
Dari balik pohon yang rindang berdiri seseorang yang terus memperhatikan adegan demi adegan yang dilakukan oleh Ardi dan Dara. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu menghantamkannya pada batang pohon yang ada di hadapannya hingga meninggalkan sayatan pada punggung tangannya dan mengeluarkan darah.
Lia berlari menghampir dua sejoli yang sedang berpelukan untuk meluapkan semua perasaannya. Tubuh pasangan kekasih itu saling menjauh saat Lia memanggil nama Dara. Kini ia yang sekarang dalam pelukan Dara.
“Maafin Lia ya, Teh. Lia tidak ada maksud untuk meninggalkan Teh Dara di tempat yang asing ini. Pasti Teh Dara panik, ya? Sekali lagi maafin Lia ya, Teh,” kata Lia sambil terus mengusap lembut punggung istri dari kakak sepupunya itu.
“Iya, Li. Ini bukan salah kamu juga, kok. Aku yang terlalu fokus lihat lampu warna warni. Jadi, aku terpisah darimu,” jawab Dara.
“Apa? Jadi ini semua gara-gara lampu? Gara-gara city light?” tanya Ardi heran.
Dara melepaskan pelukannya, lalu dengan perlahan dia menganggukan kepalanya.
Plak! Ardi menepuk keningnya. “Kalau kamu mau aku akan pindahkan semua itu ke rumah sekarang juga. Biar kamu puas memandanginya dan tidak perlu sampai nyasar lagi, dan yang paling penting tidak membuat semua orang cemas,” papar Ardi dengan sedikit kesal.
“Sekarang Kak Ardi marah padaku? Maaf, aku tidak sengaja.” Dara memohon dengan wajah memelas seraya menangkupkan kedua tangan di depan bibir tipisnya. “Plis!”
“Iya, asal tidak dilakukan lagi,” jawab Ardi. Hampir saja Ardi mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya karena gemas dengan tingkah yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang, tetapi ia menghentikan aksinya karena komentar yang dilontarkan oleh Lia.
“Ehem! Mohon dikondisikan Bapak dan Ibu. Ini kita sedang berada di taman kota dan sedari tadi sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah kita. Apa kalian berdua tidak merasa kasihan kepada pejuang LDR seperti saya ini? Tolong hargai perasaan saya. Jangan membuat saya iri dengan kemesraan yang kalian berdua lakukan,” kata Lia.
“Makanya segera di halalin. Jadi, mau seperti ini setiap saat juga tidak ada yang melarang dan justru banyak pahala,” ujar Ardi seraya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Dara.
__ADS_1
“Tau ah!” oceh Lia, meninggalkan mereka berdua.
Sela-sela jari Dara dan Ardi saling bertautan. Ia menggenggam tangan istrinya dengan erat. Seperti yang diucapkan dia sebelumnya kalau ia tidak akan melepaskan pandangannya walau sedetikpun dari istrinya.
***
Sang surya mulai perlahan menaiki tahtanya. Setelah selesai sarapan Ardi dan Dara pamit kepada Eyang, Tante Suci, dan Lia untuk kembali ke kota. Lambaian tangan yang mulai layu itu mengisyaratkan agar mereka segera kembali lagi.
“Sangat disayangkan ya, Ra, kita tidak bisa berpamitan langsung dengan Febri dan Kak Farhan. Semalam karena ada urusan mendadak mereka langsung pulang. Padahal, sebelumnya mereka ikut cemas dan juga ikut mencari kamu, Ra, waktu kamu hilang di taman,” kata Ardi sambil mengemudikan mobilnya.
“Semalam aku berasa seperti anak kecil yang terpisah dari ibunya,” ucap Dara lirih. “Aku sangat ketakutan hingga tidak bisa berpikir bagaimana caranya aku menemukan jalan pulang.”
Ardi mengusap lembut pucuk kepala istrinya dengan tangan kirinya. “Lain kali, perhatikan jalan, ya dan juga HP jangan sampai ketinggalan. Jadi, gampang hubunginya dan gampang menemukan posisi kamu dari gps. Semalam waktu kamu tidur, aku sudah menyetel ulang Hpmu dan sekarang gpsnya sudah langsung terhubung dengan Hpku. Aku tidak mau merasakan ketakutan lagi. Cukup tadi malam dan jangan sampai terulang lagi. Ok, Ra?” papar Ardi.
