Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.43


__ADS_3

Cip! Cip! Cip!


Bulan sudah turun dari tahtanya, kini berganti dengan matahari yang memancarkan kasih hangatnya. Dara masih meringkuk di tempat tidurnya tanpa mengganti baju yang dia kenakan kemarin. Dia terlalu lelah dengan semua yang telah terjadi kemarin.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membawa kembali jiwa Dara dari dunia mimpi kedalam raganya. Masih dipenuhi dengan rasa kantuk gadis berkuncir kuda ini menggosok matanya dengan punggung tangan.


Hooaamm! Dara menutup mulutnya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.


" Siapa?" Tanya Dara menyingkap selimutnya.


" Ini saya, Neng. Pak Yogi. Tadi nyonya telpon katanya HP neng Dara tolong dinyalain,dari tadi nyonya mau telpon gak bisa." Ucapnya dari balik pintu.


" Iya, Pak! Makasih ya."


" Sama-sama, Neng."


Dara turun dari tempat tidur dan masih sedikit linglung. Dia masuk ke kamar mandi dan membasuh mukanya agar merasa lebih segar. Dengan handuk yang melingkar di leher Dara mengeringkan mukanya.


Dara berjalan ke meja riasnya. Semalam dia menaruh tas kerjanya disana. Dia membuka resleting tas itu mencari benda pipih berbentuk kotak di dalamnya.


" Hmm..Pantes! Batrenya abis." Kata Dara yang sudah berulang kali menekan tombol power gawainya.


" HPnya dicas dulu bentar deh..sembari itu aku pergi mandi dan siap-siap buat ke kantor."


Dara meninggalkan HP diatas nakas untuk diisi dayanya. Setelah itu dia bergegas mandi dan berganti baju. Kini dia sudah didepan meja riasnya.


Memoleskan bedak dan gincu dibibirnya yang ranum. Kali ini dia membiarkan rambut lurusnya tergerai. Tak lupa Dara memasukan beberapa ikat rambut kedalam tasnya, buat jaga-jaga nanti di kantor.


Dara sudah rapi. Dia berjalan kearah nakas samping tempat tidur untuk memeriksa sudah berapa persen batrei gawainya terisi.


" Hmm..baru 30% yang terisi. Yudah nanti dilanjut di kantor aja." Dara memasukan benda pipih itu ke dalam tasnya.


Dara menuruni anak tangga menuju meja makan. Diolesnya beberapa lembar roti tawar dengan selasai stowberi kesukaannya, lalu dia memasukannya dalam kotak bekal.


Tin! Tin! Klakson mobil terdengar dari luar rumah.


Ternyata Pak Yogi sudah bersiap di depan gerbang. Dara segera berlari keluar rumah menuju mobil.


" Makasih ya, Pak Yogi." Kata Dara yang kini sudah duduk dikursi belakang.


" Sama-sama, Neng. Sudah siap berangkat?"

__ADS_1


" Iya, Pak."


Pak Yogi pun menginjak pedal gasnya meninggalkan rumah mewah itu menuju kantor.


Drrtt! Drrrtt! Drrtt! HP Dara berdering.


Dara memasukan tangan kanannya mencari benda pipih itu di dalam tas.


" Mama. Oiyah..lupa aku." Ucap Dara ketika melihat nama penelpon dilayar HPnya.


" Iya, halo ma...."


" Halo sayang...... Gimana kabar kamu? Kamu sehatkan? Semua baik-baik saja kan, Nak?"


" Alhamdulillah.. Aku sehat, Ma. Semua juga baik-baik aja. Rumah aman terkendali. Hehehe.." Dara terkekeh.


" Mama sama Papa gimana disana? Sehat juga kan? Terus keadaan Mas Doni sekarang gimana? "


" Syukurlah kalau begitu. Alhamdulillah Mama sama Papamu juga disini sehat, Nak. Mas Doni juga udah baikkan. Tapi Mama belum bisa pulang sekarang, mungkin dua atau tiga hari lagi baru pulang."


" Kok gitu? Aku sendirian dirumah." Dara merengek.


" Iihh udah gede..udah ada yang ngelamar masa ngerengek gitu..." Mama menggoda.


" Doni ada kerjaan penting dan gak bisa ditinggalin. Dan Papa juga ikutan diseret sama kerjaan pentingnya Mas Doni ini. Terus Mama juga belum puas jalan-jalannya."


