
" Assalamu'alaikum..Bi..Bibi..Bi Odah.." Dara masuk ke dalam rumah dengan perasaan heran, karena rumah sangat sepi.
" Ma..Mama...Pa..Papa.." Dara memanggil ke dua orangtuanya tapi ternyata tidak ada yang menjawab juga.
Dap! Dap! Dap! Dari arah belakang Dara mendengar orang sedang berlari. Tiba-tiba dia merasa ada yang menepuk bahunya.
" Aaahhh ! Pak Yogi ngagetin ajah deh.." Bahu Dara naik turun, dia kaget sampai nafasnya tersengal-sengal.
" Maaf neng..bukan maksud bapak ngegetin..cuma mau ngasih tahu..Mama sama Papa neng Dara lagi jenguk Mas Doni, katanya Mas Doni kecelakaan jadi mereka langsung kesana tanpa nungguin neng Dara. " Pak Yogi menjelaskan.
" Iiihh...kok Mama gak bilang aku sih ? " Dara langsung mencari HPnya didalam tas.
" Kata Nyonya, neng Dara tadi lagi mau ada meeting penting jadi Nyonya gak telpon neng. Takut ganggu katanya. " Lanjut Pak Yogi.
" Terus..kalo Bi Odah mana ? kok dipanggil-panggil gak nyaut juga pak ? " Dara sudah menemukan HPnya dan sekarang dia mencari nomer telpon mamanya. Dan setelah ketemu langsung tekan tombol hijau. Tut..Tut..Tut.. Nada telpon tersambung.
" Bi Odah juga ikut neng, buat bantu-bantu disana. Kata Nyonya kasihan Mba Aprilnya gak ada yang batuin. " Pak Yogi langsung kembali ke belakang setelah membaca isyarat tangan Dara.
" Halo Mama, kok gak ngabarin aku kalau mau ke Mas Doni ? " Tanya Dara setelah telpon diangkat.
" Halo cacing......" Kata orang dari sebrang telpon.
" Mas Doni...? Gimana mas ? Kata Pak Yogi, Mas Doni kecelakaan..Terus keadaan Mas Doni gimana ? Yang luka mana aja ? Gak parahkan ? Udah pergi ke dokter ? Udah minum obat ? " Dara memberondong pertanyaan ke kakak tercintanya.
" Hai adik ku sayang...Mas mu ini baik-baik saja. Hanya beberapa lebam dan luka lecet ajah sayang. Gak usah terlalu khawatir disini kan ada Mama Papa, terus Mba April juga jagain Mas. Jadi pasti Mas mu ini akan cepat sembuh. Oke adik ku si cacing kepanasan ? " Mas Doni menenangkan adiknya.
__ADS_1
Dara berjalan kearah dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Lalu dia menarik kursi di meja makan dan dia duduk disana. Gelas yang telah terisi air itu hanya digenggamnya.
" Kok diem ? " Mas Doni bertanya.
" Aku kangen.........aku kangen Mas Doni..hiks.." Tes! Tes! Air mata Dara jatuh. Dia sudah tidak bisa membendung lagi kerinduannya pada sang kakak.
" Hai adikku yang cantik...Mas Doni juga kangen sama kamu..kangen sama sifat manja kamu..kangen sama tingkahmu yang kaya cacing kepanasan itu..Nanti kita segera ketemu ya..Insya Allah kalo Mas dan Mba Aprilmu dapet cuti kita langsung terbang pulang ke rumah. Ok ? " Mas Doni menghibur Dara.
" Ok! " Jawab Dara lirih sambil menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
" Udah gak usah nangis lagi. Ayok cerita gimana hari mu hari ini ? Kata Mama kamu ada meeting buat pemilihan ratu sejagad, Ra. " Mas Doni menggoda.
" Ratu sejagad dari hongkong ! " Dara menjawab dengan sedikit sewot.
" Lah, terus yang bener apa dong ? "
" Owh..berarti Manager itu langsung dibawahi sama Pakde Wawan ya ? Terus gimana ? Adiknya Mas Doni pasti dapet dong, Ra ? "
"...Gak mas..yang dapet orang lain. "
Doni terdiam. Sebenarnya dia ingin tahu kenapa adiknya bisa tidak mendapatkan rekomendasi itu. Karena yang selama ini dia tahu adiknya akan melakukan yang terbaik.
