Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Tidak Marah


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Skala langsung memapah Melanie turun dengan bantuan Andra, mereka menuju Instalasi Gawat Darurat dan beberapa perawat dengan sigap langsung menolong dan memeriksa keadaan Melanie.


"Aku harus segera kembali, aku meninggalkan Bianca di restoran bersama duo Julid,"ucap Skala panik.


Andra yang tidak mengerti siapa duo Julid yang dimaksud sahabatnya hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih karena Skala mau menemaninya sampai ke rumah sakit.


"Kabari aku kalau anakmu sudah lahir, aku balik dulu." Pamit Skala sambil menepuk pundak Andra.


Dengan sebuah taksi, Skala kembali ke restoran yang ia tinggalkan tadi. Betapa terkejutnya Ia saat mendapati sang istri sudah tidak berada di sana. Beruntung di saat dirinya tengah kebingungan, seorang pelayan restoran mendekat dan bertanya.


"Apakah bapak Tuan Skala Prawira?"


Skala pun menganggukkan kepalanya, sejurus kemudian pelayan itu menyerahkan ponsel miliknya yang dengan sengaja Bianca titipkan kepada pelayan restoran sebelum pergi. Tak menunggu lama, Skala langsung mendial nomor telepon Bianca lalu menanyakan dimana keberadannya sekarang.


"Coba tebak dimana aku berada, kalau kamu bisa menemukanku aku akan melupakan kesalahanmu, tapi jika tidak—aku tidak akan memaafkanmu karena telah meninggalkanku begitu saja, waktumu hanya tiga puluh menit."


Skala mengguyar rambutnya, Iya kemudian duduk sejenak di dalam restoran untuk memikirkan keberadan sang istri. Ia tiba-tiba yakin Bianca pasti tidak akan kembali ke kantor. Skala tahu betul bahwa sang istri pasti akan malas dan lebih memilih untuk pulang ke rumah.


***


Rasa lega menyelimuti hati Skala saat melihat mobil miliknya sudah terparkir di halaman rumah, Duo julid pun menyambutnya dengan senyuman aneh.


"Apa dia marah?" tanyanya kepada Lidya dan Julian.


"Tidak Tuan, Nyonya tidak marah. Nyonya bahkan menghabiskan makan siangnya."


"Bersikap biasa saja itu yang menakutkan Julian,"ucap Skala yang langsung masuk ke dalam rumah. Setengah berlari Ia menaiki anak tangga menuju markas.


Skala menghela napasnya, menyemangati dirinya dalam hati saat menemukan Bianca. Istrinya itu tengah sibuk menata baju bayi yang mereka beli kemarin. Sebuah lemari tambahan sudah disiapkan Bianca untuk menyimpan pakaian little peanut mereka.


"Ca …," sapa skala dengan sedikit rasa takut di dalam hatinya.


Tidak seperti yang ia duga, Bianca menoleh ke arahnya dengan senyuman lebar. Gadis itu pun langsung bertanya tentang keadaan Melani, dan apakah bayi pengacaranya itu sudah lahir.


"Aku tidak tahu, tapi aku minta Andra mengabari. Sesampainya di rumah sakit aku langsung naik taksi kembali ke restoran. Maaf!Kamu tidak marah kan Ca?"


"Apa kamu begitu panik sampai melupakan istrimu sendiri?" sindir Bianca.


"Hem … aku tiba-tiba membayangkan jika tadi adalah dirimu, apa melahirkan begitu menyakitkan sampai Melanie menjambak bahkan aku ditampar olehnya."

__ADS_1


"Dia menamparmu? Awas ya dia! berani-beraninya." Bianca meletakkan pakaian bayi yang ada di tangannya, membayangkan sang pengacara menampar pipi sang suami membuatnya begitu emosi.


Skala pun tersenyum kemudian memeluk Bianca secara tiba-tiba. "Aku tidak bisa membayangkan jika kamu yang kesakitan, apa kamu masih ingin melahirkan secara normal? Bagaimana kalau operasi saja supaya kamu tidak perlu merasakan sakitnya kontraksi seperti yang dialami Melanie tadi." tawar Skala.


"Aku ingin berusaha melahirkan secara normal dulu, tapi jika Dokter berkata harus melakukan operasi aku juga tidak akan membangkan. Aku ingin merasakan bagaimana berjuang melahirkan anakmu ke dunia—anak kita." Bianca mengusap punggung Skala, kemeja suaminya itu terasa basah, Bianca pun tersenyum, Skala pasti benar-benar buru-buru dan panik tadi.


"Wow kata-katamu benar-benar menyentuh sanubari Ca." Skala tertawa, tapi tanpa disangka air mata sudah menggenang di pelupuk netranya.


"Apa kamu terharu? Jangan kasihani aku, tapi dukung aku Ska, oh ya aku ingin kamu ikut kelas prenatal bersamaku," bisik Bianca.


Skala hanya menganggukkan kepalanya. "Melanie begitu sangat kesakitan, aku tidak bisa membayangkan jika itu kamu. Aku tidak ingin kamu merasakan sakit, jika kamu tidak ingin hamil lagi aku juga tidak akan memaksa."


Bianca melepaskan pelukannya, menatap suaminya lalu memberikan sebuah kecupan dibibir, "Aku ingin setidaknya kita memiliki tiga orang anak, tidak enak rasanya menjadi anak tunggal Ska, aku tidak ingin little peanut bernasib sama seperti kita, setidaknya dia harus punya adik yang bisa dia lindungi. Adik yang bisa menjadi temannya saat mereka sama-sama dewasa nanti."


Skala merengkuh tubuh Bianca, pelukannya memang sudah tidak bisa seerat dulu karena perut Bianca yang berisi little peanut seolah membuat jarak di antara mereka.


"Ska, itu bunyi apa?" Bianca mengedipkan lalu memutar bola matanya.


"Perutku Ca." Skala memejamkan mata, ia merasa malu karena perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat.


"Ya ampun, kamu belum makan siang kan?" Bianca setengah berteriak lalu menangkup pipi suaminya, menekan-nekan sampai membuat muka Skala terlihat lucu.


"Tapi habis itu makan mama ya, kemarin kan ga jadi!" Skala menaik turunkan alis matanya, menggoda.


"Emang kamu sudah melakukan reboisasi?" Bianca melirik ke bawah kemudian berjalan keluar kamar ganti sambil berusaha menahan tawanya.


"Ya sudah besok aku akan ke Korea melakukan cangkok rambut," jawab Skala sekenanya.


"Sekalian aja kamu rebonding biar ga kriting," cibir Bianca.


"Baiklah kalau perlu sekalian aku smoothing, cream bath dan ku warnai." Skala kesal memikirkan mau sampai kapan anacondanya harus menuggu.


"Turunlah! aku membawa pulang makanan dari restoran yang sudah kamu pesan tadi."


"Ogah, aku mau mogok makan."


Tak ada jawaban lagi dari Bianca karena gadis itu sudah menghilang turun ke lantai bawah.


"Cacamarica Hoi...."

__ADS_1












Otor : ini hari apa ya?


Reader : Maljum tor (masang senyum pepcoden)


Otor : Aku cuma nanya doank kok


Reader :



Otor : vote aja ngapa


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


__ADS_2