" Siapa, Nak? "


" Aku....Aku menerima lamaran Kak Ardi, Ma. Maaf ya, Ma. Kalau aku menolak lamarannya Pakde Wawan. Karena memang aku gak punya perasaan apapun ke Mas Rizal. Bagi aku, dia itu kakak. Kedudukannya sama kaya Mas Doni. Tolong sampein ke Papa ya, Ma. Dan sampein maaf juga ke Pakde Wawan."


" Jika kamu sudah yakin dengan pilihanmu, Mama setuju saja sayang. Nanti Mama bilang sama Papamu. Dan nanti biar Papa yang menyampaikan maafnya ke Pakde Wawan.Tapi untuk Mas Doni...kamu tahu sendiri kan kakakmu seperti apa?"


" Iya, Ma. Dara tahu. Dan 5aku juga tahu kalau Mas Doni bersikap seperti itu karena dia sayang sama aku. Nanti aku pikirkan caranya buat ngomong ke Mas Doni, biar dia bisa menerima kak Ardi."


" Aamiin.. Insya Allah niatan yang baik akan dimudahkan jalannya. Dan Mas Doni pun menerima hubungan kalian."


" Aamiin. Oh iya Ma, keluarga kak Ardi mau datang kerumah. Kira-kira kapan kalian bisa ketemu?"


" Kalau itu, nanti Mama obrolin dulu sama Papamu ya sayang."


" Iya, Ma."


" Ya sudah..hati-hati di rumah ya sayang. Mama mau nemenin Mba April ke supermarket dulu. Bye anak cantiknya Mama."

__ADS_1


" Bye , Ma. hati-hati ya...Daaahhh..."


Dara memutuskan sambungan telponnya. Memasukan kembali gawainya kedalam tas.


" Aku yakin Mas Doni bakal menerima kak Ardi jika mereka sudah saling ketemu. Karena aku tahu apa yang diinginkan Mas Doni dari seorang laki-laki yang akan menjadikan aku istrinya, itu ada dalam diri kak Ardi. Aku yakin itu." batin Dara.


Mobil yang dikendarai Pak Yogi sudah memasuki area parkir kantor cabang. Dara merapikan pakaian dan juga rambutnya sebelum turun dari mobil.


" Makasih ya Pak Yogi. Nanti gak usah dijemput. Motorku masih ada diparkiran kantor."


" Baik, Neng. Pulangnya nanti hati-hati ya, Neng."


" Iya, Pak. Hati-hati dijalan ya, Pak."


Dara segera memasuki kantor dengan setengah berlari karena waktu sudah mepet. Dia lekas menuju meja kerjanya. Sudah ada beberapa file yang tertumpuk dimejanya.


" Ya ampun. Sarapan macam apa ini?" Ucap Dara sambil menghitung jumlah map yang tertumpuk dimejanya.


" Tujuh buah map mendarat dengan tidak indah dimejaku."


Dara menyalakan komputernya. Dia memilah-milah file mana yang akan dikerjakannya terlebih dahulu, terutama yang deadlinenya singkat.


Satu jam telah berlalu. Dara mulai merasa sedikit pegal pada bahunya dan juga tenggorokannya mulai terasa kering. Dia pun berjalan ke arah pantry untuk mengambil teh manis hangat kesukaannya.


Ketika berjalan melawati meja Novi, Dara baru menyadari bahwa sahabatnya yang satu ini tidak ada dimejanya.


" Novi gak masuk? Pantesan dari tadi dunia terasa damai. Kemana dia? Kok tumben banget gak ngabarin kalo gak masuk." gumam Dara.


Dara kembali ke meja kerjanya. Dia mengeluarkan HP dari dalam tasnya. Mencari nomor Novi didaftar kontaknya, lalu dimenekan tombol hijau.


Tut! Tut! Tut! Nada telpon tersambung.


" Halo...." Jawab Novi dari sebrang telpon.


" Halo, Nov. Kenapa lu, kok gak masuk kerja? Sakit lu gara-gara kemarin kecapean jalan-jalan?"


" Iya nih, Ra.. Gue sedikit meriang. Jadi gue ijin beberapa hari. Kenapa emang? Ada kerjaan penting ya, Ra?"


" Gak! Gak ada. Gue cuma kaget aja lu kemana, kok gak masuk gak ngabarin gue."


" Oh gitu. Ya udah ya, Ra. Gue mau istirahat dulu. Bye!"


" B....bye." Ucap Dara lirih.

__ADS_1


Novi memutuskan telpon sebelum Dara menjawabnya.


" Gak biasa-biasanya Novi seperti ini. Dia kenapa ya?" Ucap Dara sambil memandangi ponselnya.


__ADS_2