
Nuna langsung berdiri menjauh, gadis itu ketakutan mendapati papanya datang ke kamar perawatan omanya pagi itu. Sementara Salma yang sudah tersadar karena hanya mengalami cidera ringan di kepala kembali syok mendapati kondisi anaknya yang berantakan. Bercak darah di tangan Billy membuatnya gemetar.
“Apa yang terjadi?” Salma menatap tajam sang anak, wanita itu sudah menduga sesuatu yang buruk pasti telah diperbuat anak kesayangannya itu.
“A-ku menusuk papa,” aku Billy.
Salma terkejut, ia beringsut menjauh melihat sang anak mendekatinya. “Coba ulangi ucapanmu tadi!” pintanya.
Billy menatap wajah mamanya yang pucat, air mata menetes dari pipi wanita itu. Nuna yang mendengarpun tak kalah terkejut. Ia tak menyangka papanya bisa berbuat hal sekejam itu kepada orangtuanya sendiri.
“Maaf Ma!” lirih Billy sambil berusaha memegang telapak tangan Salma.
“Anak durhaka!” Salma memukul dada anaknya itu berkali-kali. “ Ini salahku, aku tidak bisa mendidikmu dengan baik.” sesalnya.
“Ini bukan salah mama, ini salah papa,” ucap Billy menolak pernyataan Salma.
Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Seharusnya mama tidak menunjukkan rasa benci ke Kiran dan Bianca, seharusnya mama berbuat seperti apa yang dilakukan Diana sekarang, lebih baik berpisah dari pada melukai diri sendiri dan juga kalian, kenapa mama egois bertahan dengan pria itu sampai sekarang? mama yang bersalah, mama yang membuatmu seperti ini.”
Saat ibu dan anak itu larut dalam rasa penyesalan, Nuna memilih untuk pergi, Ia keluar dari kamar perawatan sang oma, gadis itu mendapati beberapa pria berjaket hitam datang menuju ke sana.
“Anda dari mana?” tanya Nuna saat pria-pria itu tepat berhadapan dengannya.
“Kami polisi,” Jawab salah satunya sambil memegang gagang pintu kamar.
“Kalian tidak boleh masuk! O-ma di-a se-dang ganti baju,” ucap Nuna terbata-bata, gadis itu sadar bahwa sang papa pasti akan digelandang ke kantor polisi sebentar lagi.
“Maaf, kami sudah tahu bahwa pak Billy berada di dalam.”
“Tidak – dia tidak ada di dalam, anda tidak boleh masuk!” larang Nuna sambil menarik salah satu jaket petugas.
Meskipun gadis itu sangat membenci papanya, tetap saja Nuna pernah memiliki kenangan manis bersama Billy. Setitik ruang di hatinya ternyata masih tidak rela melihat papanya masuk penjara.
“Nuna!” teriakan Diana membuat gadis itu melepaskan tangannya, ia menghambur memeluk sang mama, air mata terus membanjiri pipinya. Keluarganya benar-benar berantakan sekarang.
“Mama!”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Ada mama disini.” Diana berusaha menenangkan putrinya.
Sebuah teriakan menggema dari dalam kamar, membuat beberapa orang yang melintas di koridor penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Salma menangis meraung karena Billy diseret secara paksa oleh petugas.
“Papa,” lirih Nuna saat melihat papanya berjalan diapit beberapa pria berbadan tegap tadi, tangannya sudah terborgol ke belakang. Saling pandang dengan mantan istrinya, Billy sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
***
“Tama!”
Nataniel terkejut mendapati laki-laki yang selama ini dia ketahui sebagai cucu Prawira sedang duduk di sampingnya.
“Anda sudah sadar, saya akan memanggilkan dokter," ucap suami Felisya itu sambil bergegas keluar kamar.
Bianca yang dikabari oleh sang kakak bahwa papanya sudah sadar pun langsung bergegas datang ke rumah sakit. Gadis itu lega mendapati sang papa baik-baik saja, bahkan anak perempuan satu-satunya Nataniel itu sampai menangis karena bahagia.
“Apa kamu menangis karena sedih papa tidak mati.” gurau Nataniel.
“Papa!”
“Pa, papa tidak punya penyakit jantung kan?”
“Kenapa?”
“Papa benar-benar casanova, apa papa ingat berapa wanita yang papa ajak melepaskan kecebong?”
Pertanyaan aneh Bianca berhasil membuat Nataniel kebingungan. “melepaskan kecebong apa?”
“Ish … Papa, Pa Tama adalah anak kandung papa.”
“Apa?” mata Nataniel membola tak percaya.
Pria itu mencoba mengingat masa lalunya, memang benar dia pernah berhubungan dengan Viona. Namun, ia tidak menyangka bahwa Tama adalah anak kandungnya.
“Sepertinya kita harus membuat pengumuman di seluruh media masa, mungkin anak papa lebih dari satu lusin,” canda Bianca.
__ADS_1
“Tidak mungkin.” Nataniel menolak perbuatannya yang suka bercocok tanam dimana-mana.
“Dia kakak ‘ku Pa, kakak kesayangan 'ku."
Bianca kembali melingkarkan tangannya ke lengan Tama, Ia tak menyangka badak Afrikanya sudah berdiri di belakang.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
...LIKE...
...KOMEN...
...bagi Kembang 🌹...
...Untuk info novel follow Na di @nasyamahila...
...Makasih zeyengggg...
__ADS_1