Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.14


__ADS_3

" Ra, kamu gak apa-apa ? " Tanya Pak Rizal yang spontan langsung berdiri ketika melihat Dara akan jatuh.


" Gak.. Gak apa-apa..Gak apa-apa..aku baik-baik aja." Pertanyaan Pak Rizal langsung menyadarkan Dara dan Ardi, mereka langsung melepaskan pelukan mereka masing-masing.


" M..Maaf Pak,saya tidak sengaja. " Dara menunduk menyembunyikan mukanya yang merah merona.


" Gak apa-apa..kamu baik-baik saja ? " Tanya Ardi.


" He em.." Dara mengangguk.Lalu dia langsung berjalan lagi ke tempat Iqbal dengan kaki yang masih sedikt sakit.


Ardi kembali ke tempat duduknya. Dia melihat Dara berjalan dengan sedikit terpincang setelah kecelakaan kecil tadi. Suasana jadi sedikit canggung karena adegan romantis tadi. Bu Yanti memandangi Dara yang sudah kembali ke tempat duduknya dengan tatapan sinis. Sedangkan Pak Rizal seperti sedang menandai lawannya dengan Pak Seno.


Karyawan yang lain justru ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang merasa iri dengan Dara, dan ada juga yang merasa malu, ketika Pak Seno menangkap Dara kepelukannya.


Ardi memberi kode pada Iqbal. Lalu sang asisten pun berdiri kedepan untuk menyampaikan dua patah kata.


" Baik..terima kasih untuk semua yang sudah berpartisipasi dalam peralihan tugasnya Pak Seno. Dan untuk hasilnya yang akan mendapatkan rekomendasi langsung dari Pak Seno ke kantor pusat yaitu... " Iqbal memberi jeda supaya memberikan kesan tegang dan mendebarkan untuk semua orang yang ada didalam ruang rapat.


"......Dan dia adalah... Dani Tofani...Selamat untuk anda ya.." Iqbal bertepuk tangan dan semua pun bertepuk tangan dan memberi salam selamat kepada karyawan yang terpilih itu.


Ardi kemudian langsung berdiri dan berjalan menyelamati orang tersebut dan dia berkata.


" Rekomendasi yang saya ajukan nanti bernilai tujuh puluh hingga delapan puluh persen..jadi saya harap anda pertahankan konsistensi kinerja kerja anda sampai akhir bulan nanti, hingga akhirnya anda mendapat panggilan langsung dari pusat. "


" Baik Pak, saya akan berkerja sebaik mungkin. Terima kasih. " kata Dani menyambut jabat tangan Pak Seno dengan penuh kegembiraan.


Dara mencuri pandang ke arah Ardi dari sebrang meja. Senyumnya membuat dia menjadi semakin tampan dan Dara pun terpana. Ternyata Ardi menyadari kalau ada yang sedang memperhatikannya. Benar saja dia langsung menengok kearah samping dan disana dia memergoki Dara sedang menatapnya. Spontan Dara langsung memalingkan mukanya, menyembunyikannya karena wajahnya langsung merah karena malu ketangkap basah sedang memandangi mantan Pak Manager pusat yang tampan itu.

__ADS_1


" Oiyah ada satu lagi pemberitahuan.." Iqbal melanjutkan " Besok sore Pak Seno mengajak kita semua untuk pergi ke villanya di Puncak. Yang tidak ada acara weekend bersama keluarga atau urusan penting lainnya diharapkan bisa ikut. Bagi yang punya pasangan suami atau istri dan juga anak bisa ikut serta. Tetapi kalau pacar, maaf tidak bisa ikut. Acaranya santai hanya pesta syukuran dan pesta perpisahan saja. Jadi tidak masalah bagi suami atau istri dan anak yang mau ikut serta. "


" Saya berterima kasih sekali jika kalian ikut semua. Nanti saya minta tolong dengan..." Ardi berpura-pura melihat sekitar seperti akan memilih seseorang. Tetapi sebenarnya dia hanya ingin melihat reaksi wajah Dara dan ternyata dia sedang diajak berbicara dengan Pak Rizal tetapi Dara tidak terlalu memperdulikannya.


