Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Bisa Diandalkan


__ADS_3

Skala memasuki ruang konferensi pers bersama Bayu dan beberapa wakil perusahaan dari Niel Fashion lainnya. Ia duduk tenang, menatap kedepan tanpa peduli pada jepretan kamera yang mengambil gambarnya. Di hadapan Skala sudah ada aneka mikrofon dan recorder yang siap merekam suara. Ada beberapa chanel Youtube dan televisi swasta yang juga turut menunggu klarifikasi dari pihak Niel Fashion.


Berhubung keadaan Bianca tidak memungkinkan untuk memberikan klarifikasi terkait rumor yang beredar, terpaksa Skala harus menggantikan istrinya demi memperbaiki nama Bianca selaku direktur utama Niel Fashion.


Lampu-lampu kamera dinyalakan, pertanda acara akan segera di mulai. Bayu memajukan kursi duduknya dan meraih mikrofon yang ada di depannya.


"Selamat siang para hadirin yang saya hormati. Perkenalkan saya Bayu sekertaris ibu Bianca.


Di sini saya tidak akan bertele-tele, dan langsung menjelaskan duduk perkaranya."


"Pertama, Niel Fashion mengeluarkan produk baru berupa bra fashion wanita yang kami beri nama A New Able Bra. Di mana produk itu di muat dalam majalah The Beauty Magazine London sebagai produk fashion inovative karena kelayakan dan kuwalitas produknya. Terbukti, dalam perilisan A New Able Bra terjual sebanyak lebih dari dua juta buah. Di mana penjualan produk dari perusahaan kami nyaris menjajaki pasar mancanegara andai tidak ada rumor fitnah yang membuat produk kami diboikot secara menyeluruh seperti saat ini."


"Kedua, kami akan membahas masalah rumor fitnah yang menuding produk kami sebagai pemicu perselingkuhan yang terjadi di beberapa kalangan masyarakat. Kami telah mengantongi bukti yang akurat untuk melawan para korban yang merasa dirugikan oleh produk baru keluaran dari perusahaan kami. Untuk lebih jelasnya, saya serahkan semua ini pada Tuan Skala Prawira selaku suami dari direktur utama Niel Fashion—Ibu Bianca Nataniasunny untuk menjelaskan. Kepada Tuan Skala Prawira dipersilahkan."


Bayu mematikan tombol mikrofon yang ia pegang, lantas memundurkan duduknya untuk mempersilahkan Skala berbicara.


"Selamat siang hadirin yang saya hormati, saya di sini untuk mewakili istri saya Bianca selaku direktur utama Niel Fashion, kenapa istri saya tidak bisa hadir? karena dia tengah terbaring lemah karena penurunan kesahatan."


"Saya akan mengklarifikasi rumor buruk yang sudah merugikan kami baik secara fisik ataupun materi ini. Seperti yang sudah di jelaskan saudara Bayu, Niel Fashion akan menuntut keras para pembuat rumor gila yang terkesan mengada-ngada dan berniat menjatuhkan perusahaan istri saya."


Skala nampak semakin tegas. Tidak ada aura gugup ataupun takut di wajah itu. Di mana semua mata dan kamera tertuju padanya.


"Kami sudah melakukan pertemuan dengan pihak yang merasa dirugikan oleh produk ini, saya tidak perlu menjelaskan apa yang kami bahas. Yang pasti saya akan menunggu satu kali dua puluh empat jam untuk mereka memberi penjelasan ke seluruh masyarakat dan meminta maaf di depan publik karena telah memfitnah dengan keji Niel fashion."


"Jika tidak, kami akan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan tuntutan pencemaran nama baik," tegas Skala.


Mata suami Bianca itu masih menyorot tajam, ia mengingat pertemuannya dengan beberapa wanita yang menjadi dalang dibalik demo besar-besaran dan pemboikotan produk Niel Fashion.


***


Beberapa jam sebelumnya


Skala mengundang beberapa wanita yang sudah bisa dipastikan menjadi biang keladi kejadian yang sampai membuat istrinya stress. Tanpa basa-basi, ia tatap satu persatu wanita itu. Tak ada rasa hormat yang ia tunjukkan. Skala benar-benar kesal. Jika boleh memukul wanita, ia pasti sudah menggampari wanita itu satu persatu.


