Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : 41 Panik


__ADS_3

Skala yang mendapat panggilan telepon dari Bianca pun merasa senang, sebuah pertanda bahwa istrinya itu sudah tidak marah lagi kepadanya, soal pembalakan liar sepertinya sudah terlupakan.


Skala langsung menyambar jasnya dan berkata akan kembali setelah acara makan siangnya dan sang istri selesai, meninggalkan Beni yang masih saja berkutat dengan dokumen di ruangannya.


Beni pun terheran-heran, bukankah baru saja atasannya itu mencurahkan isi hatinya perihal istrinya yang sedang marah? Namun, tidak ada tiga puluh menit Skala sudah terlihat tersenyum bahagia karena mendapatkan panggilan telepon dari sang istri.


"Pasangan aneh," gerutu Beni kemudian kembali fokus ke pekerjaannya.


***


Menggenggam erat tangan Bianca yang duduk di sampingnya, Skala sukses membuat Julian dan Lidya dibuat kebingungan. Duo julid sekarang duduk di kursi penumpang, menyaksikan adegan romantis majikannya. Skala membawa mobilnya sendiri ke sebuah restoran favorit mereka.


Skala memang curang, laki-laki itu sudah tidak mau dijaga oleh Bodyguard, sementara Ia tetap mempekerjakan Julian dan Lydia untuk menjaga sang istri.


Duo Julid saling menyenggol pundak satu sama lain, adegan mesra di hadapan mereka sangat bertolak belakang dengan adegan pagi tadi. Skala menciumi punggung tangan sang istri sambil mengemudi. Julian pun tidak berani menegur majikannya, kalau sampai berani bisa-bisa dia akan diceramahi mulai dari Sabang sampai Merauke tanpa henti.


Dengan bergandengan tangan, Skala dan Bianca masuk ke dalam restoran. Bianca pun sudah memesankan meja sendiri untuk Julian dan Lydia. Namun, baru saja akan duduk, sebuah sapaan membuat keduanya menoleh. Bianca kaget mendapati pengacara dodolnya dan sang suami juga berada di sana.


"Kalian ya mentang-mentang sudah saling mencintai dan tidak ada masalah lalu melupakan kami," cibir Andra sambil melakukan tos ala pria dengan Skala.


"Maaf kami sibuk, tidak seperti kalian pengangguran banyak acara." Mulut pedas Bianca memang selalu membuat gatal telinga.


"Hey Bi, apa kamu tidak sadar? kami bisa melunasi hutang kurang dari lima bulan ke kalian, karena kami banyak klien dan juga kami terlalu fokus kepada tumbuh kembang bayi yang ada di kandungan Melani, iya kan sayang?" Andra menyombongkan diri.


Melani hanya tersenyum sambil mengusap perutnya, Ia lalu beralih mengusap perut Bianca yang berdiri di hadapannya.


"Bukankah seharusnya persalinanmu sebentar lagi?" tanya Bianca ke sang sahabat.


"Hem ..., rasanya sudah beberapa kali aku merasakan kontraksi palsu pagi ini." Melanie berjalan mengekor Bianca, merekapun duduk satu meja dan mulai memesan makan siang.


Tak lama setelah pelayan pergi membawa pesanan mereka, Melanie mulai terlihat tidak nyaman, gadis itu beberapa kali menggeser posisinya. Namun, lama kelamaan ia mulai meringis menahan sakit.


"Apa? Apa? Kenapa? Apa sakit lagi?" tanya Andra cemas.


Bianca dan Skala yang tidak menyadari perubahan pada Melanie pun kaget setelah mendengar pertanyaan Andra.


"Sakit Ndra," teriak Melanie sambil mencengkeram lengan sang suami.


Skala pun langsung berdiri, menepuk pundak Andra kasar dan malah dia yang panik. Andra pun kaget, semua orang langsung menatap kearah Melanie yang masih meringis sambil memegangi perutnya.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan Mel." Bianca langsung berdiri dari kursinya sambil menatap Melanie dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Bawa ke rumah sakit cepat!" teriak Skala panik. Cucu kesayangan Prawira itu klimpungan—bingung sendiri.


Andra yang awalnya tenang jadi ikut kalang kabut. Bianca yang melihat sahabatnya berteriak kesakitan pun menjadi ketakutan sendiri, teriakannya benar-benar mengintimidasi.


"Ndra! cepat ambil mobil dodol, kamu mau anakmu brojol di restoran!" Skala ketakutan, Ia menunjuk-nunjuk Melanie sambil meremas-remas udara di hadapannya.


"Tarik napas! buang , tarik napas! tarik a ... a ... a … a sa—sa—sakit," pekik Andra karena sang istri malah menjambak rambutnya.


"Aku yang sakit tau!" Melanie melotot marah, gadis itu kembali berteriak dan menangis.


Andra menyerahkan kunci mobilnya ke Skala, meminta sahabatnya itu untuk segera mengambil mobil miliknya dari parkiran.


"Sabar ya sayang, jangan lahir disini!" Doa Andra sambil memapah sang istri keluar.


Bianca hanya bisa mematung terheran-heran, apalagi melihat sang suami yang ikut panik. Begitu juga duo Julid yang bingung tak tahu harus berbuat apa.


Saat mobil sudah berada di depan restoran, Skala langsung membantu Melanie masuk, entah bagaimana bisa terjadi, Ia duduk di kursi penumpang sementara Andra berganti posisi memegang kemudi. Bianca yang kebingungan pun hanya bisa memandangi kepanikan dua pria itu dari depan pintu restoran.


Secepat kilat Andra membawa mobil pergi ke rumah sakit, Melanie yang tengah menahan sakitnya kontraksi berkali-kali berteriak meminta agar sang suami mempercepat laju mobil. Skala pun berusaha menenangkan dan ...


PLAKK


Sebuah tamparan mendarat di pipinya dari Melanie.


Tamparan itu seolah membuat Skala tersadar, Ia lalu menengok ke belakang, restoran yang akan menjadi tempat makan siangnya bersama sang istri sudah tidak nampak.


"Bianca ... Aku ninggalin Bianca!" ucap nya panik.


"Mati aku Ndra!" Skala menjambak rambutnya, Ia bahkan meninggalkan ponselnya di meja restoran.


Sementara Bianca memilih duduk bersama dua bodyguard nya, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala lalu menyambar hidangan Lydia, memakannya dengan gaya santai.


"Bayangkan jika itu tadi aku, kira-kira apa yang akan dilakukan tuanmu?"


Bianca terus melahap makan siangnya sambil menatap Julian dan Lydia. Ia terlalu lapar untuk memutuskan akan marah atau tidak kepada suaminya.




__ADS_1

















_


...Aku mode kalem, kalau mau liat aku ngoceh ke IG aja dulu yak @nasyamahila...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE yang banyak...


...ADD FAVORITE...

__ADS_1


...RATE BINTANG 5...


__ADS_2