
" Sayang, piring-piringnya tolong dibawa ketempat cuci piring ya di dapur." Ucap Ibu Heni.
" Iya, Tante." Jawab Dara.
Dara membawa tumpukan piring kotor itu ke wastafel yang dimaksud Ibu Heni. Tadinya dia bermaksud membantu mencucikan piring-piring kotor itu tapi dihentikan oleh salah satu rewang Eyang yang kebetulan lagi mencuci bekas masak tadi.
" Gak usah neng.. Biar saya aja yang cucinya. Neng ke dalem aja," kata rewang itu.
" Baik Bi, saya ke dalam dulu." Kata Dara sambil mencuci tangannya, lalu ia kembali ke dalam rumah.
" Emang teu niat ngabantuan.. Dibilangin gitu aja udah langsung masuk ke dalam." gumam Tante Suci yang ternyata didengar oleh Eyang yang hendak ke kamar mandi.
(*Emang gak niat ngebantuin)
" Ucih! Ulah ngomong kitu! Eling! Maneh boga budak awewe.. Aing mah teu hayang incu aing dikitukeun ku dulur salakina." Ucap eyang dengan nada sedikit kesal sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
(*Ucih! Jangan ngomong begitu! Ingat! Kamu punya anak perempuan....Saya mah gak mau cucu saya dibegitukan sama saudara suaminya.)
Tante Suci langsung mematung setelah mendengar ocehan Eyang.
Di halaman rumah eyang, Dara duduk disamping Lia memperhatikan orang-orang yang sedang menata dekorasi dan panggung untuk acara besok.
" Besok acaranya jam berapa, Li?" tanya Dara.
" Sekitar jam 9 atau 10, Teh." Jawab Lia.
Dara melihat sekelilingnya, mencari keberadaan Ardi. Tapi dia tidak menemukannya. Akhirnya dia mencoba berjalan keliling halaman eyang yang cukup luas itu.
Disalah satu bangku di sudut taman dengan dengan diterangi lampu taman dia melihat sesosok bayangan yang dikenal, yang dia cari sedari tadi. Dara pun mendekati bangku taman itu dan dia mendengar ada dua orang yang yang sedang berbincang disana.
Dara mengenali kedua suara orang itu. Ya! Itu suara Ardi dan Febri. Dan Dara pun mulai penasaran apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
" Cukup Febri!" hardik Ardi.
" Di, dengarkan aku dulu! Aku akan melepaskan semuanya demi kamu termasuk sekolah kedokteranku." Ucap Febri dengan nada memelas.
" Aku tidak akan menikah dengan wanita yang tidak ku cintai. Jadi menyerahlah!"
" Gak! Aku gak peduli! Aku gak akan menyerah sampai kapanpun. Walaupun kamu menolakku seribu kali aku akan tetap mengejarmu. Kamu adalah obsesiku, Di!"
__ADS_1
" Hehehe..Obsesi? Kamu gila Febri!"
Febri memeluk lengan Ardi lalu berkata," Iya aku gila! Aku gila karena kamu Ardi!"
" Hentikan Febri!" Ardi menepis tangan Febri.
Febri kembali memeluk lengan Ardi.
" Walaupun kamu marah, aku akan tetap tinggal hingga sisa hidupku. Seno Ardhibrata, aku mencintaimu."
Ardi menepis lagi tangan Febri dengan sedikit lebih kasar dari sebelumnya.
" Tidak! Aku tidak mencintaimu!" kata Ardi berjalan meninggalkan Febri.
Febri setengah berlari mendahului langkah Ardi. Merentangkan kedua tangannya untuk menghentikan langkah Ardi.
" Kamu tidak boleh pergi!" Ucap Febri.
" Kalau kamu ingin pergi........" Febri melingkarkan kedua tangannya di leher Ardi, dan disaat itu juga dia menyadari ada orang lain yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Yaitu Dara.
" Cium aku... Atau aku tidak akan membiarkanmu pergi.. Kecuali aku akan memaksamu melakukannya." Sambung Febri.
" Kamu mau aku ingin semakin marah kepadamu dan membencimu seumur hidupku?" Kata Ardi ketus.
" Minggir dari jalanku!"
" Apa yang tidak baik dariku sehingga kamu lebih memilihnya? Katakan padaku, Di! Aku akan merubahnya. Aku akan berubah menjadi seperti yang kamu minta." Kata Febri dengan sedikit gemetar dan meneteskan air mata.
" Di, aku mohon kamu terima aku ya! Plis! Bagaimana kamu bisa mengetahui kalau kita tidak bahagia jika kita belum pernah bersama? Ku mohon, Di. Berikan aku kesempatan." Lanjut Febri.
