Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.15


__ADS_3

Setelah Rizal mengiyakan ajakan minum kopi yang ditawarkan oleh Ardi, mereka pun berjalan keluar dari ruang rapat disusul oleh Iqbal dibelakangnya yang sudah selesai membereskan file dan juga laptop yang digunakan untuk persentasi. Ketika hendak menuju pintu keluar Iqbal menghentikan langkah bosnya.


" Pak, Maaf..saya mau mencari Dara sebentar. " Kata-kata Iqbal mengagetkan Ardi, sehingga dia langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badannya ke arah Iqbal.


" Kenapa kamu mencari Dia ?" Raut muka Ardi langsung berubah. Tatapan matanya berubah tajam.


" Eehh..seperti perintah Bapak tadi, saya harus berkoordinasi dengan Dara untuk mengetahui jumlah orang yang akan ikut ke villa nanti. Maka dari itu saya ingin meminta nomor HPnya. " Iqbal menjelaskan dengan berhati-hati.


" Baiklah..setelah itu kamu langsung temui saya di cafe dekat kantor ini. " Ardi langsung membalikkan badan dan menuju pintu keluar kantor tanpa menunggu jawaban dari Iqbal.


" Baik Pak....huuuufffttt.." Iqbal menghela nafasnya, dia merasa lega karena sudah bebas dari tatapan tajam bosnya. Dan dia berlalu mencari Dara.


Ardi menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.


Tiin..! Tiin..! Rizal membunyikan klakson mobilnya. Memberi isyarat pada Ardi untuk mengikutinya dari belakang menuju cafe sebrang kantor itu. Tak berapa lama mereka pun sampai karena hanya jalan memutar dari kantor. Mereka memakirkan mobilnya di cafe itu yang lumayan mulai sedikit ramai karena jam kerja sudah selesai.


Dua cowok tampan ini memasuki coffeeshop itu disambut oleh pelayan cantik yang membukakan pintu untuk mereka. Lalu menuntunnya masuk dan mengantarkan mereka ke mejanya. Dan pelayan itu memberikan buku menu pada duo tampan ini.


" Silahkan Pak, menunya.." Pelayan itu memberikan masing-masing satu buku menu kepada mereka.


" Terima kasih.." Rizal tersenyum " Saya mau latte satu, dan Pak Seno pesan apa ? "


" Sama kan saja. " Ardi menutup buku menunya.


" Berarti latte dua, mba." Rizal berkata pada pelayan.


" Baik. pesanannya latte dua ya, pak.." Pelayan menulis dibuku catatan. " ada tambahan yang lain pak ? untuk dessertnya mungkin..? kita punya yang terbaru pak dengan cakejarnya bolu putu..barangkali minat pak ?" Lanjut pelayan.

__ADS_1


Rizal menatap Ardi,seperti mengisyaratkan apakah mau pesan yang ditawarkan oleh pelayan itu ? dan Ardi menggeleng menolak.


" Untuk sementara itu saja dulu mba. Nanti jika kami butuh yang lain saya panggil. " Rizal mengembalikan menunya.


" Baik Pak, untuk pesanannya ditunggu sebentar ya. " Dan pelayan itu pun berlalu pergi.


" Baik Pak Seno..sekali lagi saya mengucapkan selamat untuk Anda karena sudah mendapatkan calon pengganti Anda dan..Anda juga sudah bekerja di kantor yang baru juga. " Rizal membuka pembicaraan.


" Sudah tidak udah terlalu formal begitu. Santai saja.. biasa saja... panggil saja saya Ardi, tidak perlu dengan sebut Pak Seno, toh kita sudah tidak ada hubungan kerja. " Kata Ardi sambil membuka dasinya.


" Ardi ? " Rizal ragu.


" Iyah..Ardi.." Ardi menyandarkan punggungnya ke kursi. " Bagaimana, besok ikutkan ke villa ? " tanya Ardi.


" Pastinya ikut..kalau gebetan ikut juga.." Rizal tersenyum.


Rizal terdiam sejenak. Apakah Ardi bisa dipercaya jika aku menceritakan tentang kisahku ? Kalau ternyata tidak dan dia menyebarluaskan cerita itu ke khalayak ramai gimana ? Tapi apa pentingnya juga dia menceritakannya ke orang lain ? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelut di kepala Rizal.


