Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Tiga Tahun Kemudian


__ADS_3

Kehidupan Bianca sudah tenang sekarang. Hari-hari yang dilaluinya bersama Skala dan Rain juga penuh warna dan rasa bahagia. Bianca sudah menerima dengan ikhlas penyebab kematian mamanya. Hubungannya dengan Salma pun sudah membaik sejak tiga tahun yang lalu. Hal itu dikarenakan Bianca dengan sepenuh hati membantu mama tirinya untuk membujuk sang papa agar memaafkan Billy. Pada akhirnya kembali lagi bahwa darah lebih kental dari pada air. Nataniel tidak sampai menjebloskan anak tertuanya itu ke dalam penjara. Ia memaafkan Billy.


Begitu juga dengan Prawira. Pria yang berjasa dalam hidupnya karena menjodohkannya dengan badak Afrikanya itu sekarang juga sudah bahagia. Pria itu menikahi Hana. Hidup mereka juga terbilang harmonis meskipun sudah bisa dipastikan tidak akan ada buah hati diantara mereka. Jelas bukan karena samurai yang tidak bisa menebas apel California. Prawira tidak ingin istri tercintanya hamil di usia yang sudah bisa mengancam keselamatan jiwa. Dasar kakek, jika urusan yang satu itu dia tetap tidak mau kalah dengan cucunya.


Namun, ketenangan Bianca dan Prawira sepertinya tidak didapatkan oleh Skala. Terbukti hari itu, jam masih menunjukkan pukul delapan pagi di hari Minggu. Skala bangun dalam keadaan kesal, Ia mengguyar rambutnya sambil bersungut bagaikan cacing kepanasan, sejak kemarin suara deru mesin dan truk besar seolah semakin mengganggu ketenangan blok perumahannya.


“Orang gila dari mana yang merobohkan rumah seharga dua puluh miliar dan membangunnya kembali?” gerutu Skala sambil membuka jendela kamarnya.


Sudah beberapa minggu ini situasi blok Kamboja tidak kondusif menurut Skala, tapi sebenarnya yang merasa terganggu hanya lah dirinya saja, bahkan Bianca dan sang anak yang kini berumur tiga tahun masih terlelap dalam tidurnya meskipun suara bising terdengar.


“Tidak bisa dibiarkan!”


Dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaus, Skala keluar rumah. Selang satu rumah darinya sedang ada pembangunan rumah baru. Pengerjaan rumah itu sepertinya dikebut, karena setahu Skala dari dia bangun tidur sampai akan tidur lagi tidak ada jeda aktifitas pembangunan.


“Siapa penanggung jawab di sini?” Skala sudah memasang muka garang, amarahnya sudah meletup-letup bagai air mendidih di dalam teko.


“Maaf Pak ada apa ya?” Seorang Pria berpakaian rapi mendekat ke arah Skala dan bertanya dengan sopan.


“Apa kalian tidak bisa membiarkan aku sedikit tenang? dari pagi sampai pagi lagi kalian menimbulkan kegaduhan dan suara berisik.”


“Mohon maaf Pak saya hanya mandor dan kami hanya bekerja di sini, jika bapak ingin mengeluh bapak bisa menghubungi pemilik rumah ini!”


Jawaban Pria itu membuat Skala semakin naik pitam. “Kalau begitu berikan aku nomor telpon pemilik rumah ini sekarang juga.”


***

__ADS_1


“Papa – papa!”


Bianca terbangun, Rain sudah duduk di sebalahnya sambil menangis. Anak itu mencari keberadaan Skala. Memutar ke sekeliling markas, Bianca mengerjabkan matanya karena tidak mendapati suaminya di sana.


“Sini sama mama, papa ke kamar mandi mungkin,” ucap Bianca sambil menggendong putranya.


Rain begitu dekat dengan Skala, bahkan terkadang Bianca seolah menjadi orang asing jika keduanya tengah bercengkerama.


Mendudukkan sang putra ke kursi, Bianca heran dengan sikap suaminya yang langsung membuka kulkas dan mengibas-ngibaskan kausnya setelah masuk ke ruang makan.


“Papa!” panggil Rain.


“Sebentar Rain, papa kepanasan,” ucap Skala.


Bianca yang melihat tingkah suaminya pun terheran-heran, tak ada peluh yang membasahi kening pujaan hatinya itu, tapi kenapa Skala terlihat seperti orang yang habis lari keliling komplek tujuh putaran.


“Aku kesal dengan tetangga baru itu, belum pindah ke sini saja sudah mengganggu, apalagi jika dia sudah pindah.”


“Hem … namanya juga lagi ngebangun rumah Ska ya pasti berisik. Lagian aku pensaran sekaya apa dia sampai merobohkan rumah sebesar itu dan membangunnya kembali.”


“Hah … paling kakek-kakek tua yang sedang membangunkan rumah untuk sugar baby nya,” seloroh Skala menghina.


“Aku hari ini mau ke salon, kamu pergi belanja sama Rain ya.” Bianca mentowel pipi suaminya, merayu.


"list belanjaannya nya sudah kamu tulis kan?"

__ADS_1


"Sudah, Jangan lupa beli tisu galon bergerigi.'


Rain tertawa girang melihat Papanya menyemburkan air minum yang belum sempat ditelan, matanya menyorot tak percaya memandang wajah Bianca. Ia tak menyangka pembicaraan absurd mereka semalam dianggap serius oleh istrinya.


_


_


_


_


_


_


_


_


...LIKE...


...KOMEN...


...bagi KEMBANG 🌹...

__ADS_1


...mamacih...


__ADS_2