Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Informan


__ADS_3

Skala tertawa bahagia melihat hasil USG little peanut. Ia mengusap-usap foto berwarna hitam putih yang tidak jelas itu dengan ibu jarinya.


"Hi ... dia punya monas," ucap Skala geli.


Bianca tersenyum mendapati suaminya berbaring di atas ranjang dengan kaki yang terjuntai ke bawah.


"Apa kamu bahagia?" tanya Bianca sambil meletakkan handuk di samping Skala. Disambarnya foto hasil USG itu dari tangan suaminya. Skala pun bangkit, menarik pinggang Bianca agar bisa menciumi perut istrinya.


"Apa kamu perlu menanyakan hal itu? jelas aku sangat bahagia."


"Jadi kapan kamu akan membelikan kuda jingkrak untukku?" goda Bianca.


"Kamu curang!" Skala menarik tubuh Bianca, membiarkan gadis itu duduk di atas pangkuannya. Mereka hampir saja berciuman saat suara cempreng memanggil dari luar sana.


"Onty..... "


Skala mengguyar rambutnya kasar, membiarkan Bianca bangun dari atas pangkuannya lalu Ia berjalan menuju pintu, Laki-laki itu bekacak pinggang melihat Nuna tersenyum sampai kedua matanya tak kelihatan.


"Om SkaPa," panggil Nuna dengan cara menyingkat nama panjang istri tantenya itu.


"Noh onty di dalam, om mau mandi."


Skala membiarkan Nuna masuk ke dalam markas. Keponakannya itu langsung mendekat ke arah tantenya, memeluk Bianca lalu menunjuk-nunjuk perut buncit adik perempuan papanya itu.


"Mau nginep lagi?" tanya Bianca ke sang keponakan yang sudah sibuk dengan foto USG calon adik sepupunya yang ia pungut dari atas ranjang.


"Onty, kapan onty melahirkan?"


"Kenapa? Mau kasih kado buat adik bayi?" Bianca membiarkan sang keponakan duduk di ranjangnya.


Nuna menggelengkan kepala. "Opa bilang mau kasih onty perusahaan kalau onty udah lahiran. "


Bianca terkesiap dan langsung meletakkan skincare yang baru akan dia poleskan ke mukanya. Begitu juga dengan Skala yang hampir menutup pintu kamar mandi, laki-laki itu menoleh. Jiwa penasarannya menggelitik untuk mendengarkan informan kecil itu berbicara.


"Perusahaan apa? Kapan kamu mendengar hal itu dikatakan Opa?"


Mulai mengorek informasi, Bianca sadar apa yang akan Nuna minta selanjutnya. Jadi sebelum bocah itu berucap, Bianca terlebih dulu menyambar dompetnya. Skala pun memilih duduk di kursi rias sang istri untuk menyimak perbincangan itu terlebih dulu.


"Onty mau apa?" tanya Nuna melihat sang tante membuka dompetnya.


"Biasa kan?" Bianca bertanya heran.


Nuna mengangkat lalu menggerak-gerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan di depan muka Bianca. Dengan jumawa Ia membuka tas kecil yang melingkar di pundaknya, bocah itu mengeluarkan beberapa uang pecahan seratus ribuan lalu memamerkannya ke Skala dan Bianca.


"Ga usah, Nuna udah punya banyak uang," ocehnya.


"Tumben!" Bianca meletakkan dompetnya ke atas nakas lalu duduk di samping Nuna, mulai bertanya ke sang keponakan yang masih saja menggemaskan meskipun sudah akan duduk di bangku kelas satu SMA. "Ya sudah sekarang ceritakan ke tante kapan kamu dengar opa ngomong gitu?"

__ADS_1


"Jadi kemarin kita itu lagi makan malam, Opa bilang kalau onty sukses menangani huru hara, jadi onty layak dikasih perusahaan—gitu."


Skala menatap ke arah istrinya yang merespon dengan kedikan bahu. Bianca memilih diam, ia sadar maksud huru hara yang dimaksud sang Papa pasti adalah kasus A new able bra beberapa saat yang lalu.


"Apa kamu ke sini cuma ingin ngasih onty info ini?" tanya Bianca penasaran.


Nuna menggeleng karena sebenarnya dia hanya mampir ke rumah Skala setelah pulang dari rumah bu Dewan. Bocah itu berhasil mendapatkan hati ibunda Dewa, bahkan bu Dewan memberikannya nomor ponsel sang anak tunggal. Nuna ke sana dengan alasan mengerjakan tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskannya melakukan wawancara kepada mahasiswa pecinta alam. Kesempatan emas tak disia-siakannya untuk mendekati Jungkok BTS KW.


Bocah itu berdiri, ia tidak berniat menginap di rumah tantenya. Meskipun polos, Nuna sadar bahwa ia pasti dirasa mengganggu jika sering-sering menginap di sana.


"Nuna pulang ya." izinnya ke Skala dan Bianca.


"Kamu beneran Nun ga mau gambar Proklamator?" Skala menggoda keponakannya itu sebelum benar-benar pergi.


Gadis itu memeluk pinggiran daun pintu kamar seolah berpikir, "beneran, Nuna udah menang banyak dari kakek Prawira, tadi pas Nuna jalan dari rumah kak Dewa ke sini kebetulan kakek baru aja pulang, kita ngemper di depan kayak gelandangan gara-gara onty sama om ga pulang-pulang kayak bang Toyib."


"Terus kamu dapat duit banyak bocorin cerita apa ke kakek?" Skala mulai sedikit khawatir.


Tak Bianca dan Skala duga, celotehan gadis itu membuat mereka syok setengah mati. " Cuma dengerin kakek curhat, kakek lagi jatuh cinta sama wanita, tapi wanitanya udah punya suami, wanita itu tetangga onty namanya Bu Erin."


Bak tersambar petir, Skala dan Bianca langsung merasa kejang-kejang mendengar info dari Nuna.


***


"Ska, ga bisa dibiarin kakekmu itu. Masa dia udah buyut mau jadi pebinor." Bianca menggoyang-goyangkan lengan suaminya yang sudah telanjang, ia seolah tak ingin membiarkan Skala masuk ke dalam kamar mandi sebelum memberikan solusi.


"Aku juga tidak ingin pak Rhoma malkis abon jadi duda karena diceraikan Bu Erin," kelakar Skala.


"Skala ... " Bianca berteriak, bisa-bisanya sang suami bercanda di situasi genting seperti sekarang.


"Ya sudah kita carikan kakek jodoh, bagaimana? tapi aku mandi dulu." Skala menangkup pipi Bianca yang terlihat sudah mulai mengembang, diciumnya bibir sang istri yang sudah mengerucut menahan kesal.


"Buruan mandinya!" rajuk Bianca.


Sementara di luar rumah, Nuna yang sudah dijemput sang sopir terlihat berlari menyebrang kembali ke rumah Tama dimana Prawira sudah berdiri di depan gerbang.


"Bagaimana?" tanya aki-aki itu ke Nuna.


"Beres," ucap anak Billy Nataniel itu sambil menerima uang sisa bayaran dari misi terselubungnya.





__ADS_1


















_


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...ADD FAVORITE...


...RATE BINTANG 5...


...❤...


NB. pemenang voter tertinggi BKP periode sampai 3 Januari 2021 silahkan cek di BUKU BKP LAMA DI BAB 122 PENGUMUMAN nanti jam 11.00 WIB ya sengaja Na taruh sana biar ga ada bab mubadzir.

__ADS_1


__ADS_2