
Dengan muka masih sedikit panik, Dara dikejutkan lagi dengan kedua tangannya yang digenggam secara bersamaan oleh Ardi.
" Ra,"
" Oh iya," Dara mengalihkan pembicaraan. " Untuk gaun pengantinnya aku ingin seperti Bella Swan di Twilight Saga. Gaun putih panjang dengan model backless. Pasti sangat cantik."
" Tentu cantik," jawab Ardi. " Ra, seandainya... bukan sendainya. Jika kita benar-benar sudah menikah, kemana kamu ingin pergi untuk bulan madu kita?"
" Hah? Bukankah kamu terlalu cepat untuk menanyakan hal itu, Kak?"
" Menurutku tidak. Kan kita harus merencanakan semuanya dari sekarang. Kamu ingin pergi kemana?"
" Mm... Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya. Kemanapun kak Ardi pergi aku ikut."
" Ok! Lalu jika suatu saat aku ingin memisahkan diri dari perusahaan ayah dan memulai usaha dari nol dan kita harus tinggal di rumah yang kecil apa kamu tidak apa-apa? Tanpa tv, kulkas, ac, bahkan mobil..."
" Maka aku akan menjadi istri yang punya kerjaan sampingan di rumah," sela Dara.
" Kerja sampingan? Apa itu?"
" Iya. Aku akan berusaha sebisaku membantu suamiku. Walau aku tidak pandai dalam berdagang, tapi aku akan belajar bagaimana mengelola modal dan membelanjakan barang dagangan."
" Memang aku tidak salah memilihmu," ucap Ardi seraya mengusap lembut rambut Dara.
" Mungkin nanti aku juga akan pelihara ayam."
" Kenapa ayam?"
" Iya, jadi kalau kita ingin makan ayam kita gak perlu membelinya di pasar. Kita tinggal potong ayamnya dan aku akan telpon bi Odah untuk mengajariku cara memasaknya."
" Kenapa harus nanti? Kenapa tidak dari sekarang kamu minta resepnya dari bi Odah atau mama?"
" Karena sekarang kedua tanganku sedang digenggam oleh tunanganku. Jadi aku tidak bisa pergi kemana-mana."
Kedua sejoli itu secara bersamaan menundukan pandangannya, melihat kearah tangan mereka yang menggenggam satu sama lain.
" Hahaha..." mereka berdua tertawa.
" Bagaimana dengan sapi? Bagaimana jika aku ingin makan makanan kesukaanku, yaitu rendang?"
" Kita bisa sesekali membelinya di rumah makan padang. Lagi pula tiap hari makan makanan yang berlemak itu tidak bagus. Kolesterol! Hehe.." Dara terkekeh.
" Sebenarnya aku tidak masalah kita akan tinggal dimana nantinya," lanjut Dara. " Asalkan aku sama kamu, Kak."
" Gombal!" Ardi menyentil hidung Dara.
__ADS_1
" Kok gombal sih. Kan suami istri jadi harus tinggal bersama dong."
" Iya deh... Selain denganku, apakah kamu akan menghadirkan junior diantara kita?"
" Hah? Kamu gila ya Kak? Itu terlalu cepat diobrolkan sekarang." Dara tersipu malu.
" Haha.. Kamu sangat lucu ketika tersipu malu."
Bugh! Dara memukul pelan dada bidang Ardi.
" Kamu seperti mimpi yang nyata bagiku. Aku tidak pernah berpikir kamu akan melihat kearahku walau hanya sebentar saja. Sekarang kedua mata ini justru hanya akan boleh melihat kearahku saja. Dulu kak Ardi itu seperti bayangan yang tidak bisa kusentuh. Tapi justru tangan inilah yang akan menuntunku agar selalu berjalan beriringan denganmu," ucap Dara kemudian.
Ardi tersenyum. " Ingatlah ini, Ra. Tidak peduli apapun yang terjadi aku hanya ingin kamu ingat kalau aku... aku cinta padamu. Dan aku akan menjagamu seumur hidupku, sebisaku semampuku sebagai seorang lelaki dan suami."
" Aku juga cinta padamu, kak Ardi."
Ardi menarik Dara kedalam pelukannya. Dia mencium pelipis gadis itu.
Ceklek! Suara pintu ruang kerja papa Malik terbuka. Mereka berdua langsung melepaskan pelukannya dan bertingkah seolah-olah masih berdiskusi.
