Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.62


__ADS_3

Acara amal di hotel H pun selesai. Ardi mengantarkan Dara pulang ke rumah.


" Kenapa? Kok dari tadi diam?" tanya Ardi.


" Gak apa-apa."


" Sebelum pulang mau mampir makan dulu gak? Aku tahu tempat makan enak lho. Mau cobain gak?"


" Gak usah! Langsung pulang aja."


" Kenapa gak mau? Kan di acara tadi makanmu gak bener. Bisa dibilang cuma dimainin aja. Kenapa? Lagi gak selera makan?"


" Gimana mau selera makan? Dari tadi Rina nempel terus sama kamu." batin Dara.


Flashback on


Di meja jamuan.


" Hai, Ra. Hai, Di. Aku boleh gabung makan dengan kalian ya?" Rina menyela dan duduk persis disamping Ardi. " Salam kenal Pak Wawan, Pak Adit. Perkenalkan saya Rina Rosa, teman lamanya Ardi." Rina mengatupkan kedua tangannya.


Ayah Adit dan Pakde Wawam hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.


" Oh iya, Di. Aku tadi lihat ada makanan kesukaan kamu. Rendang daging. Aku ambil beberapa buat kamu lho. Cobain ya." Rina menyendok olahan daging dengan santan itu seraya menyuapi Ardi.


" Gak usah! Terima kasih. Aku lagi diet." Ardi menjawabnya dengan ketus.


" Ayolah, Di. Makan beberapa suap tidak akan mengganggu dietmu." Rina memaksa.


Ardi sangat malas untuk berdebat, apalagi di depannya ada ayah Adit dan pak Wawan. Akhirnya dia pun membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Rina.


" Yeay! Habis. Aku bilang juga apa. Enakkan?" Rina mengambil tisu. " Sini aku rapiin, Di."


Rina berusaha mengelap mulut Ardi, tetapi dia segera menepisnya dan merapikannya sendiri.


" Aku bisa sendiri."

__ADS_1


Flashback off


Kruyuuuuuukk!!


" Tuh! Cacing di dalam perutmu udah mulai protes. Udah nurut aku aja." Ardi mengulum senyumnya.


Sementara Dara membuang mukanya ke jendela, menutupi rasa malu.


Tak lama Ardi membelokan mobilnya ke sebuah warung kaki lima. Mereka bedua pun keluar dari mobil dan mencari bangku kosong. Tapi ternyata di dalam tenda sudah penuh terisi oleh pengunjung yang lain, akhirnya mereka duduk di atas tikar bersama pengunjung lain yang tidak mendapatkan kursi.


Karena hari yang semakin malam, suasannya pun semakin dingin. Dara yang hanya mengenakan gaun dengan rambut disanggul, dia merasakan dinginnya hingga ke tulang. Dia melipat kedua tangannya di depan dada untuk mengusir hawa dingin.


Melihat Dara yang kedinginan, lantas Ardi langsung membuka jasnya dan memakaikannya ke Dara.


" Terima kasih," ucap Dara. " Memang kamu gak dingin?"


" Gaunmu lebih tipis dari kemejaku. Aku masih baik-baik aja dengan ini."


Dua porsi mie goreng tektek sudah tersaji di depan mereka, lengkap dengan kerupuk, acar dan juga teh manis hangat. Aroma mienya yang sangat wangi membuat Dara tak sabar untuk melahapnya.


Dara menyendok mienya, lalu dia meniup uap panasnya. " Huufft! Huuufftt!" Dara memakannya dengan lahap. Dia sudah lupa dengan rasa cemburu dan malunya beberapa saat yang lalu.


Ardi tersenyum melihat tingkah Dara, pikirnya, " Persis seperti dulu. Selalu cuek dan jadi diri sendiri. Tidak ada kepura-puraan. Inilah yang aku suka dari kamu, Ra."


" Gimana? Udah kenyang?" tanya Ardi.


" Alhamdulillah udah, Kak."


" Kamu ini, makan kok kayak anak tk. Belepotan kemana-mana," ucap Ardi seraya mengelap sekitar mulut Dara. " Udah kenyangkan? Yuk kita pulang. Kamu masuk ke mobil duluan, aku mau bayar."


