Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Bukan Anak Kandung


__ADS_3

Sengaja pulang lebih awal, Bianca dan Skala pergi mengunjungi kediaman sang kakek untuk menjenguk Tama yang akhirnya diperbolehkan pulang dari Rumah sakit.


Begitu sampai di istana Prawira, Skala memarkirkan mobilnya di halaman dan langsung turun menggandeng Bianca masuk ke dalam rumah.


Tama dan Felisya tampak sudah duduk di ruang keluarga bersama Prawira. Pria tua itu terlihat begitu bahagia melihat kedatangan cucu kesayangannya bersama sang istri.


"Kakek kira kamu sudah lupa dengan rumah ini, Ska!" seloroh Prawira yang duduk dengan tegap di sofa empuk yang berada di ruangan itu.


"Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perusahaan kek." Skala langsung mendudukan diri berhadapan dengan Prawira, Bianca pun mengikuti langkah sang suami.


"Gimana keadaan kamu, Tamia?" tanya Skala yang tatapannya langsung beralih pada Tama yang duduk di seberangnya.


"Seperti kamu lihat, meski kakiku patah tapi aku masih sehat dan kuat." Tama membanggakan diri.


"Cih, dasar Tamia." Skala memutar bola matanya ketika mendengar jawaban Tama.


"Oh ya, Ska! Bagaimana perkembangan bibi mu Viona?" tanya Prawira kepada cucunya itu.


Mendengar nama sang mama, wanita yang pernah mengandung dan membesarkannya membuat Tama terdiam dan hanya mendengarkan penuturan adik sepupunya itu.


"Kemungkinan besar tante Viona akan di jerat pasal berlapis dan di jatuhi hukuman seumur hidup," tandas Skala yang di akhiri dengan melempar tatapan pada Tama yang terlihat menundukan kepala.


"Begitu ya! Pada akhirnya semua perbuatan memang akan mendapatkan balasan." Prawira menghela napas kasar, kemudian ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Tama tiba-tiba dengan raut wajah yang begitu serius.


Prawira, Skala maupun Bianca langsung menatap Tama yang terlihat sedikit menunduk dengan meremas jemarinya. Felisya yang duduk di sebelah sang suami terlihat merengkuh lengan pemuda itu kemudian menggenggam telapak tangan yang berkeringat karena rasa gugup yang menggelayuti hati suaminya. Hilang sudah rasa marahnya melihat Tama serapuh itu.


Felisya menatap dalam-dalam manik mata sang suami yang tengah menatapnya mencari kekuatan, gadis itu mengingat ucapan Tama kepadanya tadi.


Fel, jangan marah padaku lagi! sekarang yang aku miliki hanya dirimu dan calon anak kita, aku benar-benar merasa sendirian, aku berniat keluar dari rumah kakek segera, apa kamu mau ikut? apa kamu akan menemaniku?


Hati Felisya serasa diiris mendengar ucapan Tama, Ia pandangi wajah suaminya yang masih pucat itu dalam-dalam, sebuah kalimat yang meluncur dari bibirnya membuat Tama tersenyum bahagia.


Aku akan ikut kemanapun kamu pergi.


***


"Aku sudah tahu siapa aku sebenarnya," ungkap Tama.

__ADS_1


"Kamu Tamia, siapa lagi?" cibir Skala.


Bianca yang melihat air muka serius dari wajah Tama pun mencubit sisi perut badak Afrikanya, memberi Skala kode agar diam dan mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh sepupunya itu.


Tama menghirup udara sebanyak-banyaknya, seakan apa yang ingin ia katakan butuh energi lebih untuk mengutarakannya. Ia kemudian mengembuskannya perlahan dan bersiap mengatakan sebuah kebenaran yang hanya di ketahui oleh Viona dan Maher.


"Aku sudah mengetahui kebenaran jika aku bukanlah putra kandung dari papa," ungkap Tama kemudian.


Tangan suami Felisya itu terlihat bergetar ketika mengungkapkan fakta yang sebenarnya tentang dirinya, fakta dari hasil mencuri dengar perbincangan sang mama dan papa.


"Apa?"


Skala dan Bianca terkesiap dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Tama. Prawira menunjukkan sedikit rasa terkejutnya mendengar penuturan dari Tama.


Felisya yang memang sudah tahu akan hal itu terlihat biasa, ia menggenggam erat telapak tangan Tama, melempar senyuman hangat penuh cinta dan kasih sayang untuk mendukung laki-laki yang menjadi suaminya, calon ayah dari janin yang tengah tumbuh di dalam perutnya.


Tentang kenyataan jika Tama adalah kakak dari Bianca, sampai sekarang belum ada yang mengetahui kebenarannya. Baik Tama maupun Bianca masih menganggap jika mereka adalah saudara ipar.


"Tidak mungkin, mustahil!" ucap Skala berusaha mengingkari ucapan Tama.


"Apa perlu aku melakukan tes DNA dengan papa?" Tama tersenyum, meskipun hatinya lara.


"Aku juga ingin meminta izin ke kakek, setelah aku benar-benar pulih, aku ingin pindah dari sini."


"Aku sudah berniat pindah ke perumahan yang sama dengan Skala dan Bianca, tetanggamu ada yang namanya bu Ratih kan? dia sudah lama tidak menempati rumahnya karena sibuk dengan bisnisnya di Thailand, aku berniat membeli rumahnya," terang Tama.


"Apa kamu gila? sebegitu inginkah dirimu menempel padaku?" cibir Skala.


Tama hanya tertawa menanggapi ledekan laki-laki yang masih dia anggap adik sepupunya itu. "Aku juga ingin istriku tahu, bahwa aku juga kaya sama seperti mantan kekasihnya."


"Hem, beli saja lagipula harganya murah hanya sepuluh miliar," tukas Bianca.


"Ngaco! harganya lebih dari dua puluh miliar Bi."


Ucapan Tama membuat Bianca melotot kemudian menatap Skala yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu sadar bahwa dia belum jujur sampai sekarang soal harga rumah yang mereka tempati.


"Ska.... "


"Apasih? santai Ca, lagi pula aku juga tidak menagih cicilan seperti perjanjian kita," ucap Skala keceplosan.

__ADS_1


"Perjanjian?" Felisya mengernyitkan dahinya.


"Dasar mulut!" Bianca melotot kesal, sementara Prawira hanya tertawa menanggapi ucapan cucu kesayangannya, Pria tua itu sibuk menatap Tama.
















_


...LIKE...


...KOMEN yang banyak...


...VOTE...

__ADS_1


...ADD FAVORITE...


...makacih 🥰...


__ADS_2