Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.70


__ADS_3

Salah seorang pewarta melaporkan secara langsung prosesi lamaran Ardi dan Dara via televisi besar yang sudah terpampang di depan rumah Pak Malik.


" Bisa pemirsa sekalian lihat, bahwa wakil Ceo BR group Pak Seno Ardibratha sudah mulai mengutarakan prakata sebelum cincin indah melingkar di jari manis seorang wanita muda bernama Dara Amelia, yang ternyata adalah teman lama pak Seno sendiri ketika beliau bekerja di salah satu perusahaan ternama lainnya sebelum akhirnya dia menjabat sebagai wakil Ceo seperti sekarang," ucap salah satu reporter.


" Seperti yang kita lihat barusan di layar televisi besar ini, bahwa ternyata Pak Seno sudah sejak lama memendam rasa cinta kepada Dara sejak dulu. Dan hingga sekarang dia masih sangat mencintainya. Baiklah kita ikuti kembali prosesi acara lamaran Pak Seno Ardibratha dan Dara Amelia, langsung dari kediaman Pak Malik," lanjut reporter itu.


" Aku ingin berterima kasih pada semuanya atas kedatangannya hari ini. Niatku hari ini adalah untuk melamar Dara di depan orang-orang yang kami sayangi dan sangat berarti bagi kami. Aku ingin semua orang akan membantuku menjadi saksi atas hal yang akan aku katakan." kata Ardi.


" Ra, aku ingin meminta maaf sekali lagi atas semua yang terjadi di masa lalu," lanjut Ardi. " Dimana tanpa sengaja aku membuat keputusan sendiri tanpa melibatkanmu, membuatmu kecewa, membuatmu kehilangan mood yang baik."


" Aku... Aku mencintaimu, Dara," ucap Ardi kemudian diiringi sorak soray para tamu yang hadir. " Aku akan melakukannya sebaikku. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan melindungimu dengan kekuatanku sendiri. Dan aku berjanji kepadamu, aku akan menjagamu sesuai dengan kemampuanku sebagai laki-laki."


" Dara Amelia, maukah kau menikah denganku?" tanya Ardi.


" Terima! Terima! Terima!" Sorak soray para tamu undangan.


" Iya, aku mau," jawab Dara dengan tersipu malu.


Lia dengan tangan membawa nampan berisi sepasang cincin pertunangan datang mendekat kearah Dara dan Ardi. Ardi mengambil terlebih dahulu cincin yang ada di atas nampan lalu menyematkannya di jari manis Dara. Kemudian Dara pun mengambil cincin yang tersisa dan memasangkannya di jari manis Ardi.


Tepuk tangan yang riyuh menjadi musik latar belakang penyematan cincin pertunangan dua sejoli yang dimabuk cinta, yaitu Ardi dan Dara.


" Om Malik, boleh aku minta ijin mencium tunanganku?" tanya Ardi.


" Tidak boleh!" jawab Pak Malik singkat.


Tidak hanya Ardi, bahkan seluruh tamu yang hadir merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Pak Malik. Lalu perlahan Ardi menerimanya, dia tersenyum kearah Dara dengan masih menggenggam kedua tangannya.


" Kamu tidak boleh mencium Dara sebelum kamu memanggilku papa," sambung Pak Malik yang langsung disambut sorak soray para tamu.

__ADS_1


" Terima kasih, Pah," ucap Ardi dengan mata berbinar-binar.


Ardi pun langsung mengatupkan kedua tangannya pada wajah Dara. Wajahnya semakin mendekat dengan wajah Dara. Eyang yang sedang duduk di kursi tamu mengintip dari sela-sela jarinya.


" A-ah!" papa Malik menggoyangkan jari telunjuknya. " Tidak boleh di bibir. Cukup di pipi saja."


" Buuuuu.....!!" teriak para tamu.


" Cup!" sebuah ciuman mendarat di pipi Dara.


" Cup!" Dara membalas, sebuah ciuman mendarat di pipi Ardi.


Sorak soray semakin gemuruh ketika adegan itu berlangsung. Acara lamaran telah usai dan para tamu undangan yang merupakan keluarga sendiri mulai memberikan selamat kepada sepasang kekasih yang sedang berbahagia.


