Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.78


__ADS_3

Ardi terbaring lemah diatas kasur pesakitan disebuah rumah sakit dengan selang infus yang menancap disalah satu sisi lengannya. Kini bajunya yang basah pun sudah digantikan dengan baju pasien.


Dengan melipat kedua tangannya di dada, Doni terus memandangi wajah kekasih adiknya itu penuh dengan tanya.


" Dokter mengatakan kalau ada zat kimia asing dalam tubuhnya. Dan zat itu menimbulkan efek halusinasi juga... meningkatkan gairah. Lalu bagaimana caranya benda itu masuk ke dalam tubuh dia? Apakah dia mengkonsumsi sesuatu sebelumnya?" gumam Doni.


" Don!" panggil Rizal yang seketika membuyarkan lamunan Doni. " Gue barusan dapet rekaman cctv di apartemen itu. Tapi, karena kamar adalah tempat privasi jadi tidak ada kamera disana. Kita tidak bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rina Rosa."


" Tidak masalah! Kita bisa melihatnya dari kejadian sebelumnya."


Flashback on


" Sayang, kamu sudah menyiapkan minuman spesial untuk tamu kita kan?" ucap Candra Wijaya sambil duduk menyilangkan salah satu kakinya dan dengan tangan kanan yang terus memainkan gelas winenya.


" Tentu dong sayang," jawab Rina Rosa sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu dari arah belakang. " Kan malam ini kita akan pesta bujang bersama calon pengantin."


" Cup!" Candra mencium tangan Rina. " Kamu memang wanitaku yang pintar."


Ting! Tong!


" Sepertinya tamu spesial yang kita tunggu sudah datang, aku akan membukakan pintu untuknya," ucap Rina dengan langkah jenjangnya dia segera melangkah ke pintu.


Ceklak! Pintu terbuka.


" Welcome, Ardi," kata Rina sambil memainkan rambutnya menunjukan salah satu sisi leher jenjangnya. " Silahkan masuk kedatanganmu sudah sangat kami tunggu."


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Ardi mengekor di belakang Rina. Sesampainya di ruang tamu apartemen itu Ardi bertemu dengan Candra Wijaya yang menemuinya hanya menggunakan kimono putih berbahan sutra.


" Welcome, Pak Ardi! Welcome!' ujar lelaki itu tanpa beranjak dari tempat duduknya. " Silahkan duduk, anggap saja seperti rumah sendiri. Wine?"


" Tidak! Terima kasih."


" Coffee?"


" Tidak perlu! Saya buru-buru."

__ADS_1


" Come on! Ini pertemuan pertama kita. Biarkan saya menjamu tamu saya dengan baik. Ok?"


" Ok!" jawab Ardi singkat.


" Honey, black coffee plis," kata Candra pada Rina yang sedari tadi berdiri di sampingnya. " Ok! Bagaimana persiapan pernikahan anda? Apa ada yang perlu saya bantu?"


" Tidak ada! Semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh WO. Dan saya kesini tidak butuh basa-basi anda. Segera jelaskan apa yang anda mau dari saya? Saya tidak suka orang yang bertele-tele."


" Wow! Ternyata seorang Seno Ardibratha itu orangnya sangat frontal sekali ya. Sangat to the point. Ok! Kalau begitu saya akan langsung pada intinya."


Rina datang membawakan secangkir kopi hitam ke hadapan Ardi.


" Tapi, sebelumnya silahkan nikmati dulu kopi hitam yang ada di depan anda. Ini adalah kopi hitam yang sangat spesial untuk tamu spesial saya hari ini. Silahkan diminum, Pak Ardi."


Tanpa rasa curiga Ardi menyesap kopi yang telah disajikan dihadapannya.


" Baik, Pak Ardi saya akan langsung pada intinya. Saya ingin Anda mundur dari project angkasapura."


" Jadi, Anda menyuruh saya kesini hanya untuk membicarakan hal bisnis?"


" Tentu saja! Sekalian mengadakan pesta bujang untuk Anda. Betulkan, sayang?" kata Candra seraya menarik salah satu tangan Rina yang ternyata kini sudah berganti dengan baju malam yang tipis, yang samar-samar menampakan lekuk tubuhnya.


" Sial! Sepertinya ada sesuatu di dalam kopi yang Rina suguhkan. Aku mulai merasa badanku panas. Dan ada yang mulai bangun dari tidurnya." batin Ardi.


