
"Ska, bukankah kakek malam ini harus menginap di sini, ayo turun ke bawah kita harus mengecek apa beliau sudah pulang."
Bianca mencoba menyingkirkan kepala sang suami yang menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Biarin lah!" Skala malah memutar badannya, mencurukkan wajahnya sampai ke perut sang istri.
"Ska, ga boleh gitu. Kita masih butuh warisannya."
Ucapan Bianca sukses membuat Skala terkekeh geli, Ia mengusap lalu menciumi little peanut yang beberapa kali menendang-nendang di dalam perut istrinya. "Apa kamu dengar sayang! mamamu matre kan?" cibir Skala.
"Kayak dianya enggak, bukankah kamu juga awalnya mau menikah denganku juga karena harta." Bianca mencebik kesal.
Skala pun tertawa lagi, kemudian bangun dan menggenggam erat tangan Bianca. "Buat aku sekarang harta yang sungguhnya adalah kamu dan anak kita." Skala gemas dan kembali mengusap perut istrinya.
"Padahal dia belum lahir Ca, tapi aku sayang banget sama dia."
"Dia juga sayang banget sama papanya meskipun belum lihat wajah kamu." Bianca mengusap pipi suaminya, menarik tangan Skala agar segera berdiri dan mengikuti langkahnya.
"Dia akan kuberi nama Rain," Bisik Skala yang berjalan sambil memeluk tubuh Bianca dari belakang.
"Hujan?"
"Hem ... aku ingin dia seperti hujan, bermanfaat bagi seluruh mahkluk di bumi, tapi jika mahkluk bumi tidak menjaga alam mereka dengan baik, hujan akan mendatangkan bancana."
"Filosofi macam apa itu?" Bianca terheran-heran dengan penjelasan suaminya.
"Filosofi Skala Prawira. Pokoknya aku ingin anak kita memiliki cinta kasih dan bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bisa menjadi sosok yang mengingatkan orang-orang sekitarnya, Rain seperti namanya, dia akan punya dua sisi."
"Seperti kita?" tanya Bianca yang langsung menoleh ke arah suaminya.
"Iya, seperti kita."
Keduanya menghampiri Prawira yang sedang berada di ruang makan sambil menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh pelayannya. Tak sampai menunggu sang kakek menghabiskan makanannya, Skala langsung bertanya perihal kencan buta yang baru saja dijalani kakeknya.
Pria tua itu berbohong bahwa kencannya berjalan dengan lancar. Prawira tak tahu kalau asisten madam Zi telah melaporkan semua yang terjadi kepada Skala.
Setelah menyantap habis makanannya, Prawira meminta pelayan untuk membawakan minuman beralkohol. Pria itu menyodorkan gelas yang telah diisinya ke sang cucu, tentu saja Bianca tidak Ia beri karena gadis itu tengah mengandung cicit penerus klannya.
__ADS_1
"Kakek, apa kakek baik-baik saja?" Bianca nampak khawatir melihat Prawira yang minum-minum seawal itu.
"Kenapa kakek merusak kencan buta kakek?"
Berbeda dengan sang istri, Skala langsung to the point bertanya. "Asisten Madam Zi sudah memberitahu, wanita politikus teman kencan kakek itu marah karena kakek ternyata memiliki kekasih yang masih muda belia."
Bianca menatap secara bergantian sang suami lalu Prawira, Ia penasaran tentang sugar baby pria tua itu. Apakah benar kakeknya itu menjadi seorang sugar daddy?
"Gadis itu ikut denganku, dia sedang berada di rumah Bu Dewan. Coba lihat saja sana keluar kalau kamu penasaran!" ucap Prawira dengan entengnya.
Bianca yang penasaran pun langsung beranjak dari kursinya, ia berjalan cepat keluar menuju rumah Pak Dewan.
Betapa terkejutnya Bianca mendapati Nuna sedang berjongkok sambil mengelus bulu Lico bersama Dewa yang tengah menyandarkan tubuhnya pada pilar teras. Mereka terlihat sedang berbincang.
"Astaga kakek! apa sugar baby kakek adalah Nuna?"
Mulut Bianca mengaga, otak cerdasnya langsung bisa membaca bahwa Prawira pasti bersekongkol dengan Nuna untuk menggagalkan acara kencan buta itu. Ia pun berjalan mendekat ke arah sang keponakan, tangannya sudah berada di kedua sisi pinggangnya, bersiap untuk memarahi gadis itu.
Sementara itu, Dewa yang tahu bahwa keponakan tetangganya itu menyukai dirinya, tiba-tiba saja ingin sekali menggoda Nuna.
"Em ... Aku tidak punya cita-cita, lebih tepatnya mungkin belum, memang kenapa kak?"
Nuna mendongak, menatap wajah anak Bu Dewan yang membuatnya tergila-gila itu, bibirnya mengulas senyuman yang dibuat semanis mungkin.
"Kenapa kamu tidak menjadi seorang guru saja?"
"Guru?" Nuna mengernyitkan dahinya.
"Hem ... , entah kenapa rasanya aku ingin sekali memiliki istri seorang guru."
Nuna terdiam, otaknya mulai menerka-nerka maksud ucapan cowok ganteng itu. Ia masih terus berpikir tentang ucapan Dewa, sampai sebuah tangan menarik telinga kanannya.
"Aduh ... aduh ... "
Nuna meringis kesakitan. Ia pun bangun dan menoleh. Anak Billy Nataniel itu terkejut mendapati sang tante yang memelototinya dengan mimik wajah garang.
"Oh ini sugar baby nya kakek Prawira, Ha?"
__ADS_1
Nuna membelalakkan matanya, meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut, memberi kode sang tante agar tidak berbicara masalah itu di hadapan cowok yang disukainya.
"Apa ... Apa?" Bianca malah semakin menjadi-jadi ingin membongkar kelakuan sang keponakan di depan Dewa.
Karena tak ada jalan lain dipikirannya, Nuna tiba-tiba langsung merebahkan dirinya di carport rumah bu Dewan. Bocah itu berpura-pura pingsan.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Info : besok vote nya di Sorry Mr CEO aja ya, aku Gift away Mini gold lagi, tapi vote nya jangan sekarang, Senin aja.
...LIKE dan KOMEN jangan lupa ya...
__ADS_1