Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Vitamin D


__ADS_3

Siang itu, sebelum pergi berkencan dengan Hana. Prawira membooking sebuah salon untuk melakukan perawatan wajah. Meski umurnya dan Hana terpaut hampir dua puluh tahun. Namun, karena resep rahasianya buyut Rain itu masih terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya.


Prawira hanya menerapkan gaya hidup sehat dan bahagia. Pria tua itu tipikal manusia yang pandai mengatur emosi. Tak seperti cucu kesayangannya, yang tanpa Prawira tahu sedang membuat kekacauan di pesta koleganya sekarang.


Setelah dirasa penampilannya cukup paripurna untuk menggetarkan relung hati Hana, Prawira menuju restoran semi outdoor dengan pemandangan asri yang telah ia booking bersama Radit. Disampingnya ada sebuah bucket bunga berwarna merah dan sebuah kotak yang akan dia berikan ke Hana.


Prawira terkejut saat memasuki restoran yang berada satu area dengan lapangan golf klubnya, ia mendapati Hana sudah berada di sana. Pria itu pun merasa tak enak hati, bagaimana bisa dia membuat wanita secantik Hana menunggu.


"Maaf, saya tadi ... "


Belum sampai Prawira menjawab, Hana terlebih dulu berkomentar, "Pak Prawira, wajah anda glowing sekali."


Prawira pun malu mendapat pujian seperti itu, ia menyerahkan bucket bunga ke Hana dengan memalingkan mukanya dan tertawa.


Makan siang dua insan yang sudah tak muda lagi itu sungguh terbilang romantis. Alunan musik mengiringi perbincangan yang mereka lalui. Kini tiba saatnya Prawira memberikan apa yang ia siapkan dari jauh-jauh hari. Radit cepat-cepat berlari saat tuannya memberikan kode. Berdiri di samping Hana, Radit menyodorkan sebuah kotak.


"Apa ini pak Prawira?" Tanya Hana sambil membersihkan bibirnya.


"Buka saja, semoga anda suka."


Perlahan Hana membuka kotak itu yang ternyata berisi kunci mobil. Wanita itu pun terkejut dan tak menyangka mendapat hadiah semahal itu saat kencan pertamanya bersama Prawira.


"Pak ini.... "


"Apa kamu tidak suka? ah kamu pasti sudah memiliki banyak mobil di rumah." Prawira langsung menyimpulkan bahkan sebelum Hana menyelesaikan kalimatnya.


"Bukan begitu pak... "


"Kalau begitu aku akan membelikanmu jet pribadi saja, atau kamu ingin sebuah pulau? Katakan saja!"


Hana terdiam seribu bahasa. Maksud saya hadiah ini terlalu mahal.


Bibir ibunda Audrey itu tersenyum, ia bingung harus membalas hadiah apa ke Pria yang saat ini terus memandanginya sambil tertawa. Tanpa Hana ketahui, Prawira sudah meletakkan amplop bertuliskan. "Will you married me?" di dalam mobil itu.


***


Antara kesal dan kasihan, Bianca mencoba merapikan kemeja Skala yang sudah tak berbentuk. Ia sisir rambut suaminya itu dengan jemari tangannya. Julian yang membawa mobil pun terheran-heran melihat kemeja tuannya terkoyak.

__ADS_1


Skala merasa menyesal kenapa ia menitipkan ponselnya di tas sang istri tadi, dan bodohnya dia tidak memilih turun saja untuk bertanya pada resepsisonis perihal nomor kamar mereka.


Sepanjang perjalanan suasana mobil begitu sunyi, Bianca baru berani bersuara saat hampir sampai ke rumah.


"Sakit?" tanyanya sembari mengusap leher Skala yang terlihat merah.


"Aku akan melaporkannya ke polisi."


Bianca terkejut, sebisa mungkin ia berusaha menenangkan suaminya. "Ska, kamu tadi juga salah lho, masuk kamar orang sembarangan dan sebelumnya juga kamu nglempar punggung istri orang pakai bucket bunga."


Seolah tak mendengarkan omongan istrinya, Skala malah sibuk mengusap bibirnya yang tanpa sengaja berciuman dengan Farhan tadi.


"Sudah jangan seperti ini!" Bianca menarik tangan suaminya, menghentikan aksi papa Rain itu agar tak menyakiti diri sendiri. "Aku akan menghapusnya untukmu nanti."


Skala langsung keluar dari mobil dan membanting pintu sedikit kasar saat menutupnya. Bianca yang melihat suaminya begitu emosional berjalan cepat menyusul masuk. Ia berpapasan dengan pengasuh Rain di depan pintu.


"Apa Rain masih di tempat Felisya?" tanyanya.


"Iya nyonya, ini saya diminta nyonya Feli mengambilkan ASI perah lagi."


"Baguslah, tolong katakan pada Felisya aku titip Rain sebentar lagi." Bianca mengangkat gaunnya kemudian bergegas naik ke markas.


Melewati dirinya begitu saja, Bianca mendengkus melihat tatapan mata Skala yang begitu tajam dan kesal. Tidak bisa dibiarkan terlalu lama, jika sampai terjadi bisa-bisa rusak sendi-sendi kehidupan rumah tangganya.


Bianca menyusul Skala masuk ke dalam kamar mandi, membalikkan tubuh suaminya secara paksa.


"Ap ... "


Skala kaget karena Bianca melumaat bibirnya secara tiba-tiba. Ia memilih diam, membiarkan sang istri menghapus jejak bibir pria laknat yang menciumnya tadi.


"Vitamin C untukmu," lirih Bianca yang langsung memeluk pinggang Skala erat-erat. "Cium"


"Dan ini vitamin D untuk cintaku yang sedang marah- Dipeluk," ucap Bianca yang semakin mengeratkan tangannya.


Skala tersenyum mendapati perlakuan seperti itu, diusapnya bagian belakang rambut Bianca yang tersanggul sederhana. Ia tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya dan mendudukannya ke meja wastafel. Dengan senyum menawannya, Ia raba leher Bianca.


"Ini juga vitamin D, diraba."

__ADS_1


Skala mulai menciumi ceruk leher Bianca, wangi aroma parfum vanilla yang dipakai gadis itu membuatnya sampai memejamkan mata.


"Aku mau vitamin D yang lain Ca," bisiknya menggoda.


"A..pa I..tu?" Bianca terbata-bata karena Skala sedang sibuk membuatnya merasakan sensasi geli di salah satu bagian sensitifnya.


"Ditunggangi."


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Udah jangan Travelling!...


...KOMEN LIKE dan VOTE kalau ada tiket lebih...


...jangan lupa update aplikasi kalian biar bisa kasih aku HADIAH...


...Makasih...

__ADS_1



__ADS_2