
...18 ++...
...Under age skip ya...
...Udah aku warning...
-
-
Beruntunglah bagi Skala dan Bianca, Rain sepertinya lelah bermain seharian di sekolah. Putra mereka itu sepertinya tertidur lelap malam ini. Memiliki anak tidak lantas menghilangkan Hasrat mereka untuk bercinta, bahkan lebih dari tahun-tahun sebelum kehadiran Rain. Ranjang keduanya terasa semakin panas dengan makin berpengalamannya mereka dalam urusan yang satu itu.
Dengan tubuh yang sudah tak tertutup sehelai benang pun, Skala terus mencumbui Bianca, lidahnya berpetualang dari mulai wajah hingga bukit istrinya itu tak luput dari jangkauannya. Ia pun menikmati pabrik ASI Rain yang telah ditinggalkan pemiliknya sejak setahun yang lalu.
“Bagaimana kalau kita membuatkan Rain adik?” menghentikan sapuan lidahnya, Skala berbisik dengan suara serak karena dirinya sudah diselimuti oleh nafsu.
“Kita hampir setiap hari membuatkan adik untuk Rain.” Bianca menatap sayu wajah suami tercintanya itu dengan sedikit senyuman, ia sudah ingin diajak terbang ke awang-awang.
“Maksudku, hentikan penggunaan alat pencegah kehamilan yang kamu pakai, aku ingin seorang anak perempuan yang mirip denganku.” Kali ini Skala menyasar kembali ceruk leher Bianca. Istrinya itu sampai meremas sprei ranjang karena perlakuannya.
“Ke-napa harus mirip denganmu? Kalau dia perempuan seharusnya mirip denganku, Em .. “ Bianca menggelinjang geli.
“Karena Rain mirip denganmu, tak adil rasanya jika anak kita tidak ada yang mirip denganku.” Tangan Skala mulai membimbing anconda miliknya masuk, menembus hutan amazon untuk bertemu piranha yang sangat dicintainya.
Dengan sekali sentakan kasar, anaconda tak ada ahklak Skala mulai bergerilya, mencari kepuasan dengan terkadang maju dan terkadang mundur menubruk piranha. Bianca meremas punggung suaminya, membuat Skala meringis kesakitan.
Di tengah-tengah acara saling mencari setitik kenikmatan surga duniawi itu, Skala menggerutu. “Kamu lupa memotong kuku ‘mu.”
Bianca hanya mengangguk, “Maaf!” lirihnya di sela hujaman kenikmatan yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
Tak peduli dengan perih yang dirasakannya, Anconda terus menumbuk piranha. Desahan dan bunyi penyatuan dua mahkluk itu menggema di dalam kamar. Sampai erangan tertahan keluar dari bibir Skala dan anaconda sukses menyemburkan bisanya. Papa Rain itu roboh memeluk tubuh Bianca.
“Sebenarnya aku sudah tidak memakai apa-apa Ska," ucap Bianca sambil masih mengatur deru nafasnya.
“Dasar!” Skala tersenyum, dikecupnya bibir dan kening Bianca, sebelum ia berguling ke samping tubuh istrinya itu.
“Aku ingin kamu memintanya sendiri seperti tadi.”
“Lalu sejak kapan kamu melapasnya?” Skala menarik selimut menutupi tubuhnya dan sang istri, ditariknya Bianca sampai merapat ke dalam pelukannya.
“Em … sejak lama, mungkin tiga bulan ini,” ucap Bianca kurang yakin.
“Apa kita perlu ke dokter spesialis kandungan lagi? Bahkan kita tidak tahu hasil analisis spermaa ‘ku dulu seperti apa. Kita tidak pernah datang mengambilnya.”
Bianca tertawa, ia cium pipi Skala sambil mencurukkan wajahnya ke dada suaminya itu. “Tidak usah, kita dulu hanya kurang bersabar saja, nanti juga akan ada waktunya Rain punya adik.”
“Emang kita bisa request gitu mau muka anak mirip siapa? dasar!” Bianca menjauhkan kepalanya, ia tatap Skala dengan mimik gemas.
“Pokoknya harus mirip aku biar adil!” Skala cemberut, jika bersama istrinya ia tak segan-segan menunjukkan sikap manjanya.
“Kalau begitu aku juga menginginkan keadilan, aku yang akan memberi nama adik Rain kalau dia perempuan. Biar adil karena yang memberi nama Rain dulu adalah kamu,” balas Bianca.
“Memang kamu sudah punya nama untuk anak kita nanti kalau dia perempuan?” Skala memasang ekspresi penasaran.
“Punya donk.” Bianca menatap badak Afrikanya dengan serius.
“Siapa?”
Skala tersenyum sambil membelai pipi istrinya penuh cinta, binar antusias dengan nama anak yang akan diberikan Bianca ke anak perempuan mereka kelak terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
“DORA!” ucap Bianca penuh penekanan.
“APA?” mulut Skala seketika menganga lebar.
“Karena namamu Skala dan identik dengan peta, maka anak kita jika perempuan akan aku beri nama Dora.”
“TIDAK!” tolak Skala mentah-mentah.
“Kenapa? katanya ingin yang mirip denganmu?” Bianca tertawa menggoda suaminya.
Skala terlihat tidak setuju, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, menolak ide nama yang dicetuskan Bianca tadi.
“Ayo Papa Skala kita bikin Dora yuk.” Bianca mengerlingkan matanya memberi kode meminta ronde kedua.
“Tidak …. Tidak …” Skala menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
-
-
-
-
Like
Komen
Baca Bab selanjutnya ya 🥰🥰
__ADS_1