
“Terima kasih,” ucap Dara tanpa ekspresi. “Di mana suamiku?” lanjutnya dan ia menekankan kata suami dalam pertanyaannya.
“Ada di belakang. Dia sedang menerima telepon,” jawab Farhan. Raut wajahnya seketika berubah. Dia melipat kakinya duduk di samping Dara.
“Pesanan telah datang,” kata Lia dengan menenteng dua kantung plastik yang penuh dengan jajanan. Sementara di belakangnya berdiri seorang lelaki paruh baya membawa nampan dengan lima mangkuk mie ayam di atasnya. Lalu bapak itu meletakkannya di depan Lia.
“Ayo kita makan! Silakan yang mau ambil sendiri ya,” lanjut Lia mengularkan satu per satu bungkusan yang ada dalam kantung plastik yang ia bawa.
“Wah! Sepertinya enak,” kata Ardi yang tiba-tiba datang dan duduk di samping kiri istrinya. “Kamu dapet yougurt dari mana, Ra?”
Pertanyaan Ardi membuat Dara hampir tersedak saat dia meneguk minumannya. “Dari Kak Farhan. Bukankah kamu yang membelikannya untukku, Kak?” tanya Dara setelah menelan minumannya.
“Tidak. Tadi aku tidak sempat masuk ke mini market karena harus menerima telepon dari Iqbal,” papar Ardi. “Selain air mineral ternyata semua makanan ringan yang dibeli Kak Farhan adalah jajanan kesukaan Dara. Wah! Kak Farhan hebat. Sepertinya Kak Farhan sudah lama mengenal istriku.”
“Tidak, Di,” elak Farhan. “Hanya kebetulan saja. Aku asal ambil saja. Sebenarnya ini semua juga makanan yang disukai oleh kekasihku dulu.”
“Bukankah semalam Kak Farhan sudah berjanji kepadaku untuk mengikhlaskannya,” ucap Febri. “Lalu, kenapa sekarang mengungkitnya lagi?”
“Entahlah. Sepertinya tadi pagi hatiku mulai kembali goyah saat melihatnya tidak dijaga dengan baik oleh suaminya. Aku yakin aku lebih baik dari suaminya itu. Aku akan menjaganya sepenuh jiwa dan ragaku. Aku tidak akan membiarkannya tubuhnya tergores walau sedikit saja,” terang Farhan.
“Dimana Kak Farhan melihatnya? Bukankah tadi pagi Kak Farhan ada di rumah?” tanya Lia seraya mengangkat sumpitnya yang mengapit mie ke arah mulutnya.
“Eh ... aku tahu dari telepon. Suaminya menelponku meminta bantuanku untuk menghubungi dokter yang bisa merawat istrinya,” kilah Farhan.
__ADS_1
“Memangnya dia kenapa Kak?” tanya Lia penasaran.
“Eh ... dia jatuh di kamar mandi.”
“Sama seperti Dara pagi ini,” celetuk Ardi sambil terus mengaduk-aduk mienya dengan sendok. “Kakak begitu sangat mencintainya ya? Sampai saat dia sudah punya suami saja Kak Farhan tidak menyerah untuk mengejarnya.”
“Karena suaminya tidak becus mengurus istrinya.”
“Lalu kenapa dulu Kak Farhan mengkhianatinya kalau saat itu Kakak sangat mencintainya?” tanya Ardi lagi dengan melemparkan tatapannya yang menyelidik.
“Aku akui dulu aku melakukan kesalahan, tetapi setelah itu aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf padanya lalu kita memulainya lagi dari awal. Tapi ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Sebelum aku meminta maaf dan menjelaskannya, dia menolak berbicara denganku.”
“Mm ... begitu.” Ardi mengangguk paham. “Sudah tidak usah dibahas lagi. Kita lanjutkan saja makannya.”
***
Selesai meneguk air mineralnya, Dara mengajak Lia untuk berkeliling di taman. Ia ingin menghindar dari ketegangan yang masih terasa antara Ardi dan Farhan. Mereka berkeliling menikmati suasana.
