Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 87


__ADS_3

Seperti titah Ayah Adit semalam, pagi ini Ardi dan Dara menuju rumah Eyang untuk berlibur. Sepanjang perjalanan Ardi terus menggenggam tangan istrinya, sampai Dara dibuat salah tingkah olehnya.


“Kamu kenapa sih, Kak? Dari tadi megangin tangan aku terus. Kita kan lagi di dalam mobil sekarang. Bukan lagi mau nyebrang jalan,” kata Dara.


“Gak apa-apa. Pengen seperti ini aja. Memang gak boleh seorang suami menggenggam tangan istrinya sendiri?”


“Gak salah, sih. Cuma... kamu memang sesayang itu sama aku, Kak?”


“Kalau gak sayang mana mungkin aku nikahin kamu. Gak mungkin juga aku berusaha meyakinkan Mas Doni untuk memberi restunya pada kita. Sampai akhirnya dia menjadi saksi dipernikahan kita,” papar Ardi.


Kedua sudut bibir Dara tertarik kebelakang. Pipinya memerah merona. Kala ia mendengar untaian kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.


“Terus kenapa sekarang kamu mandangiku? Dan ada apa dengan senyummu itu?” tanya Ardi balik.


“Tidak ada, hanya saja... masih sedikit tidak percaya kalau lelaki yang ada di sampingku sekarang sudah sah menjadi suamiku,” jawab Dara.


“Jadi, dari dulu kamu juga sudah menyukaiku?”


“Sebenarnya waktu itu aku merasa sangat nyaman dengan Kak Ardi. Sesosok pria dengan sifat yang tidak aku temui dari diri kekasihku waktu itu.”


“Fandi maksudnya?”


“I-iya. Waktu itu aku sempat berandai-andai kalau saja yang aku temui pertama kali itu kamu, pasti aku tidak akan berpacaran dengan Fandi. Tapi, apakah kamu tetap akan melihat ke arahku? Sedangkan waktu itu ada Rina di sampingmu.”


“Aku tidak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi, bukankah karena mereka juga yang membuat kita akhirnya bersama sekarang? Mungkin seharusnya kita mengucapkan terima kasih pada mereka, karena sejatinya merekalah mak comblang yang sesungguhnya. Hahaha....”


“Kalau dipikir-pikir benar juga. Berkat orang yang salah kita menemukan jalan untuk menemukan orang yang benar. Oh iya, aku tidak melihat Rina di pesta pernikahan kita. Bukankah tunangannya itu kenalan bisnis Ayah? Tidak mungkinkan kalau Ayah tidak mengundangnya. Atau mungkin mereka berdua lagi sibuk jadi tidak sempat datang?”


“Cukup! Tidak usah diteruskan. Mau datang atau tidak, aku tidak peduli. Yang jelas sekarang kamu sudah sah menjadi Nyonya Seno Ardhibrata. Cup!” Ardi mendaratkan bibirnya di punggung tangan Dara yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

__ADS_1


“Sudah lepas. Rumah Eyang masih setengah perjalanan lagi. Aku ingin mengabari Mama kalau kita sedang liburan sekarang.” Dara bergegas menarik tangannya, lalu mencari gawai dalam tas jinjingnya.


Ardi melirik ke arah istrinya dengan pandangan penuh cinta, seulas senyum terukir di bibirnya sebelum ia memalingkan wajahnya kembali ke jalan. Kedua tangannya kini berada di atas setir bundarnya.


Beberapa waktu kemudian mereka pun sampai. Lia langsung menghambur ke luar rumah menemui kakak sepupu dan kakak ipar barunya itu. Ia menyalami Ardi, mencium punggung tangannya. Lalu ia berlari ke arah Dara, dipeluk dan digandeng mesra masuk ke dalam rumah.


Eyang sudah sedari pagi menunggu kedatangan cucu menantu kesayangannya ini. Tampak sekali dari raut wajahnya yang semringah. Dan kedua tangannya sudah ia rentangkan untuk memeluk tubuh gadis mungil berkucir kuda itu.


“Bagaimana keadaanmu, sayang? Sehat? Apakah di dalam perutmu sudah ada tanda-tanda kehidupan?” tanya Eyang seraya mengusap perut Dara yang rata.


“Eyang, mereka baru menikah beberapa hari. Paling tidak kita tunggu dulu sampai bulan depan,” timpal Tante Suci.