" Gak mau jawab ? Ya sudah gak apa-apa...itu privasi kamu. Yang jelas besok jangan sampe gak dateng... Kan sekarang kita teman. " Ardi tersenyum penuh arti.


" Bukan begitu, Di.. aku hanya bingung aja mau cerita dari mana ? " Rizal menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal.


Pelayan datang dan menghidangkan coffee latte pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi Rizal melanjutkan ceritanya.


" Jadi begini Di.... Aku suka sama seorang cewek dan itu berlangsung dari dulu. Ternyata beberapa hari yang lalu...sekitar dua atau tiga hari yang lalu Papaku menelpon Papanya si cewek ini untuk memintanya jadi istriku. " Rizal mengangkat cangkirnya seraya ingin meminumnya.


" Lalu ? " Tanya Ardi datar.

__ADS_1


" Ah..." Setelah menyeruput kopi Rizal meletakkan kembali cangkirnya. " Lalu.........sikap cewek itu langsung berubah. Dia menjadi marah dan cuek. Terus aku tanya sama dia kenapa bersikap seperti itu ? Katanya dia kesel dan kecewa sama aku, karena dia selama ini hanya menganggapku hanya sebagai kakak. Dan memang kita masing terhitung saudara. Tapi saudara jauh. Kakeknya dia adalah adiknya Nenekku. " Lanjut Rizal.


" Berarti terhitungnya dia adik sepupumu ? " Ardi bertanya menyelidik.


" Iya dia adik sepupuku. "


" Berarti karena alasan itu dia menolaknya ? " Ardi semakin ingin tahu.


" Bukan hanya itu..... " Rizal membuang mukanya menghadap jendela. " Dia mencintai orang lain. Kamu mau tahu dia mencintai siapa ? " Rizal kembali menatap Ardi, menunggu jawaban dari Ardi atas pertanyaannya. Dan Ardi mengangkat bahu dan kedua tangannya, bertanda dia tidak tahu.


" Ck...orang itu adalah sahabat dia...sahabat yang telah lama hilang lalu kembali lagi..dan itu terjadi beberapa waktu yang lalu. " Rizal mengatakan dengan emosi yang tertahan. " Aku tidak habis pikir kenapa dia begitu mengharapkan orang itu. Apa dia tidak takut kalau suatu hari nanti orang itu akan kembali hilang dan meninggalkannya sekali lagi ? Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu rasanya sakit banget. " Rizal mencoba membuat lelucon untuk dirinya sendiri. " Aku gak mau kalau dia merasakan hal itu. Aku gak mau dia sedih. " Lanjut Rizal.


" Gak usah lebay kamu. " Ardi menahan tawanya.


" Bukan lebay, tapi memang begitu. Kamu kalau sudah jatuh cinta pasti akan melakukan hal yang sama denganku. Apalagi kalau kamu jatuh cinta dengan cewek yang sama denganku. Yaitu Dara. Iya Dara Amelia yang tadi kamu diskualifikasi. " Rizal mengatakannya dengan santai tanpa tahu apa yang terjadi dalam diri Ardi.


Deg! Seperti ada kupu-kupu didalam dada Ardi, ketika nama Dara disebut oleh orang lain. Ardi meneguk kopinya, dengan harapan kupu-kupu itu hilang dari dalam dadanya. Sebenarnya dia memang sedang mencari tahu apa yang dia lihat tadi diruang rapat dan info yang diberikan oleh Pak Bambang. Dia ingin memastikan sendiri. Tetapi ternyata setelah tahu ada perasaan yang tidak enak di dalam dadanya.


" Kamu kenapa, Di ? Kamu gak apa-apa ? " Rizal bertanya, karena dia melihat ada suatu hal yang janggal dengan sikap Ardi.


" Hmm...Tidak apa-apa. " Ardi tersenyum menutupi kondisi yang sebenarnya.


Iqbal datang bersama pelayan ke meja mereka.


" Pak, pekerjaan saya sudah selesai. Apa bapak mau saya antar pulang ? " Iqbal membungkukan badannya di depan meja Ardi.


" Tidak usah, saya bisa pulang sendiri. Laptop dan file-filenya tolong kamu taruh di mobil. Ini kuncinya. " Ardi mengambil kunci dari saku dalam jasnya lalu memberikannya ke Iqbal.

__ADS_1


__ADS_2