Drrt! Drrt! Ponsel Ardi berdering. Dia membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. “Kak Farhan? Kenapa ya?” Ardi meletakkan earphone pada telingannya sebelum menjawab panggilan itu.
“Ya, Kak. Ada apa?” tanya Ardi.
“Hai, Di. Lagi dimana kamu sekarang? Masih di rumah Eyang atau sudah pulang ke Jakarta?” tanya balik Farhan.
“Sedang di balik kemudi dalam perjalanan balik menuju Jakarta. Kenapa, Kak?”
“Oh, tidak. Hanya ingin menyampaikan udangan. Besok sore sekitar jam 3 datang ke kantorku ya. Di sana akan ada pesta penyambutan kedatanganku kembali ke perusahaan. Beberapa orang penting dan relasi bisnis juga akan hadir. Jadi, kamu harus datang ya. Ini bisa jadi kesempatan buat kamu untuk semakin melebarkan sayapmu. Jangan lupa ajak Dara juga, ya. Takutnya banyak yang mengira kamu masih single. Pasti bakal banyak wanita yang akan terpesona dengan tampang rupawanmu itu,” papar Farhan yang diakhiri dengan gelak tawa.
__ADS_1
“Ah! Kak Farhan bisa saja. Iya, besok aku akan kesana dengan Dara.”
“Ok! See u tomorrow, ya. Bye!”
“Bye!” Panggilan pun berakhir.
***
Kejadian semalam masih terekam dengan jelas dalam benak Farhan. Setelah Lia memberitahu kalau ia dan Dara terpisah, lelaki dewasa itu langsung bangkit dari duduknya dengan rasa cemas yang tercetak jelas di wajahnya. Dia berlari di antara kerumunan orang agar bisa lekas menemukan orang yang sangat ia cintai itu.
Bertanya pada setiap orang yang ia jumpa dengan menyebutkan ciri-ciri Dara, hingga akhirnya seseorang mengenali dan mengetahui di mana keberadaannya. Dia bergegas berlari menuju lokasi yang dimaksud oleh orang yang ia temui itu, tetapi ternyata langkahnya kurang cepat. Ardi terlebih dulu menemukan Dara.
Masih terngiang dengan jelas di telinganya bagaimana Ardi meneriakan nama Dara saat Farhan baru saja membuka mulutnya. Adegan demi adegan pertemuan dua sejoli itu membuat darah dalam tubuhnya mendidih. Semakin erat mereka berpelukan, semakin erat pula kepalan tangan Farhan.
Brak! Tangan Farhan yang kini sudah terbalut perban kembali mengudara dan menghantam kaca yang ada di depannya. Kaca jatuh berserakan di lantai. Cairan merah kembali keluar hingga membasahi perban putih itu.
Febri yang mendengar keributan dari balik pintu ruang kerja kakaknya, tanpa komando ia langsung menerobos masuk. Matanya terbelalak melihat tangan kakak tersayangnya kembali mengucurkan darah.
“Aku selama ini tidak tahu kalau ternyata Kakakku adalah seorang yang bodoh,” racau Febri seraya mencari kotak P3K dalam laci meja kerja.
Farhan hanya membisu dengan menyandarkan punggungnya pada lemari yang telah menjadi korban luapan emosinya. Tangan yang sedari tadi mengucurkan cairan merah kental ia sandarkan pada salah satu lututnya. “Feb,” ucap Farhan akhirnya. “Apa kamu tidak pernah merasa marah ketika Ardi memeluk wanita lain? Terlebih sekarang dia sudah mempunyai istri, pasangan yang sah secara agama dan negara. Apa kamu tidak merasa cemburu?”
“Kalau masalah itu aku ahlinya, Kak. Tapi, aku tidak pernah menyakiti diri sendiri hanya untuk memindahkan rasa sakit yang ada di sini,” jawab Febri seraya menepuk dadanya perlahan.
__ADS_1