
Hari semakin sore, mereka bertiga pun kembali pulang ke rumah Eyang. Setibanya mereka di rumah Eyang, Ardi dan Dara dikejutkan dengan tenda dan dekorasi yang hampir selesai di halaman rumah Eyang. Dokerasi simpel dengan nuansa pink pastel, nampak sangat elegan membuat Dara terpana.
" Waahh.. Cantik banget.." gumam Dara.
" Ya ampun.. Neng geulis ti mana wae? Kok jam segini baru pada pulang?" Tanya Eyang.
(*Neng cantik dari mana aja?)
Dara berjalan ke arah Eyang, menyalami nenek dari calon suaminya itu.
" Habis nyari kado buat Lia, Eyang. Terus pulangnya kita makan dulu sebentar," sela Febri.
" Ya sudah, kamu mandi dulu. Sudah hampir maghrib, takutnya nanti hawanya semakin dingin." Kata Eyang merapikan rambut Dara.
" Iya Eyang." Jawab Dara.
Dia pamit masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Lia untuk mengambil peralatan mandinya. Handuk,baju ganti, serta alat mandinya sudah dia siapkan. Tetapi, ternyata kamar mandinya sedang digunakan. Dara pun menunggunya sambil berdiri dan punggungnnya disandarkan ke tembok.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Orang yang telah selesai menggunakan kamar mandipun keluar.
" Dara!"
" Fandi!" Ucap mereka berbarengan.
" Kamu ngapain disini?" sambung Dara.
" Menurutmu kalau lagi di kamar mandi ngapain?" Jawab Fandi
" Bukan itu maksudnya!" pipi Dara merona, malu.
" Maksud aku, kamu ngapain ada di rumah ini?" lanjut Dara.
" Hahaha... Udah gak usah salah tingkah gitu. Iya aku ngerti kok maksud kamu. Aku disini sama band ku. Mau ngisi acara disini."
" Disini? Kok bisa?"
" Ya bisalah. Kan diundang masa iya gak diundang manggung disini."
" Siapa yang ngundang kamu?"
" Kok kamu perhatian banget sama aku sih? Sampe nanyanya detail gitu.. Benih-benih cinta udah mulai tumbuh lagi ya?"
" Benih-benih cinta? mulai tumbuh lagi?.. Sepertinya menarik." batin Febri, yang tak sengaja mendengar obrolan Fandi dan Dara.
" Au ah!" Ucap Dara dan langsung masuk ke kamar mandi.
Fandi kembali berjalan kedepan, tapi langkahnya dihentikan oleh Febri.
__ADS_1
" A, Aa kenal dengan Dara? Tadi aku denger Aa ngobrol akrab banget sama Dara." Febri mulai menyelidik.
" Bukan akrab lagi, tapi bisa dibilang kita sehati... Ya walaupun masa lalu." Jawab Fandi.
" Maksudnya sehati?"
" Iya. Dia ada dihatiku, dan aku ada dihatinya... Tahukan? Sepasang kekasih."
" Owh! Jadi kalian dulu pernah pacaran. Pantes tadi aku denger 'benih cinta mulai tumbuh lagi', jadi itu toh maksudnya. Jadi bentar lagi kalian balikan dong."
" Sedang diusahakan."
" Mau aku bantuin gak?" senyum licik mengembang di bibir Febri.
Dara selesai membersihkan badannya di kamar mandi. Rambut basahnya terbungkus handuk, sedang baju bekas pakainya tadi tersampir di lengannya.
Bug!
Dara menabrak seseorang karena dia tidak melihat jalan. Dia sedang merapikan baju yang ada dilengannya.
Dara kaget dan jatuh kebelakang. Tetapi, sebuah lengan yang gagah, sigap menangkap pinggangnya.
" Ah!" pekik Dara.
" Kalau lagi jalan perhatikan depan." Ucap Ardi.
" Ma..Maaf. Bisa tolong lepasin aku."
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
Wajah mereka berdua sangat dekat, membuat jantung Dara berdegup kencang.
" Justru aku ingin menarikmu lebih dalam kepelukanku, tapi situasinya tidak memungkinkan. Jadi terpaksa ku lepaskan." Ardi melepas perlahan tangannya dengan mata yang saling bertatapan.
" Ehem! Ehem!" Eyang berdehem.
" Heni! Adit! Selesai acara disini langsung bikin di ibukota ya..." teriak Eyang sambil berbalik jalan kedepan.