" Aku jadi semakin tahu kenapa begitu banyak wanita yang mengejarmu, Kak. Bukan hanya dari segi paras yang memang tampan, tetapi juga kepribadianmu yang tidak kalah menyenangkan. Untuk ukuran seorang pewaris tunggal BR group seharusnya kamu tidak makan di warung tenda seperti ini. Tapi aku tahu bukan kali ini aja. Bahagianya aku dicintaimu." batin Dara seraya sudut bibirnya melengkung ka atas.


Hari berikutnya......


Di kantor BR group, Iqbal dan beberapa sekretaris dan staf lain sibuk menjawab telpon dari para wartawan.

__ADS_1


" Halo, dengan BR group," sapa salah satu staf pada penelpon. " Maaf, kami menolak menjawab pertanyaan ini. Terima kasih."


Staf yang lain pun menjawab telepon. " Wakil CEO kami akan segera mengklarifikasi berita tersebut. Terima kasih."


" Selamat pagi," sapa sekretaris. " Ini hanya kesalah pahaman. Kejadiannya bukan seperti itu. Mereka hanya teman lama. Terima kasih."


" Maaf, kami tidak bisa memberikan keterangan apapun, karena isi berita tidak sesuai. Terima kasih." Iqbal menutup sambungan telpon. " Ini sudah lebih dari 40 kali aku menjawab telepon itu. Huufftt." Iqbal menghembuskan nafasnya kasar.


Iqbal membuka laptopnya dan menemukan berita tranding itu di halaman paling depan pusat pencarian.


" Menurutku mereka terlalu mendramatisir kejadian. Laman internet penuh dengan gosip mereka. Dan judul artikelnya bikin geleng kepala. ' Tangkapan romantis dari seorang putra mahkota'. Lalu apa lagi ini? ' Rina Rosa, bintang film terbaru jatuh kepelukan sang pewaris tahta BR group'. Benar-benar mencari clickbait mereka," gumam Iqbal.


" Kemarin malam di hotel H dalam acar amal yang banyak dihadiri oleh para pengusaha dan artis terkenal, terjadi sebuah insiden yang sangat intim dan romantis. Artis pendatang baru Rina Rosa tersandung dan jatuh dalam pelukan Seno Ardhibrata, dimana ia adalah pewaris tunggal dari BR group. Mereka berpelukan erat di hadapan halayak ramai." Iqbal membaca berita di media online. " Wow! Berita yang sangat hebat. Meskipun aku tidak berada disana tadi malam tapi aku yakin kejadian yang sebenarnya bukan seperti itu."


Drrrtt! Drrtt! Drrtt!


" Iqbal, tolong ke ruanganku. " pinta Ardi lewat telpon.


" Baik, Pak!" Iqbal langsung menuju ke ruangan Ardi.


" Tolong telpon awak media dan aturkan jadwal untuk mengadakan klarifikasi. Aku tunggu kabarnya segera."


" Baik, Pak!"


" Kenapa dia peduli sekali dengan masalah ini? Apa karena dia benar-benar bertemu dengan Rina Rosa diluar acara hotel? Tapi kalau dilihat dari ekspresinya dia begitu tenang. Padahal privasinya lagi digali oleh media," batin Iqbal.


Iqbal melaksanakn perintah Ardi langsung di hadapannya. Dia sibuk menelpon banyak orang untuk membuat janji klarifikasi.


" Pak, jadwal klarifikasi sudah terkonfirmasi. Besok jam 1 siang di loby gedung perusahaan."


" Thank you, Iqbal. Oh iya, maaf ya sepanjang hari ini kalian sudah menjawab telpon dari media."


" Tidak perlu berterima kasih, Pak. Ini sudah menjadi tugas kami. Dan kami juga sudah menolak menjawab pertanyaan mereka seperti yang Anda perintahkan, Pak. Apa Anda memerlukan yang lain, Pak?"


" Tidak! Terima kasih. Aku hanya berharap rumor ini tidak sampai ketelinga Dara. Kalaupun dia sampai membaca atau mendengarnya, aku harap dia tidak percaya, karena semua rumor ini adalah palsu."

__ADS_1


" Benar, Pak. Saya mengerti. Semoga Nona Dara seperti yang diharapkan. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi dulu, Pak. Selamat siang."


" Rina, kau adalah orang yang pertama kali disalahkan jika hubunganku dengan Dara berantakan karena berita viral ini. Awas kamu!" Ardi mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2