raut wajah Rina berubah, dia mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya.
" Aw! Sakit! Bekas operasinya masih terasa sakit. Sudah dari tadi aku menahan rasa sakit disekujur tubuhku ini agar tampak cantik didepanmu. Tapi, kamu tidak merespon apapun dengan penampilan baruku ini. Awas kamu Ardi!" batin Rina.
Ardi dan Dara menyalami Ayah Adit dan Ibu Heni yang kebetulan juga sedang berbincang dengan para pengusaha yang lain. Dara yang merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka obrolkan dia pun minta ijin ke Ardi untuk pergi dari ruangan itu sejenak.
Dara pergi arah balkon yang tempatnya tepat disamping ballroom itu. Hamparan lampu-lampu dari gedung seperti merefleksikan cahaya bintang di langit. Dara sangat takjub dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya.
" Walau hanya lampu, tapi kalau dilihat dari kejauhan seperti ini mereka sangat cantik," gumam Dara.
" Ternyata kamu masih seperti yang dulu ya, Ra. Gampang terpesona dengan hal-hal yang sederhana." Fandi tiba-tiba datang mendekat.
" Fandi? Kamu ngapain disini?" tanya Dara heran.
" Aku? Sedang mencari promotor untuk Jaksel band. Kamu tahu kan, sekarang di acara ini banyak pengusaha besar yang hadir. Jadi kita disini ya untuk itu," jawab Fandi menyeringai.
" Kita? Lalu mana teman-teman bandmu yang lain?"
" Mereka? masih di dalem lagi ngobrol bla bla bla entah sama siapa itu. Sangat membosankan. Tapi, kemudian aku melihat wanita cantik sedang berjalan sendirian. Ya sudah aku ikutan aja deh."
__ADS_1