Dara langsung lari ke kamar Lia, menyembunyikan pipinya yang merona karena malu.
" Teteh, kenapa?" Tanya Lia yang baru selesai berdandan.
" Eh? Gak apa-apa kok." Jawab Dara. Lalu ia menaruh baju kotornya dalam tas plastik yang sudah dia siapkan dari rumah.
Dara mengeringkan rambutnya dengan handuk dan juga angin dari kipas angin. Setelah dia rasa cukup kering dia merapikan rambutnya menggunakan sisir.
Angin yang ditimbulkan oleh kipas angin tadi, membuat badan Dara terasa dingin. Kemudian dia memakai jaket jeans kesayangannya.
__ADS_1
" Ayo, Teh. Kita makan malam dulu." Ajak Lia.
Dara mengangguk dan jalan di belakang Lia. Dara yang baru saja keluar dari kamar Lia langsung dipanggil oleh Ibu Heni.
" Dara, sini sayang kita makan malam dulu. Kamu duduk sini di samping..." belum juga Ibu Heni menyelesaikan omongannya Febri sudah duduk di samping Ardi.
"....sini duduk di samping Eyang," sambung Ibu Heni.
" Neng, sini...duduk dekat Eyang," kata Eyang.
Dara berjalan mengambil kursi kosong samping Eyang diikuti juga oleh Lia.
" Ra, mantan kamu ganteng juga ya," celetuk Febri.
" Di, kamu tahu gak? Ternyata salah satu personil band yang besok bakal ngisi acara di lamarannya Lia itu adalah mantan Dara. Wah, jangan-jangan ada clbk nih.. Cinta lama belum kelar," cibir Febri.
" Apa maksud kamu?" tanya Ardi ketus.
" Gak! Aku tadi gak sengaja dengar kalau Dara lagi ngobrol sama Fandi. Benarkan, Ra namanya Fandi? Katanya 'benih-benih cinta diantara mereka sudah mulai tumbuh lagi.' "
Dara hanya bisa menunduk, sedangkan yang lain menatap ke arah Febri dan Ardi.
" Ya Tuhan... Apa lagi ini? Aku harap kak Ardi, Om, Tante, dan juga Eyang gak kemakan omongannya Febri. Semoga gak ada kesalahpahaman diantara aku dan kak Ardi." batin Dara.
" Maaf, Ayah mau tanya.. Memang benar salah satu personil band yang ayah undang itu mantan Dara?" pertanyaan Ayah Adit memecah keheningan.
" Jadi Ayah yang panggil? Kenapa gak tanya aku dulu yah..?" Ujar Ardi.
" Maaf, Ayah gak tahu. Ayah hanya tanya sama Iqbal 'band yang kemarin isi acara kamu bagus atau gak? kalau bagus suruh mereka dateng buat pengisi acara lamarannya Lia.' Terus kata Iqbal 'bagus' ya sudah ayah panggil mereka kesini." Terang Ayah.
" Toh, dia kan cuma mantan, Di. Iya kan?"
" Iya benar, Yah. Mantan ya mantan! Tinggalnya di masa lalu. Dan aku masa depannya." balas Ardi.
" Kok atmosfernya malah jadi begini, sih? Tante Suci kemana lagi? Katanya mau bantuin aku balik lagi sama Ardi... Tapi justru sekarang malah gak ada." batin Febri.
Mereka semua telah menyelesaikan makan malamnya. Dara dan Lia membantu ibu Heni merapikan meja makan, sedang ayah Adit, Eyang dan Ardi melihat persiapan di halaman rumah.
Febri menghampiri Tante Suci yang sedang sibuk bersama rewang mempersiapakan kue dan barang-barang lainnya untuk acara lamaran besok.
" Tante, ngapain disini? Kok tadi ga bantuin aku sih?" tanya Febri sedikit kesal.
" Maaf sayang, Tante masih sibuk ngurusin buat acara lamarannya Lia besok."
" Kan udah ada yang kerjain. Ngapain tante capek-capek ngurusinnya?"
" Lia itu anak tante satu-satunya. Jadi tante harus memberikan yang terbaik untuk Lia. Walaupun capek tapi tante senang bisa mempersembahkan yang terbaik untuk anak semata wayangnya tante."
__ADS_1
" Ya udahlah! Tante gak peduli lagi sama aku." Febri pergi dengan kesal.