
Doni memarkirkan mobilnya tepat di depan teras. Dibelakangnya disusul oleh mobil Rizal. Doni masuk ke rumah disambut dengan pertanyaan beruntun dari Mama Tika.
" Doni! Kamu dari mana aja, Nak? Memang ada urusan penting apa sayang sampai kamu tidak sempat ke rumah dulu?" Mama Tika kaget melihat kondisi anak sulungnya dari kaget. " Ya ampun Doni! Kamu kenapa? Kok mukamu lebam begini? Terus ini juga tangan kamu."
" Kenapa Ma?" April, yaitu istri Doni keluar dari kamarnya sembari menggendong baby El. " Ya ampun sayang, kamu kenapa?"
" Habis kenalan sama Ardi," celetuk Rizal yang baru masuk ke dalam rumah.
" Ardi? Siapa Ardi?" tanya April.
" Itu... pacarnya Dara," jawab Rizal kemudian.
" Ya ampun, Nak. Kenalan macam apa ini? Kalau papa sampai tahu gimana?" ucap Mama Tika khawatir.
" Biar dia tahu, kalau aku ini kakaknya Dara. Jadi dia akan berpikir seribu kali kalau dia berani mempermainkan adikku."
" Kamu apa-apaan sih, Mas. Kayak anak kecil aja. Sini aku obatin." April menggandeng suaminya untuk duduk di sofa ruang keluarga. Kemudian mama Tika mengajak baby El bersamanya.
April mengoleskan obat di beberapa luka lebam di wajah suaminya seperti di pelipis, sudut bibir dan juga pada buku-buku tangannya.
" Memang apa yang dilakukan Ardi sampai kamu melakukan seperti ini? Ketemu langsung aja kamu belum pernah. Kok berani-berani mukul anak orang. Dara itu bukan anak kecil lagi, Mas. Aku tahu dia bisa jaga dirinya sendiri. Dan pasti dia punya alasan sendiri kenapa dia mau menerima Ardi menjadi calon suaminya." Ucap April seraya mengikatkan perban di pergelangan Doni.
" Dia termakan rumor hoax dari media online," celetuk Rizal yang asik menyeruput kopi di sampingnya.
" Dasar tukang ngadu!" sungut Doni.
" Mending mas Rizal tukang ngadu, tapi yang diomonginnya bener. Dari pada kamu belum tahu kejelasannya udah main tonjok aja." Kata April.
" Yang, sebenernya suami kamu itu aku atau Rizal sih? Kok kamu ngebelain dia bukannya dukung suamimu?"
" Bukannya gak mau dukung mas Doni sayang. Tapi memang apa yang kamu buat tuh salah, Mas," ucap April gemas.
" Hadduuuh.. jiwa jombloku meronta melihat perdebatan manja sepasang suami istri ini. Cabut dulu ah..." Rizal ngeloyor pergi.
" Makanya buruan cari bini!" timpal Doni.
Drap! Drap! Drap! Dara memasuki rumah dengan langkah yang penuh amarah. Dia tidak memperdulikan keberadaan orang yang ada disekitarnya. Dia langsung berlari ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
__ADS_1
" Tuh lihat! Gara-gara kamu, sih. Daranya jadi ngambek. Minta maaf gih sana," ucap April.
" Gak! Sebelum aku mendapatkan bukti yang sebenar-benarnya aku gak akan minta maaf sama siapa pun," jawab Doni.
" Terserah kamu aja deh, yang." April berlalu pergi meninggalkan Doni duduk sendiri di sofa.
Di dalam kamar, Dara mencoba menghubungi ayahnya, tetapi selalu mesin penjawab bersuara wanita yang menerima panggilannya.
" Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau di luar servis area. Silahkan hubungi beberapa saat lagi."
" Ya sudah. Mungkin papa lagi beneran sibuk. Nanti aku coba hubungi lagi," ucap Dara lalu membanting tubuhnya ke atas kasur.
Tok! Tok! Tok!
" Ra, boleh mba masuk?" ucap April dari balik pintu kamar Dara.
" Iya, boleh," jawab Dara tanpa beranjak dari posisinya.
" Ra, lagi ngapain? Boleh mba ngobrol?" tanya April seraya masuk dan duduk di bibir ranjang Dara.
