Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Menghitung Hari


__ADS_3

Viona menatap sendu wajah Tama. Hari itu untuk kali pertama sang anak mengunjunginya setelah dirinya dijebloskan ke dalam penjara. Tak ada senyum di bibir Tama, apa yang ia pikirkan jelas tak bisa dibaca oleh sang mama. Memegang tangan Tama yang berada di atas meja, Viona benar-benar merasa sakit karena suami Felisya itu terlihat sangat dingin kepadanya.


"Apa kamu sudah benar-benar pulih? bagaimana kabarmu?" tanya Viona ragu.


Tama tak langsung menjawab, jika ada rangkaian huruf yang lebih dalam maknanya dari kata kecewa, mungkin itu lah kata yang bisa mengibaratkan perasaannya.


"Apa Felisya sudah melahirkan?" Viona kembali bertanya, mencoba mencairkan suasana beku diantara dirinya dan Tama.


"Sudah, kami memiliki seorang putra." Akhirnya laki-laki itu mau untuk berbicara.


"Maafkan mama," lirih Viona.


"Seharusnya mama meminta maaf ke Skala, bukan padaku."


Viona terdiam, seberapa besar pun usahanya mencoba membuat Tama melunak sepertinya tak akan berhasil, anaknya itu tetap saja bersikap sama.


"Apa kamu sudah menemui papa kandungmu?"


Mata Tama menyorot kesal, Ia tahu apa maksud wanita yang melahirkannya itu memberi tahu kebenaran siapa ayah biologisnya. Hal yang dilakukan Viona pasti tak jauh dari hal berbau materi.


"Aku sudah sering menemuinya karena dia papa Bianca," ketus Tama.


"Kamu tahu dengan jelas apa maksud dan tujuan mama memberitahumu." Viona melepaskan tangan sang anak. Entah kenapa masih tidak ada rasa penyesalan di wajahnya.


"Mama, aku tidak tahu apakah harus membantu mama agar mendapatkan keringanan hukuman."


"Apa kamu sudah menemui papamu?" tanya Viona penasaran.


"Tinggal menghitung hari untuk menghadapi sidang pertama papa, bagaimanapun juga beliau adalah satu-satunya anak kakek yang tersisa, jadi sebisa mungkin kakek pasti akan membantu meringankan hukuman papa."


Viona terdiam, Ia sadar bahwa Maher sangat mencintainya sampai rela menutupi perbuatan jahat yang dilakukan olehnya.


"Aku hanya ingin memberi tahu mama, aku tidak akan lari ke Tuan Nataniel. Aku juga akan melepaskan nama Prawira, mungkin terlihat sombong tapi aku ingin berdiri dengan kedua kakiku sendiri," ucap Tama dengan penuh keseriusan.


***


Jika Maher menghitung hari menunggu sidang pertamanya, sang keponakan tengah menghitung hari kapan bisa melakukan hiya hiya bersama istrinya lagi.


Skala menekuk bibir sedangkan jari telunjuknya terlihat menghitung tanggal pada kalender yang ada di ponselnya.

__ADS_1


"Sampai kapan aku tidak boleh menyentuhnya?"


Merebahkan kepala, Skala terlihat tak bersemangat. Ia membuat mode selfie kamera ponselnya. Menatap wajahnya yang kusut, Ia menunjuk-nunjuk bagian bawah matanya.


"Wah... apa ini? apa ini kantung mata? tidak boleh, tidak, apa aku sudah tua? aku harus melakukan perawatan wajah." Skala berbicara seperti orang gila. Ia lantas memanggil Beni untuk masuk ke dalam ruangannya.


Alangkah terkejutnya Skala saat sekretarisnya itu masuk ke dalam dengan menggunakan kacamata hitam. Beni memang izin berangkat ke kantor terlambat, bapak tiga anak itu hanya mengirimkan pesan saat sudah sampai di kantor, tanpa masuk dan menyapa dirinya secara langsung seperti biasa.


"Kamu kenapa siang-siang pakai kacamata hitam, apa kamu habis operasi katarak?" cibir Skala.


"Tidak pak, hanya fashion," jawab Beni. "Kenapa bapak memanggil saya, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ben, tolong carikan aku salon pria, aku ingin mendapatkan treatment untuk kantong mata, lihat! gara-gara begadang menjaga Rain, ada keriput di bawah mataku," ucap Skala sambil menunjuk bagian bawah matanya.


"Bapak tidak seberapa, lihat mata saya!"


Skala kaget, ternyata Beni memakai kacamata untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya.


"Kenapa kamu?" tanya Skala ketakutan, wajah sekretarisnya itu sudah mirip dengan hantu yang biasa ditampilkan di sinetron misteri.


"Bapak tahu kan? istri saya juga baru saja melahirkan, saya harus menjaga anak dengan begadang semalaman. Nah, saat mau tidur istri saya bangun minta jatah, alhasil mata saya seperti panda Pak." Beni mencurahkan isi hatinya.


Bukannya menyampaikan rasa simpatinya, Skala malah lebih tertarik ke hal yang lain.


"Em... saya tidak bisa memastikan berapa lama, yang pasti setelah masa nifasnya selesai, mungkin enam minggu," ucap Beni sedikit ragu.


"Aku sedang menghitung hari, sudah lama aku dan Bianca tidak bermesraan, kamu tahu? setiap kali ingin menciumnya, Rain pasti bangun dan menangis."


"Ya begitulah Pak, anda harus terbiasa. Jadi bagaimana? bapak jadi ingin saya carikan salon pria? dan apa boleh saya ikut?" Beni tersenyum manis dan sedikit berharap.


"Boleh saja."


***


Dua jam kemudian


Beni berlari ketakutan karena Skala memakai jasnya untuk memukuli badannya. Bagaimana tidak marah, sekretaris sableng itu membawanya ke sebuah salon plus plus.


"Sial! kamu mau mati?" omel Skala.

__ADS_1


"Lha saya ga tahu pak, saya cuma cari di gulugulu."


"Bodoh! apa kamu tidak membaca review nya dulu ha?" Skala sangat kesal, bahkan wajahnya memerah menahan marah.


"Review nya bagus kok pak, ada yang bilang mantap, puas."


"Kalau Bianca tahu aku bisa dicincang habis, aku bisa dia umpankan ke piranha, dasar!"


"Maaf pak, tenang saja! tidak mungkin istri anda akan tahu," ucap Beni membela diri.


Sementara di rumah setelah menidurkan Rain, Bianca duduk sambil mengecek ponselnya, ia membuka group chat geng sultini blok kamboja untuk mencari sedikit hiburan. Namun, matanya malah melotot tak percaya melihat pesan Bu Erin di sana.


Bianca pun marah sampai menggertakkan giginya, "Dasar Se ... ketek!"


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


...Halo All, terima kasih sudah Mau baca tulisan aku, jangan lupa LIKE KOMEN ya. mamacih...


...I lup u...


__ADS_2