" Dara..." Ardi melanjutkan " Saya meminta tolong pada anda untuk mendata siapa saja yang ikut dan total jumlahnya berapa. Nanti koordinasikan dengan Iqbal. "


" B..baik Pak " Dara terkejut namanya disebut oleh kak Ardi. Karena daritadi dia hanya fokus ingin menghindar dari Pak Rizal.


" Baiklah rapatnya sudah selesai dan anda semua bisa kembali ketempat kerjanya masing-masing. Terima kasih. " Ardi menutup rapatnya.


Semua peserta rapat berjalan keluar dari ruangan begitu juga dengan Dara. Pak Rizal mencoba mengejar Dara, Ardi yang melihat itu langsung menghentikannya.


" Pak Rizal.." Ardi memanggilnya


" Oh iya Pak Seno..." Pak Rizal langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Ardi.


" Mari kita minum kopi diluar Pak..saya yang traktir.. Bagaimana Bu Yanti mau ikut juga ? " Ardi mengalihkan perhatian Pak Rizal.


" Sayang sekali ya Bu..salam untuk anak anda ya.." Ardi menjabat tangannya.


" Lalu bagaimana dengan anda Pak Rizal ? Apakah anda menolak ajakan saya juga ? " Lanjut Ardi.


" Mmm..tidak masalah Pak..Mari saya tunjukan cafe yang enak dekat kantor ini. " Pak Rizal mengiyakan ajakan Ardi dan mereka langsung keluar kantor menuju parkiran.


Iqbal sedang meminta nomor HPnya Dara untuk keperluan pesta dipuncak nanti.


" Bilik kerjanya Dara Amelia dimana ya ? " Dia bertanya pada salah satu karyawan yang hendak pulang.

__ADS_1


" Disana Pak..dekat dengan jendela.." Karyawan itu menunjuk dengan jari tulunjuknya ke arah bilik yang dimaksud.


" Terima kasih. " Iqbal langsung berjalan menghampiri bilik yang sudah diberitahukan.


Sampai di bilik itu Iqbal melihat punggung seorang wanita. Wanita itu sedang melipat keduatangannya diatas meja dan membenamkan mukanya disana. Kemudian wanita itu menghela nafas panjang.


" Dara Amelia ? " Iqbal bertanya.


" Ii..iya..." Wanita itu kaget dan mengangkat kepalanya. Kemudian dengan posisi masih duduk dia memutarkan badanya ke arah sumber suara. " Oh Pak Iqbal..ada apa pak ? " Tanya Dara.


" Tidak apa-apa..Hanya minta nomor HPnya..untuk komunikasi pestanya Pak Ardi..eh maksud saya Pak Seno...di villa nanti.." Iqbal menyerahkan HPnya.


" Baik Pak " Dara menerima HPnya lalu mengetik dua belas angka yang menerjemahkan kalau itu nomer HPnya. " Ini Pak,sudah selesai " Dara menyerahkan kembali HPnya.


" He em " Iqbal langsung mengetik nama dan menyimpan nomer itu.


Dara sudah menggendong tasnya sekarang.


" Baik Pak..kalau sudah selesai saya ijin mau pulang." Dara mengangguk dan tersenyum, kemudian meninggalkan Iqbal yang masih mengetik-ngetik di HPnya.


Ting ! Suara pesan masuk di HP. Dara langsung membuka tas mencari HPnya.


" Itu WA dari saya. '' Iqbal memasukan kembali HPnya kedalam saku celananya.


" He em " Dara menengok kearah Iqbal kemudian mengetik nama dan menyimpannya.


" Baik Pak...Permisi. " Dara memasukan kembali HPnya kedalam tas ranselnya. Kemudian berjalan keluar dari kantornya.

__ADS_1


Dara berdiri ditepi jalan mencari taksi. Tidak ada. Dia sudah berdiri disana hampir setengah jam tapi tidak ada taksi yang lewat. Sekalinya ada taksinya berpenumpang.


Hari mulai gelap. Dara baru saja menaiki taksi berwarna biru, ketika adzan mulai berkumandang. Dia menyandarkan bahunya dikursi penumpang. Matanya terpejam lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya melalui hidung dan mulut. Dibukanya kembali matanya dan dia melihat kearah luar jendela.


__ADS_2