Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Modus


__ADS_3

Setelah politikus bernama Irene itu pergi, Nuna duduk di depan Prawira. Sebelum menagih bayaran yang ditawarkan Prawira untuk melepaskannya dari kencan buta itu, Nuna terlebih dulu meminta makan siang mewah seperti yang terhidang di atas meja.


Nuna dengan santainya makan sambil membalas pesan dari sang asisten yang berisi laporan bahwa ibu Irene tidak suka dengan Prawira dan menolak dicomblangkan dengan pemilik PG group itu.


Kata Ibu Irene tuan Prawira memiliki sugar baby, bahkan anak-anak di bawah umur.


Nuna mengunci ponselnya lalu kembali menikmati hidangan di hadapannya, sebagai seorang mak comblang, Ia tidak pernah megaransi setiap kencan buta yang disusun akan berjalan lancar. Sebagai Madam Zi, ia juga tidak mau diberi target waktu oleh kliennya. Nuna percaya bahwa meskipun dijodohkan, chemistry dari dua belah pihak harus ada. Ia lebih menyarankan kliennya untuk mengulangi kencan buta dengan pria atau wanita yang lain.


"Terima kasih ya sudah menyelamatkan kakek, apa nomor rekening kamu masih sama?" tanya prawita kepada Nuna yang tengah melahap makanannya sampai pipinya terlihat menggelembung.


"Hem … masih sama kek, jangan lupa! Jika perlu bantuan lagi panggil aku saja."


Nuna bergumam dalama hatinya, ini kali pertama Ia mendapati kliennya gagal dalam kencan buta dan parahnya yang menggagalkan adalah dia sendiri—Madam Zi.


Radit yang sudah kembali masuk ke dalam restoran pun langsung diminta sang atasan untuk mentranfer sejumlah uang ke Nuna. Gadis itu tersenyum bahagia, lalu dengan sengaja mengkerlingan sebelah matanya ke Radit yang tengah meliriknya.


"Astaga anak ini!"


***


Sementara itu di rumahnya, Skala masih saja tidak mau makan. Alasannya karena sang istri yang masih menolaknya melakukan ritual pelepasan kecebong. Saat Skala sibuk memilih baju ganti, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dari asisten Madam Zi. Pesan itu berisi laporan bahwa kencan buta kakeknya gagal total karena Prawira ternyata sudah memiliki sugar baby.


Bianca yang baru saja masuk dan melihat Skala masih terbengong duduk di atas ranjang hanya bisa menggelengkan kepala. Dengan lembut Ia bertanya kepada Skala apakah benar tidak mau makan, padahal perutnya sampai berdendang tadi.


Papa peanut itu malah meminta Bianca untuk duduk di sebelahnya lalu menunjukkan pesan dari asisten Madam Zi.


"Wanita politikus yang yang berkencan dengan kakek marah karena pacar kakek datang ke tempat kencan buta mereka, bahkan disebutnya sugar baby, masih muda belia," ucap Skala.


"Hah, apa tidak salah Ska? apa ada gadis belia yang mau sama kakek?" cibir Bianca.


"Apa kamu lupa? Kakek kaya raya, dia lebih Sultan dari aku."


"Ya sudahlah gagal sekali kan masih ada empat wanita lagi? bukankah begitu?" Bianca menyerahkan ponsel sang suami kembali.


"Iya, untung saja Madam Zi menyodorkan banyak foto wanita, karena isi perjanjian dengan mak comblang itu, dia akan memilih beberapa wanita yang cocok untuk dijodohkan, tapi jika dia rasa hanya ada satu yang cocok dia tidak akan memberi saran lainnya, padahal bayarannya mahal, aku mengeluarkan uang seratus juta."

__ADS_1


"Mahal ya! Lalu siapa nama lengkap Madam Zi?" Bianca begitu penasaran dengan sosok mak comblang itu.


"Apa perlu aku tanyakan? Beni yang mengurusi pembayarannya."


"Tidak perlu, untuk apa? Sudahlah lupakan dulu urusan kakek, kamu belum makan. Kalau kamu sakit nanti aku juga yang bingung." Bianca berdiri, digenggamnya pergelangan tangan Skala.


"Apa kamu mengkhawatirkan aku? daripada makan aku ingin kamu menciumku dulu." Skala mejamkan matanya sambil mendongakkan wajahnya ke arah Bianca.


"Dasar ..."


Bianca merangkum pipi Skala, mencium kening laki-laki manja itu, beralih ke pipi lalu ke bibir.


"Sudah?" tanya Bianca sambil mencubit kedua pipi suaminya.


Skala masih tak beranjak, badak Afrikanya itu malah senyum-senyum sambil menaik turunkan alis matanya.


"Apa sih?" Bianca berpura-pura tak mengerti maksud dari Skala. "Ayo ah! nanti keburu dingin makanannya."


"Aku mau susu langsung dari sumbernya mama." Skala merajuk bak anak kecil, mengekor Bianca yang berjalan mendahuluinya turun ke lantai bawah.


"Ah Cacamarica, kamu ngeselin."


Skala mendahului istrinya turun dari tangga. Melihat tingkah suaminya Bianca tertawa geli. Disusulnya belahan jiwanya itu. Saat Skala sudah duduk di meja makan, dengan penuh perhatian Bianca meletakkan segelas air lalu berbisik...


"Bukan aku ya Ska, tapi Little peanut. Dia tadi bilang pengen dijenguk papa," ucap Bianca menggoda.


Skala yang sedang mengunyah makanan pun menjadi tersedak, Ia terbatuk-batuk mendengar kalimat nakal Bianca.


"Jangan sampai kamu berubah pikiran lagi nanti, awas!"


Bianca pun tertawa geli, Gadis itu lantas duduk di sebelah Skala dan menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan. "Maaf ya, mungkin hormon kehamilan membuat mood ku naik turun."


Skala meletakkan sendoknya, Ia acak-acak rambut Bianca yang benar-brnar membuatnya tergila-gila.


_

__ADS_1


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Dikit dulu ya Zeyeng, semoga kalian udah biasa sama ritme up aku yang acakadul. Jangan lupa habis baca jempol di goyang ya buat LIKE KOMEN sama VOTE...

__ADS_1


...Love you ❤...


__ADS_2