“Benar juga. Eyang sudah tidak sabar menggendong cucu baru. Hehehe...,” kata Eyang terkekeh. Tapi tidak dengan Dara, justru ia tersipu malu.


“Sudah, Eyang. Biarkan mereka beristirahat. Pasti mereka sangat lelah setelah perjalanan jauh. Lagi pula mereka ke sini kan untuk berlibur. Masih ada waktu untuk mengobrol lagi nanti,” kata Tante Suci.


“Mm.” Dara mengangguk, menuruti perintah Eyang.


“Selamat ha-ha... ha apa itu orang yang baru menikah?” tanya Eyang.


“Honeymoon, Eyang,” celetuk Lia, yang baru selesai menaruh bawaan Ardi dan Dara di kamar.


“Ya! Honeymoon. Selamat honeymoon, sayang,” kata Eyang dengan senyum lebarnya.


“I-iya, Eyang. Terima kasih,” jawab Dara. Pipinya semakin merona merah.


Dara mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Sebuah ranjang besar dengan kain kelambu warna biru menjuntai di kedua sisi pilar. Lemari kayu dengan ukiran bunga bertengger di salah satu sisi tembok dekat pintu. Dan meja rias berada di sisi yang lainnya.


Dara berjalan mendekati meja rias. Dia meletakkan tas jinjingnya di sana. Di atas meja rias ada beberapa bingkai foto. Dara mengambil salah satunya, ternyata itu gambar suaminya waktu masih kecil dulu. Dia mengenalinya karena itu adalah foto yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu, saat pertunangan Lia. Dan di sampingnya ada bingkai foto yang lain. Orang-orang berjajar rapi dalam foto itu. Hampir semua orang yang tergambar di sana Dara mengenalinya, tetapi ada salah satu anak lelaki dalam foto itu yang membuatnya mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Sedang apa kamu, Ra?” tanya Ardi ketika masuk ke dalam kamar.


“Tidak, aku hanya melihat foto-foto lama. Pasti semua ini Lia yang menyiapkan.” Dara menaruh kembali bingkai foto itu.


“Tentu, dia menyiapkan semua ini untuk kita. Untuk kakak ipar tersayangnya,” kata Ardi seraya berjalan mendekati Dara dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping istrinya.


Dara tidak kalah berani. Ia melingkarkan tangannya ke leher Ardi. “Oh ya? Sepertinya aku sudah mengambil hati semua anggota keluarga ini. Apa kamu tidak merasa iri? Mereka semua menyayangiku, Kak.”


“Untuk apa aku merasa iri. Justru aku merasa bahagia. Karena wanita yang aku cintai juga dicintai oleh keluarga besarku,” kata Ardi.


Mereka saling bertukar pandangan. Perlahan wajah mereka semakin mendekat. Kemudian sudah tidak ada lagi jarak di antara kedua bibir sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara itu. Curahan kasih sayang membakar raga mereka. Hingga, suasana yang dingin tak terasa lagi di tubuh mereka.


Ardi dan Dara sedang berbaring di atas ranjang saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. “Iya, siapa?” teriak Dara.


“Ini Lia, Teh. Kata Eyang, A Ardi dan Teteh makan dulu. Makanan sudah siap di meja makan,” terika Lia dari balik pintu.


“Iya, sebentar lagi kita ke sana. Terima kasih, Li,” jawab Dara sedikit berteriak.


“Cup!” Dara mendaratkan bibirnya di atas pipi suaminya. Ia berusaha membangunkan suaminya yang sedang terlelap.


“Bangun yuk, Kak,” kata Dara membelai lembut rambut Ardi. “Eyang menyuruh kita makan. Makan dulu yuk, aku juga sudah merasa lapar.”


Ardi melingkarkan kembali tangannya ke pinggang Dara, lalu menariknya hingga menempel pada dada bidangnya. Dia membenamkan wajahnya di sana, seperti kucing yang sedang bermanja-manja dengan majikannya.


“Aku masih ingin bermalas-malasan denganmu, Sayang,” ucap Ardi manja. Dara mengacak-acak rambut suaminya gemas.


“Kita bisa lanjutkan lagi nanti malam,” bisik Dara lirih di telinga Ardi.


Mendengar ucapan istrinya, Ardi langsung melepaskan kecupan ke kening Dara.

__ADS_1


__ADS_2