" Maaf! Waktuku akan terbuang sia-sia jika menjalaninya dengan orang yang tidak ku cintai. Permisi!"
" Ardi!" pekik Febri. Tapi Ardi terus saja berjalan tanpa melihat ke belakang.
" Lihat aja kamu, Di! Aku akan membuatmu berbalik arah dan hanya akan melihat ke arahku." gumam Febri sembari mengusap air mata dengan jemari lentiknya.
Dara yang melihat Ardi pergi dari tempat itu, ia pun mengejar langkah calon suaminya. Tetapi, dia justru berpapasan dengan orang lain.
" Dara? Ngapain kamu disini? Ini dunianya yang terlalu sempit atau memang kitanya yang berjodoh karena selalu sering ketemu?" Tanya Fandi.
__ADS_1
" Kalo ngomong dipikir dulu! Jangan ngaco! Minggir aku mau lewat." ketus Dara.
" Et! Kamu mau kemana? Jangan buru-buru, Ra! Kita ngobrol dulu bentar." Fandi menghentikan langkah Dara.
" Eh? Kamu masih pake jaket ini, Ra?" Sambung Fandi.
" Iya! Emang kenapa?"
" Bukannya dulu kamu sering bilang kalau lagi pake jaket ini rasanya hangat berasa dipeluk aku, bener gak? Berarti kamu selalu kangen sama aku dong, Ra. Waahh..aku gak nyangka kamu segitunya sama aku Ra."
" Apa lu bilang barusan?" Ucap Ardi dengan mata tajamnya, yang tiba-tiba ada diantara mereka.
" Kak Ardi!"
" Eh.. Pak Bos. Gak ngomong apa-apa. Cuma lagi mengenang masa lalu aja. Iya gak, Ra?" Fandi mengerlingkan matanya.
" Jadi wakti dulu itu.. Dara sering bilang kalau lagi pake jaket ini dia berasa lagi peluk sama aku. Iya kan, Ra? Apa lagi sekarang hawa disini dingin jadi makin berasa hangatnya deh.. Makin berasa dipeluk sama aku," lanjut Fandi.
" Sini!" Ardi mendekati Dara, lalu ia memaksa Dara melepaskan jaketnya.
Setelah itu dia membawa jaket itu ke bak sampah depan halaman rumah eyang. Di dalam bak sampah itu api sedang berkobar. Ardi menjatuhkan jaket itu ke dalam kobaran api.
" Kok dibakar?" Tanya Dara yang berlari mengikuti Ardi.
" Kenapa? Kamu marah sama aku karena udah ngebakar jaket yang sangat memorial buat kalian berdua?" Ardi kesal.
" Kak Ardi, kamu........"
" Kenapa? Kamu kesal sama aku karena kamu udah gak bisa merasa dipeluk lagi sama Fandi?"
Dengan penuh rasa kesal di dada, Dara meninggalkan Ardi. Dia berlari ke dalam rumah eyang menuju kamar Lia dengan linangan air mata. Ayah Adit, ibu Heni, dan Lia yang melihat hal itu tidak berani untuk menanyainya lebih jauh.
" Arrggghh!" Ardi teriak penuh dengan rasa amarah didadanya.
Eyang menghampiri Ardi dengan membawa sweater rajut ditangannya, dan beliau pun berkata, " Sebenarnya disaat masih muda semua orang bisa melakukan kesalahan. Semua orang mengira dialah yang paling istimewa di dunia ini. Jadi, tuntutan kepada kekasihnya juga semakin tinggi." Eyang mengusap-usap punggung Ardi.
" Diantara sepasang kekasih yang paling penting adalah pengertian. Harus suka pada keburukan dari pasanganmu, karena kebaikannya adalah bonus. Kalau ada yang mau merebut kekasihmu, berarti dia cukup baik. Jangan termakan dengan hasutan para mantan yang ingin merebut kekasihmu! Jangan pula melepaskannya, karena itu akan memudahkan mereka merebut kekasihmu itu." sambung Eyang.
" Eyang.... Aku hanya tidak rela dia masih menyimpan barang-barang dari mantannya... Terlebih dari orang itu." Ucap Ardi yang amarahnya mulai menurun.
__ADS_1
" Maafkan dia... Eyang yakin neng Dara tidak berniat seperti itu. Berikan ini kepadanya." Kata Eyang sembari meletakan sweater rajut itu ke tangan Ardi.
" Perhatian darimu akan membuat dia selalu menghargaimu." lanjut Eyang.