" Kenapa, Di? Kenapa kamu berkeringat? Apa kamu sakit?" goda Rina.


Plak! Ardi menepis tangan Rina yang mengusap dahinya.


" Singkirkan tanganmu!" hardik Ardi. " Apa yang kamu campurkan dalam minumanku?"


" Bukan apa-apa sayang, hanya sedikit obat biar kita bisa senang-senang," goda Rina lagi.


" Ini!" Ardi menaruh sebuah kotak diatas meja. " Ku kembalikan padamu. Aku tidak butuh itu."


Rina meraihnya lalu membukanya. Ternyata itu adalah jam tangan yang dulu ia berikan ke Ardi.

__ADS_1


" Kenapa kamu tidak kamu simpan saja sebagai kenang-kenangan?"


" Tidak! Itu akan menjadi duri dalam daging untuk hubunganku dengan Dara."


Bruk! Ardi sudah tidak bisa menahan lagi gejolak yang ada dalam dirinya. Dia ambruk di kursinya.


Melihat Ardi yang sudah tidak berdaya dua sejoli itu berusaha memapah tubuh Ardi yang lunglai. Mereka membawanya ke dalam kamar. Dengan hati-hati mereka meletakkannya di atas kasur.


Rina mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi. Menempelkan pipinya dengan pipi Ardi, lalu... Cekrek! Rina menggambil gambar dengan kamera ponselnya.


" Apakah setelah melihat foto ini Dara masih mau menikahimu, Di?" ucap Rina lirih ditelinga Ardi.


" Honey, It's show time," Candra memberi aba-aba dan dia sudah siap dengan kameranya.


Rina menanggalkan bajunya, hingga menyisakan pakaian dalamnya. Dia naik keatas tubuh Ardi, tapi tiba-tiba dia bangun dan mendorong badan Rina hingga jatuh.


" Ah!" pekik Rina kesakitan.


" Apa yang coba kalian lakukan?" tanya Ardi yang berusaha memperoleh kesadarannya kembali.


" Rileks! Kita hanya ingin menyiapkan pesta bujang untukmu," ucap Candra.


Tanpa menghiraukan perkataan Candra, Ardi berjalan meninggalkan kamar itu. Candra yang tidak ingin mangsanya pergi dia pun berusaha menarik Ardi kembali ke kamarnya. Dengan sekuat tenaga Ardi melawan orang itu.


Baku hantam tak terelakan. Tahu dengan kondisi tubuhnya yang terpengaruh obat jahaman itu Ardi mencoba melindungi dirinya dengan melempar barang yang ada di dekatnya. Setelah lolos dari terjangan vas bunga kini sebuah asbak mendarat manis dipelipis Candra yang menimbulkan luka sayatan disana. Ardi terus melawan hingga dia mendapat kesempatan mengunci badan Candra dan memukul tengkuknya hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Rina yang melihat kejadian itu dia berusaha lari. Tapi dengan kondisinya yang tanpa busana dia tidak bisa keluar dari apartemen itu. Akhirnya dia mencoba melawan Ardi dengan melempar lampu tidur yang ada di dekatnya, tapi sayang lemparannya meleset. Hap! Ardi menangkap Rina dalam sekali langkah. Dia pun memukul tengkuknya hingga pingsan. Setelah itu dia mengikat kedua kaki dan tangan Rina dengan sprei.


Ardi masih merasakan hawa yang panas dari dalam tubuhnya. Dia berlari kearah kamar mandi. Dibukanya semua kran yang ada di kamar mandi. Baik itu kran wastafel, kran bathup, dan juga kran shower. Dia ingin segera mendinginkan badannya dan menghilangkan efek obat itu.


Ardi membaringkan tubuhnya kedalam bathup yang mulai terisi air yang semakin lama semakin penuh, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.


Flashback off


Klap! Doni menutup layar laptopnya.

__ADS_1


" Ternyata memang benar, Ardi bukan tipe orang yang seperti itu. Maafkan mas Doni yang sudah ragu dengan calon suamimu ya, Ra," batin Doni.


" Setelah ini biar aku yang selesaikan semuanya. Sebagai permintaan maafku ke kamu, Di aku akan membuat perhitungan dengan Candra Wijaya dan Rina Rosa. Tunggu nasib kalian berdua!" Doni mengepalkan tangannya geram.


__ADS_2