
Nuna terlihat bersungut mendapati ternyata tidak hanya dirinya yang meminta bantuan Dewa mengerjakan tugas selama ini. Nyatanya gadis bernama Kimi itu sedang meminta bantuan cowok yang disukainya sekarang, bahkan dengan serius Dewa mengajari Kimi dan seolah mengabaikan keberadaan dirinya yang sedang berada di sana.
Mba Barbie yang keluar membawakan minuman untuknya pun memilih untuk tidak segera kembali masuk ke dalam, mengapit nampan di ketiaknya, wanita itu mulai berbicara.
“PR apasih non Kimi?”
Mendengar Mba Barbie memanggil nama saingannya begitu akrab, mata Nuna mendelik. Otak cerdasnya menyimpulkan bahwa selama ini berarti gadis bernama Kimi itu sering datang ke rumah bu Dewan.
“PR matematika mba,” jawab Kimi yang fokus menyimak penjelasan Dewa.
Nuna menekuk lengannya ke depan dada, Ia sedikit kesal melihat kedekatan dua mahkluk berbeda jenis di hadapannya. Melihat Nuna yang cemberut, seketika muncul ide jahil mba Barbie untuk mengerjai keponakan Bianca itu.
“Non Nuna, mba Barbie punya soal nih.”
Nuna melirik pembantu bu Dewan itu. Dengan gaya yang sedikit sombong ia menatap tajam mba Barbie dan dengan lantang berkata soal apapun pasti mudah untuk dia selesaikan.
“Apa soalnya mba? aku pasti bisa menjawabnya.”
Perbincangan Nuna dan sang pembantu memancing rasa penasaran Dewa, cowok itu pun meletakkan pulpen untuk mendengarkan percakapan keduanya, begitu juga dengan Kimi yang langsung menegakkan badannya.
“Ini soal tentang pecahan ya!”
“Oke, beri aku kertas dan pulpen kak!” Pinta Nuna ke Dewa. Cowok itu pun tersenyum sambil memberikan apa yang Nuna minta.
“Oke mba Barbie, matematika kan? Cuss … apa soalnya.”
“Dengerin baik-baik ya Non, berapa pecahan hati yang terbentuk saat melihat gebetan dekat sama cewek lain?”
Sontak Nuna melotot, mulutnya sudah meleyot ke sana kemari, jelas wanita itu sedang menggodanya.
Kimi pun terlihat bingung, ia tatap Dewa yang ternyata tengah memandangi wajah Nuna yang memerah menahan malu. Merasa pertanyaan pembantu bu Dewan itu menyindirnya, Nuna memilih langsung berdiri.
“BERKEPING-KEPING,” jawab Nuna dengan penuh penekanan. Ia tatap Dewa kemudian Kimi, gadis itu merapikan bagian belakang rok yang dikenakannya dan langsung berlari masuk ke dalam untuk berpamitan ke bu Dewan. Ia memilih kabur dari pada terbawa perasaan di sana.
***
Masuk ke dalam rumah tantenya, Nuna baru ingat bahwa Bianca berada di rumah Felisya. Ia galau tapi di sisi lain dia benar-benar harus melakukan ini.
__ADS_1
“Berikan pada onty Bianca!” Perintah Nuna ke Julian.
“Kenapa tidak anda berikan sendiri?”
“Ish … sudahlah, aku sedang patah hati, aku ingin segera pulang dan menangis di kamar,” ucap Nuna yang langsung meninggalkan bodyguard Bianca dalam keadaan bingung.
Hampir saja Nuna memesan sebuah taksi online, saat ia melihat Prawira yang baru saja pulang dari kencannya bersama Hana. Pria tua itu berjalan keluar mobil yang diparkirkan Radit di depan rumah Tama. Prawira bersenandung riang, sambil merapikan rambutnya dengan tangan.
“Sugar Grandpa!” teriak Nuna menyapa.
Prawira yang menoleh pun terlihat tertawa, dirogohnya dompet dari sakunya lalu melambaikan tangan meminta Nuna mendekat ke arahnya.
“No … No aku tidak minta uang ke kakek, aku sedang tidak napsu melihat uang,” tolak Nuna.
“Tumben.” Dahi Prawira yang sudah berkeriput terlihat semakin mengkerut. “Lalu apa yang kamu mau?”
“Pinjamkan dia untukku!” Nuna menunjuk Radit, kelakuannya sukses membuat sekretaris sekaligus bodyguard Prawira itu menoleh ke belakang.
“Apa?” Radit terkejut, dengan kedua tangannya ia memandang sang tuan dan membuat tanda penolakan.
“Heh … Radit bukan barang Nuna.”
“Tapi silahkan kalau mau dipinjam.” Prawira menepuk pundak Radit. Ia tertawa terbahak-bahak sambil masuk ke dalam rumah.
“Anda mau apa?” Radit pasang kuda-kuda menatap gadis yang sedang melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kencan yuk!” ucap Nuna tanpa dosa.
***
“Kamu sedang apa?” mata Bianca yang baru saja masuk ke dalam kamar teralihkan dengan kegiatan Skala yang tengah membaca sebuah buku di sofa.
Bianca membaringkan Rain dan memastikan bayi mungilnya itu nyaman.
Skala meletakkan buku di tangannya, menarik Bianca dan menyandarkan kepalanya di perut sang istri.
“Itu diary mamamu yang hilang Ca.”
__ADS_1
“Apa?”
Bianca yang tak percaya langsung mendorong pundak suaminya, Ia menyambar buku dari atas meja. Matanya mulai menyapu setiap kata yang tergores di sana.
“Dari mana? Dari mana kamu mendapatkannya?” Bianca terlihat begitu kaget.
“Julian.”
“Julian?” Mama Rain itu semakin kebingungan mendengar penjelasan Skala.
“Nuna menitipkannya pada Julian.”
“Nuna?”
Bianca merasa ada yang tidak beres, ia seketika bingung mengaitkan hubungan antara Nuna dan diary sang mama.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
__ADS_1
...RATE BINTANG LIMA...
...ADD FAVORITE...