" Gak ngapa-ngapain. Apa yang mba mau obrolin? Pasti disuruh sama mas Doni ya?"
" Oh!"
" Ra, mba tahu mas Doni telah melakukan hal yang serampangan. Tanpa cari tahu lebih dulu dia sudah mengambil keputusannya sendiri. Mba akui, mas Doni sangat ceroboh kali ini. Tapi, kamu tahukan kenapa dia bersikap seperti itu?"
Dara membalikkan badannya tidak bergeming.
" Atas nama mas Doni, mba minta maaf ke kamu ya, Ra. Mba yakin, kamu sangat mengerti tentangnya. Iyakan?"
Dara masih membisu.
" Ya sudah, mba gak akan ganggu kamu lagi. Istirahat ya sayang. Ngambeknya jangan lama-lama."
" Mba, tolong bilangin ke suamimu. Nanti malem Ardi dan kedua orang tuanya mau datang ke rumah," ucap Dara kemudian.
" Ok! Nanti mba sampein." April meninggalkan adik iparnya sendiri di dalam kamar.
__ADS_1
" Aku tahu, aku ngerti mas Doni berbuat seperti itu karena dia sayang sama aku. Tapi kan bukan begitu juga caranya." Dara menghela nafas. " Lagi dan lagi mas Doni mencampuri urusan pribadiku. Mungkin kalau dulu aku akan merasa sangat senang karena dia begitu perhatian. Tapi sekarang aku bukan anak kecil lagi. Jika terus-terusan begini kapan aku tahu akan kemampuanku sendiri?" gumam Dara.
Dara kembali meraih ponselnya mencoba menelpon ayahnya lagi.
Tut! Tut! Tut! Nada tersambung.
" Ya, halo.. Kenapa, Ra?" ucap papa Malik di sebrang telpon.
" Pah, mas Doni udah pulang ke rumah tadi siang."
" Wah! Bagus dong kalau gitu. Kamu bisa temuin Ardi dengan kakakmu."
" Mereka udah ketemu, Pah."
" Dimana? Terus tanggapan Doni tentang Ardi gimana? Dia setujukan?"
" Mereka ketemu di kantor barunya Ardi, di gedung pusat BR group. Mereka.... baku hantam disana."
" Apa? Baku hantam? Berkelahi? Kenapa? Apa masalahnya?"
" Hari ini ada berita yang tranding topic di media online. Itu tentang acara di hotel H semalam. Disitu ditulis kalau kak Ardi menggoda bintang baru yang bernama Rina Rosa. Dan disitu juga terpampang foto mereka sedang... berpelukan. Tapi, Pah. Kejadian sebenarnya bukan begitu. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Rina sengaja menjatuhkan diri kepelukan kak Ardi dengan pura-pura terpeleset. Dan disitu bukan cuma aku yang lihat. Mas Rizal juga ada disitu dan ngeliat drama yang dilakuin Rina Rosa." Dara menjelaskannya dengan menggebu.
" Ok! Papa paham sekarang. Papa akan telpon Pak Adit setelah ini."
" Terima kasih Papa. You are the best! Muah.."
" Terus sekarang dimana kakakmu? Di rumah atau..."
" Di rumah, Pah. Oh iya, kata kak Ardi nanti malam dia akan kesini sama kedua orang tuanya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Dia mau nunjukin ke mas Doni kalau kak Ardi serius sama aku dan apa yang di katakan oleh media online itu bohong. Dia juga akan mencari bukti-bukti kalau Rina Rosa yang sengaja mendekati kak Ardi."
" Iya, sayang. Papa percaya kok sama Ardi. Nanti papa coba ngomong sama kakakmu ya. Tapi sebelumnya papa mau telpon Pak Adit dulu untuk minta maaf karena Doni sudah bikin onar di jantung perusahaannya. Dan juga sudah bikin putra semata wayangnya babak belur."
" Iya, Pah. Sampai ketemu nanti di rumah ya."
" Oke, sayang. Bye."
Panggilan telpon terputus.
__ADS_1
" Rasain! Aku udah aduin mas Doni ke papa. Siap-siap diceramahin ya mas Doni sayang. Hahaha.." Dara tertawa penuh kemenangan.