" Pulang dari pengrajin sepatu kita langsung ke butik baju pengantin. Kita cari gaun seperti yang kamu mau," kata Ardi.
" Ra, nak Ardi," ujar papa Malik. " Diskusinya sudahi dulu aja. Gampang dilanjut lagi besok sembari jalan. Ayok, kita makan malam dulu mama sudah nyiapin semuanya di meja makan."
" Iya , Pah," jawab Dara. " Sebentar lagi kita gabung ke meja makan."
" Baiklah, kita semua tunggu di meja makan ya."
Krab! Papa Malik menutup pintu ruang kerjanya.
" Hah!" Dara menghela nafasnya. " Hampir saja papa melihatnya."
" Memang kenapa kalau lihat? Kan kita sudah bertunangan."
" Bukannya tadi kak Ardi duluan yang langsung berakting seolah kita masih sibuk diskusi?"
" Aku hanya berusaha menyelamatkanmu dari rasa canggung. Itu sangat terlihat di wajahmu barusan." Ardi menarik lagi tangan Dara, agar dia jatuh kepelukannya.
" Lepaskan aku!"
" Aku tak mau melepaskannya. Kamu tunanganku sekarang."
" Baru tunangan!"
" Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku."
__ADS_1
" Baru akan! Belum menjadi istri!"
Cup! Bibirnya menyentuh bibir Dara.
" Bawel! Aku tak akan melampaui batasku. Ayo cepat bereskan. Kita sudah ditunggu di meja makan," kata Ardi.
" !!" Dara tertegun.
" Kenapa? Kok diam? Mau lagi?" goda Ardi.
" Gak!" Dara segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Ayok, kita keluar sekarang." Ardi beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Dara yang masih membereskan catatannya.
Dipeluknya buku catatan itu sembari dia berjalan keluar dari ruang kerja papa. Di meja makan semua orang sudah menunggunya. Ardi sudah mengambil kursi tepat di sebelah papa Malik. Sedangakan mama Tika dan mba April duduk di samping papa di sisi yang lain.
" Baby El, kemana mba? Gak ikut makan?" tanya Dara seraya menarik kursinya.
" Baru selesai. Sekarang lagi diajak main sama bi Odah," jawab mba April lalu menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
" Lalu mas Doni mana? Kok gak ikut makan sekalian?"
" Katanya pergi keluar sebentar ada urusan."
" Urusan apa?" selidik Dara.
" Ya ampun, Ra. Kaya wartawan nanya mulu."
" Abis, bawaannya parno kalo mas Doni gak ada disini. Takutnya dia lagi ngapa-ngapain di luar sana."
" Ngapain gimana maksud kamu, Ra?" tanya mama Tika penasaran.
" Ya gitu deh, Mah. Ikut campur urusan orang."
" Urusan orang siapa?" mama Tika bingung.
" Maksudnya orang itu Dara, Mah," terang mba April.
" Oh.. Bukannya Pak Adit sudah menjelaskannya tadi? Kenapa kamu harus cemas? Biarkanlah kakakmu melakukan apa yang dia inginkan. Toh itu semua dia lakukan karena dia sayang sama kamu, Ra," terang mama Tika.
" Benar itu, Ra. Gak usah mencemaskan tentang Doni. Dia akan berhenti dengan sendirinya jika apa yang dia khawatirkan ternyata tidak seperti yang dia bayangkan," tambah papa Malik.
" Benar kata mama dan papa, Ra. Tidak perlu khawatir dan cemas. Mas Doni hanya sangat menyayangimu. Aku jadi merasa iri denganmu, Ra. Karena punya kakak yang sangat peduli dengan adiknya. Sementara aku hanya anak tunggal. Tidak ada teman ataupun lawan dalam rumah untuk bermain atau berebut mainan," ujar Ardi.
" Tidak perlu merasa iri lagi, nak Ardi. Sebentar lagi Doni juga akan menjadi kakakmu. Papa yakin, jika Doni tidak menemukan apa yang dia cari darimu, justru posisi Dara akan digantikan olehmu."
__ADS_1
" Terima kasih, Pah. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan kepercayaan dari mas Doni."
" Sudah-sudah... ngobrolnya dilanjutkan lagi nanti. Ayo, segera habiskan makanannya," celetuk mama Tika.