"Kami tidak sudi jika kamu mengundang hanya untuk menyuap kami dengan gepokan uang." Salah satu wanita berbicara dengan sedikit kasar.


"Untuk apa kami memberikan uang kepada anda yang jelas merugikan perusahaan kami?" cibir Skala.


"Saya tidak ingin berbicara banyak dengan anda semua, silahkan anda sekalian simak beberapa video ini," ujar Skala.


Semua mata wanita itu mengarah pada proyektor yang sedang menyala. Di mana membuat mereka tercengang melihat adegan demi adegan yang terpampang di layar itu.


Video itu berisi CCTV yang menangkap bukti-bukti perselingkuhan dari suami mereka, para wanita yang seolah menjadi korban A NeW Able Bra. Skala dengan gamblang menjelaskan waktu dan tempat kejadian. Ia membuktikan bahwa produk New Able Bra tidak bersalah karena kasus perselingkuhan suami mereka dilakukan jauh sebelum perilisan A New Able Bra.


"Apakah Video ini sudah cukup membuktikan?Kalau tidak, saya akan memberikan video yang lebih privasi lagi pada Anda sekalian di meja konferensi pers nanti." Pandangan Skala tertuju pada para wanita itu. Mereka yang tadi bersikap arogan seketika diam, tak ada yang berani melawan.


"Perselingkuhan yang terjadi pada suami anda semua adalah murni selingkuh tanpa ada sangkut pautnya dengan produk istri saya. Bahkan, ada yang melakukan perselingkuhan itu tahun lalu— jauh saat New Able Bra belum di rilis." Bicara Skala mulai geram.


"Apa anda pikir masuk akal? Orang selingkuh hanya karena sebuah Bra? Bagaimana jika wanita itu tidak suka mengenakan Bra?"

__ADS_1


Semua orang yang ada di dalam ruangan mendadak tertawa mendengar kelakaran yang keluar dari bibir Skala kecuali para wanita itu.


"Pada intinya, Niel Fashion akan menuntut anda semua, akan saya pastikan anda semua jera dan malu. Namun, istri saya berpesan untuk memberikan anda semua pilihan terlebih dulu. Pertama, meminta maaf atas tuduhan kepada Niel Fashion dengan mengakui bahwa perselingkuhan suami anda bukan karena produk kami. Kedua, kita selesaikan semua ini di meja pengadilan dengan bukti-bukti yang memalukan ini."


Pilihan Skala membuat wanita-wanita itu bergidik ngeri dan akhirnya memutuskan meminta maaf dari pada harus berurusan sampai pengadilan.


***


Bianca yang masih berada di rumah sakit nampak berbaring miring di atas kasur. Alih-alih menonton suaminya dari televisi yang ada disana, ia memilih melihat Skala dari benda pipih miliknya.


Membelakangi pintu, gadis itu tak sadar bahwa sang suami sudah masuk ke dalam kamar rawatnya sambil meletakkan telunjuk di depan jari, meminta Lydia diam. Perlahan Skala mendekat ke arah ranjang. Lydia menunduk lalu berdiri pelan memohon diri keluar ruangan.


Skala meletakkan jasnya pelan di sandaran sofa, menggulung lengan kemejanya lalu naik ke atas ranjang Bianca. ia berbaring di sisi istri tercintanya dan langsung mencium pipi gadis itu.


"Kapan datang?"


Menoleh, Bianca menatap papa peanut yang tengah menyangga kepala dengan tangan kirinya.


"Baru saja, kamu terlalu asyik melihat sultan tampan kan?" goda Skala.


"Terima kasih, kamu memang bisa diandalkan." Bibir Bianca tersenyum, matanya masih terus menatap video di ponselnya.


"Itu tidak gratis ya Ca."


"Perhitungan!" cibir Bianca. "Katakan! kamu minta apa?" Bianca meletakkan ponselnya lalu berbalik perlahan menatap suami sultannya.


"Ah sepertinya aku tahu apa yang akan kamu minta."


Bianca mengerucutkan bibirnya, membuat Skala langsung menyambar benda kenyal yang tak berpoles pewarna bibir itu, melumaatnya manis sambil memejamkan mata.











__ADS_1


















PRHH, alumni UH AH, Reader mesumable:



Otor : Aku ga ngerti kamu rindu sama apa (pura-pura)


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5 ...


...lope lope ❤...

__ADS_1


__ADS_2