Netra Dara dimanjakan dengan pemandangan city light yang begitu indah. Lampu panca warna yang berkelap-kelip menyihir matanya agar tidak berpaling darinya. Pemandangan itu membuat Dara terlena hingga tanpa disadari ia terpisah dengan Lia.
Bugh! Seseorang menabrak bahunya tanpa sengaja. Dara mulai tersadar kalau ia ternyata sendiri di dalam keramaian. “Li-Lia,” ucap Dara terbata.
Dara mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Ia berusaha mencari sesosok orang yang dia kenal di antara orang yang berlalu-lalang. “Li-Lia,” ucapnya lagi dengan nada yang lebih tinggi.
__ADS_1
“Duh! Bagaimana aku pulang? Ponselku ada di dalam tas dan tasnya tertinggal. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” ujar Dara seraya terus mengedarkan pandangannya.
Dara mencoba melangkahkan kakinya untuk menemukan jalan kembali ke tempat semula, tetapi dia justru terdorong oleh sekumpulan remaja yang sedang bercanda di pinggir jalan. “Maaf, Teh, nggak sengaja,” kata salah seorang premaja yang menabraknya.
“Iya,” jawab Dara singkat. Lalu ia lekas pergi dari tempat itu mencoba kembali mencari jalan pulang. Perasaannya kini diliputi rasa cemas. Air mata sudah mulai menumpuk di tepi kelopak matanya. Sekali ia berkedip maka buliran bening itu akan langsung meluncur membasahi pipinya.
“Kak Ardi, kamu di mana?” ucap Dara lirih. “Aku takut, Kak. Aku mau ketemu sama kamu. Kak, tolong temukan aku.”
Beberapa menit berjalan dalam kebingungan membuat Dara kakinya terasa pegal. Ia menghentikan langkahnya. Beralaskan rumput ia menyandarkan punggungnya di sebuah tiang lampu taman dengan memeluk kedua lututnya dengan erat.
Dara mulai menggigiti kuku jempolnya. Dia terus mengedarkan pandangannya. “Kak, apa kamu tidak tahu kalau sekarang aku sedang tersesat? Aku sekarang merasa sendiri di tengah orang-orang asing ini,” gumam Dara lirih.
Kelopak mata Dara sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi air mata yang terus mendesak keluar. Buliran bening mulai membasahi pipi dan dengan punggung tangannya, dia terus berusaha menghapus jejak air yang tergambar di pipinya. Tetapi, secepat itu pula air mata kembali menetes dari mata jernihnya.
Dara merasa aneh dengan dirinya kali ini karena tidak biasanya dia merasa selemah ini. “Aku memang termasuk anak yang cengeng, tapi aku tidak tahu kenapa kali ini aku merasa sangat sedih saat jauh dari Kak Ardi. Ini bukan seperti aku yang biasanya. Kenapa?” tanya Dara dalam hati.
“Dara!” seseorang memekikan namanya dari jauh. Langsung saja Dara memalingkan kepalanya ke sumber suara. Matanya berbinar ketika netranya menangkap bayangan yang begitu ia rindukan dalam beberapa puluh menit terakhir.
Dara langsung bangkit dari duduknya. Ia sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi. Ketika orang itu semakin dekat dengan dirinya, semakin kencang pula ia berlari dalam pelukannya. Ia menumpahkan semua perasaannya pada dada bidang yang sekarang ada dalam dekapannya. Wangi tubuh yang sangat ia rindukan beberapa menit terakhir kini ia bisa menghisapnya dalam-dalam.
“Kak, aku takut. Aku tersesat. Aku rindu Kak Ardi,” ucap Dara terisak seraya terus mendekap erat tubuh tegap suaminya.
__ADS_1
Ardi mengecup pucuk rambut Dara dengan lembut. “Aku juga takut, Ra. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Tapi, sekarang sudah baik-baik saja. Aku sudah menemukanmu. Setelah ini aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku walau hanya sedetik. Jantungku berdegup dengan kencang dan aku yakin kamu pun merasakannya. Aku takut kehilanganmu, Ra.” Ardi semakin mendekap dengan erat tubuh mungil Dara seperti tidak ingin melepasnya lagi.