" Tidak usah khawatir Mas...Aku sudah besar..aku bukan anak kecil lagi. Mungkin nanti Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Mungkin ini memang bukan rezeqi ku. " Kata Dara memecahkan keheningan.
" Ternyata memang benar adik kesayangannya Mas Doni udah besar. Tapi kalau boleh tahu kenapa kesempatan itu bisa terlepas dari genggamanmu, Ra ? Tapi kalau gak mau jawab pun gak apa-apa. "
__ADS_1
" Mas gak usah mencoba tanya ke Mas Rizal. Karena mas Rizal pun ada ditempat kejadian tadi siang.... Jadi entah kenapa file yang masih dikomputer tiba-tiba hilang ketika aku mau mengcopynya ke flashdisk. Padahal sebelumnya ada bahkan aku sudah mencetaknya. Karena aku tidak bisa menyerahkan softcopynya maka aku langsung didiskualifikasi. Mungkin memang seperti ini persaingan dunia kerja. "
" Yang sabar ya, Ra...Mas yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tetap semangat adikku. "
" Terima kasih Mas. Eh ngomong-ngomong Mama sama Papa mana ? Kok Mas Doni yang angkat telponnya ? "
" Si Kakek Nenek kecapekan habis main sama cucunya yang lagi aktif-aktifnya. Sekarang mereka lagi tidur dikamar. Kenapa mau ngomong sama Mama ? "
" Gak usah Mas..biarin mereka istirahat..nanti kalau Mama udah bangun kasih tahu kalau aku telpon ya Mas. "
" Ok deh! "
" Yudah, aku mau mandi dulu ya Mas..baru pulang nih belum ngapa-ngapain. "
" Ok! Jaga diri baik-baik disana ya..Salam kangen dari Mba April katanya. " Terdengar suara berbisik dari sebrang telpon.
" Iyah..salam baik buat Mbaku yang paling cantik..Bye Mas Doni...Bye Mba April.. "
" Bye.." Jawab kakak dan kakak iparnya berbarengan.
Dara meneguk air minumnya yang sedari hanya digenggamnya saja. Dara meninggalkan gelas kosongnya diatas meja makan. Dia pun meninggalkan tas kerjanya di kursi. Dia berjalan ke dapur yang bersebelahan dengan ruang makan. Dibukanya lemari dapur dimana mie instan berada. Dara mengurungkan niatnya untuk mandi terlebih dahulu karena ternyata perut sudah protes. Mengambil panci kecil lalu memasukan air secukupnya ke dalam panci tersebut. Dia akan memasak mie instan.
Dara membuka kulkas. Mengambil beberapa bahan pelengkap seperti telur,sosis dan cabai rawit. Tidak memerlukan waktu yang lama akhirnya mie instanpun sudah siap disantap. Dara menuangkan mienya itu dari panci ke mangkok yang sudah disiapkan. Dengan hati-hati dia membawa mangkok yang berisi mie yang masih panas ke meja makan. Dia memakannya dengan lahap.
Ketika sedang menikmati mie instan itu, Dara ingat untuk mendata siapa saja yang akan ikut ke puncak. Dara membuat pesan broadcast untuk semua karyawan yang ikut andil dalam peralihan tugas kak Ardi. Dia sudah menghabiskan makannya. Diletakkannya sendok, gelas, mangkok, dan panci bekas makannya di wastafel dan mencucinya sampai bersih.
__ADS_1
Dara mengambil tasnya yang tergeletak diatas kursi. Lalu dia berjalan keatas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampai di kamarnya dia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan badannya dari keringat. Berganti baju tidur mini dress, Dara duduk ditepi ranjangnya sambil melihat siapa saja yang sudah membalas pesan broadcast tadi. Diambilnya buku catatan kecil dirak buku samping tempat tidurnya, dan dia pun mencatat siapa saja yang ikut dan beserta siapa saja.
Walau hanya sekedar mencatat dan membalas pesan, ternyata itu sudah memakan waktu hingga dua jam lebih. Dan sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Dara menutup buku catatannya dan langsung memasukannya kedalam tas kerjanya. Kemudian dia merebahkan dirinya diatas kasur dan menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Dan dia pun langsung terlelap.