Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.81


__ADS_3

" Seperti bau terbakar disini," celetuk Rizal.


" Apaan sih?" elak Fandi.


" Kenapa? Butuh hiburan?" goda Rizal. " Mau gue ceritain sesuatu gak? Kaya si kancil curi timun?Atau cerita kapten tsubasa? Atau cerita tentang patah hati?"


Fandi baru saja ingin melangkah pergi, tapi lengan Rizal menahan bahunya. " Mau kemana? Temenin gue disini. Kan kita sama-sama orang yang lagi patah hati. Tuh lihat disana! Cewek yang kita cintai sudah menjadi istri orang lain dan dia sangat berbahagia sekarang. Seharusnya kita pun berbahagia untuknya. Benarkan?"


Fandi menepis lengan Rizal yang ada dibahunya. Lalu dia melipat kedua tangannya didepan dadanya. " Gak! Gue gak bisa terima ini. Gue bakal..."


" Bakal ngapain?" potong Rizal. " Awas aja kalo lu ngerusak acara ini! Gue bakal bikin lu dan band lu ancur total. Liatin aja!"


Fandi mendengus kesal. Kembali disimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


" Ayo kita ke depan! Kita beri selamat sama mereka," ajak Rizal, dia menarik paksa lengan Fandi. " Ayok!"


" Kenapa gak sendiri aja sih?" celetuk Fandi kesal.


Rizal nyengir melihat reaksi Fandi. " Kan biar ada temennya."


Di panggung pelaminan Doni, April beserta baby El memberi ucapan selamat kepada sepasang mempelai, yang tak lain adiknya sendiri.


" Selamat menempuh hidup baru untuk adik tersayangnya mas Doni," ucap Doni seraya memeluk Dara.


" Makasih ya, Mas. Makasih udah mau terima kak Ardi. Tapi kenapa mas Doni bisa berubah pikiran secepat itu? Mas Doni gak lagi ngerencanain yang macem-macemkan buat kak Ardi?" selidik Dara.


" Ya enggak lah," Doni mencubit gemas hidung adiknya. " Maaf kalo selama ini mas salah. Ardi memang yang terbaik buat kamu. Tapi jika suatu hari Ardi bikin kamu nangis, aku adalah orang yang pertama yang akan menghajar dia."


" Gak, Mas!" kata Ardi. " Aku akan menjaga Dara sesuai janjiku."


" Tapi jangan lupa juga untuk membuat adik sepupu untuk baby El ya," celetuk April mengangkat kedua alisnya.


Blush! Rona merah di pipi Dara semakin merona menahan malu mendapat godaan dari kakak iparnya.


" Ya ampun, April! Lihat mereka berdua malu-malu kucing gitu," timpal Rizal yang baru saja tiba di atas panggung pelaminan.


" Hahahaha..." mereka bertiga tertawa terbahak-bahak melihat kedua mempelai yang salah tingkah, sementara Fandi terus menekuk wajahnya tidak senang.


" Selamat untuk pernikahanmu ya, Ra. Semoga selalu bahagia dan jika kamu udah bosen dengan Ardi, kamu bisa pergi mencariku," ucap Rizal.

__ADS_1


Pletak! Doni mendaratkan tamparan manis di atas kepala Rizal.


" Adaw! Don! Yang sopan dong! Walaupun jabatan lu lebih tinggi dari gue, tapi kan gue kakak sepupu lu. Jangan asal gaplok aja dong!" gerutu Rizal.


" Makanya kalo ngomong yang bener. Saring pake saringan kopi. Ini nih yang bikin gue langsung black list lu dari daftar calon suaminya Dara, kalau ngomong gak bisa dikontrol," komentar Doni.


Sementara Dara hanya terkekeh melihat kedua kakaknya bertingkah konyol dihadapannya.


" Udah! Udah! Pokoknya kalian berdua adalah kakakku yang paling the best," ungkap Dara. " Dan untuk mas Rizal, aku yakin di luar sana sudah ada perempuan terbaik yang sudah Tuhan ciptakan untuk mas Rizal. Semoga kalian segera dipertemukan."


" Iya, Ra. Makasih buat doanya," kata Rizal.


" Heh! Bocah! Ngapain lu diem aja dari tadi?" ucap Rizal kemudian. " Gak mau ngasih ucapan selamat ke Dara? Ya walaupun gue tahu di dalam hati lu masih sangat mengharapkan Dara, tapi menurut gue mulai dari sekarang lu harus belajar ikhlas."