Tanpa mereka sadari ternyata ada tamu tak diundang yang hadir dalam pesta lamaran itu. Rina Rosa dan kekasihnya Candra Wijaya bersalaman dan memberikan selamat kepada Ardi dan Dara.


" Selamat ya buat Dara dan Ardi. Aku harap rumor kemarin tidak mengganggu hubungan kalian," ucap Rina Rosa.


" Saya juga tidak masalah. Hanya saja calon istri saya tidak terbiasa dengan semua itu, maka saya harus meluruskannya. Itu salah satu cara saya menjaganya," jawab Ardi ketus.


Ayah Adit yang mengetahui ada sedikit ketegangan diantara mereka, lalu dia mengajak Rina dan Candra untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan.


Sementara itu Dara diajak mama Tika untuk menggantik high heelsnya. Karena dia sangat mengetahui kalau putrinya sedari tadi sudah merasa tidak nyaman dengan alas kakinya.


" Duduk disini dulu, sayang," perintah mama Tika. " Mama sudah meminta bi Odah untuk membawakan sepatu teplekmu kesini."


" Makasih, Mah," balas Dara.


"Halo, sayang," sapa mba April sembari menggendong baby El yang mengenakan kemeja dengan dasi kupu-kupu. " Selamat, ya! Sudah setengah jalan. Bentar lagi jadi nyonya Ardibratha. Semoga lancar sampai hari H dan langgeng terus ya."

__ADS_1


" Terima kasih, mba April," kata Dara sembari memeluk kakak iparnya itu. " Mas Doni mana, mba? Kok gak dateng ngasih selamat ke aku?"


" Tuh! Lagi menyemangati yang sedang patah hati." April menunjuk kesalah satu sudut dimana Doni dan Rizal berada.


" Mba, aku tidak ingin menyakiti perasaan seseorang."


" Ya ampun, sayang. Tidak apa-apa. Masalah cinta kadang seperti itu. Cinta itu masalah tentang dua hati, tidak bisa lebih dari itu. Kamu tidak perlu khawatir. Suatu hari nanti dia pasti akan menemukan orang yang tepat untuknya."


" Terima kasih, mba."


" Sayang, ayo ganti sepatunya dulu," ucap mama Tika saat bi Odah sudah membawakan sepatu yang diminta oleh majikannya.


" Iya, Mah. Aw! Sakit!"


Ada luka lecet di jari kelingking kaki Dara dan juga di pergelangan bagian belakang karena sepatu barunya itu.


" Pakai dulu plesternya," ujar mama Tika membuka bungkus plester. " Untung tadi mama bilang ke bi Odah suruh bawa plester sekalian. Ternyata benarkan ada yang lecet."


" Insting seorang ibu itu memang selalu benar. Cup!" Dara mendaratkan bibirnya ke pipi orang yang telah melahirkannya berpuluh-puluh tahun yang lalu.


Dengan langkah yang sedikit berat Rizal dan Doni mendekat kearah Ardi yang sedang berbincang dengan papa Malik, ayah Adit dan juga pak Wawan.


" Di, selamat untukmu ya," kata Rizal sambil mengulurkan tangan.


" Terima kasih, ya Bro," ucap Ardi menjabat tangan Rizal.


" Doni, kamu tidak memberi selamat pada calon adik iparmu?" tanya papa Malik.


" Dia baru menjadi tunangan Dara. Bukan suami dari adikku. Aku masih perlu memantaunya lebih dalam lagi," ketus Doni dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


" Wah! Saya benar-benar suka dengan karakter Doni. Benar-benar kakak yang sangat melindungi adiknya. Saya setuju sekali denganmu, nak Doni. Jangan lekas percaya! Carilah seluruh kelemahan dan keburukan Ardi yang dirasa dia tidak pantas untuk Dara. Karena saya pribadi merasa Dara terlalu baik untuknya. Saya mendukungmu!" papar ayah Adit yang membuat keempat pria lain bingung, termasuk anaknya sendiri.


__ADS_2