" Emang lu udah ikhlas?" celetuk Doni.


" Belum! Masih terus berusaha," ucap Rizal seraya menampakan muka sedih.


" Ayok buruan ngomong! Jangan diem aja!" perintah Rizal ke Fandi.


" Ra, Pak Bos, selamat menempuh hidup baru ya. Semoga samawa sampai surga," kata Fandi sedikit lesu.


" Aamiin!" kata Rizal kencang. " Lu tahu gak kenapa gue pas ngomong 'Aamiin'nya kenceng?"


" Itu karena doa orang-orang yang teraniaya akan dikabulkan. Dan kita berdua adalah orang yang hatinya teraniaya karena tidak bisa mendapatkan cintanya Dara," ucap Rizal sambil merangkul bahu Fandi.


" Mas Rizal, cukup!" kata Dara. " Udah! Jangan diteruskan! Makasih ya Fan udah mau dateng."


" Sama-sama, Ra," jawab Fandi singkat.


Dari sisi lain tempat pesta, semenjak tadi mata Febri terus tertuju pada panggung pelaminan.


" Kamu boleh bahagia sekarang, tapi sebentar lagi senyuman yang menghiasi bibirmu saat ini akan segera berubah jadi tangisan esok hari. Lihat saja," batin Febri.


" Teh, hayuk. Sekarang giliran kita buat ngasih selamat ke pengantin," ucap Lia membuyarkan lamunan Febri.


" Oh iya, Li. Ayo," kata Febri.


Dengan Eyang memimpin barisan terdepan, lalu diikuti oleh Tante Suci, kemudian Lia dan Febri dibarisan paling akhir.

__ADS_1


" Selamat ya neng geulis, sekarang udah resmi jadi cucu menantu Eyang. Eyang doain semoga keluarga kalian sakinah mawadah dan warahmah. Serta diberkahi keturunan yang soleh dan solehah," kata Eyang.


" Aamiin, Eyang. Terima kasih untuk doanya," ucap Dara.


" Aamiin," kata Ardi lirih.


" A, jagain neng Dara baik-baik. Eyang tahu kamu sangat susah mendapatkan restu dari kakaknya neng Dara, maka dari itu jangan sampai kamu sia-siain neng Dara. Bahagian dia, hujani dia dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Jangan cuek sama istri! Kalau sampe Eyang denger kamu bikin neng Dara nangis, Eyang maju paling pertama," kata Eyang menggebu-gebu.


" Iya, Eyangku yang paling cantik. Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi cucu menantu kesayanganmu ini," ujar Ardi.


" Bagus! Bikin anak yang banyak agar rumah Eyang rame," kata Eyang sembari berlalu.


Tante Suci yang melihat tingkah ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul. Dia mengucapkan selamat sambil memeluk kedua mempelai yang berbahagia.


" Hai, Li!" sapa Dara sumringah.


" Selamat ya, Teh. Samawa till jannah sama A Ardi," kata Lia.


" Makasih, kamu segera nyusul ya,"


" Insya Allah, minta doanya ya, Teh,"


" Hai, Ra. Happy Wedding," kata Febri sembari menyalami Dara.


" Makasih,"


" Oh iya, minta fotonya dong buat kenang-kenangan," kata Febri, mencari ponsel di dalam tas jinjingnya.


Berdiri diantara kedua pengantin. Cekrek! Cekrek! Mengambil beberapa pose. " Aku pinjem Ardinya bentar ya, Ra," ucap Febri, tanpa menunggu jawaban dari Dara.


Febri memeluk lengan Ardi erat, menempelkan kepalanya dibahu Ardi. Cekrek! Dia mengambil gambar lagi dengan ponselnya.


" Thank you ya, Di. Selamat menempuh hidup baru buat kalian berdua. Bye.." kata Febri, melambaikan jari lentiknya.


" Senangnya yang abis dipeluk-peluk," ledek Dara, yang sebenarnya merasa seperti ada kupu-kupu yang terjebak di dalam dadanya.


" Halah! Bilang aja cemburu," goda Ardi.


" Emang kenapa? Aku punya hak penuh atas diri kak Ardi sekarang,"

__ADS_1


" Iya, Nyonya Seno Ardibratha. Hati dan raga ini hanya milikmu seorang."


Senyum kembali merekah di bibir Dara.


__ADS_2