
"Ca kapan Little peanut akan mulai menendang-nendang dari dalam sini? Hem?"
"Kalau dari artikel yang aku baca saat usia lima bulan, kenapa?"
Skala yang tengah memeluk Bianca dari belakang hanya menggeleng. Tangannya Mengusap lembut perut sang istri dari balik piyama.
"Aku penasaran sekali dia berjenis kelamin apa, aku sudah ingin pergi berbelanja kebutuhan Little Peanut ke Milan, London, Paris bahkan Korea." Skala mulai riya dan mengabsen nama negara yang gaya fashionnya terkenal di dunia.
"Kamu ingin keliling dunia hanya untuk membeli popok? dasar lebay," cibir Bianca.
Skala terkekeh geli lalu menyangga kepala dengan tangan kanannya agar bisa melihat ekspresi wajah sang istri. Bianca pun berbalik, menatap suaminya yang satu minggu ini begitu over protective kepadanya. Bahkan untuk turun dari ranjang Ia harus ekstra hati-hati karena jika tidak Skala akan berteriak dan mulai mengomelinya dengan kecepatan cahaya.
"Sudah seminggu, apa aku boleh mulai bekerja lagi besok?" Bianca menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan keinginannya. "Ka—lau bo—leh sih." imbuhnya.
Bianca meringsek, merayu. Membenamkan kepalanya ke dada sang suami, tangannya memeluk sambil menepuk-nepuk punggung Skala.
"Aku tidak akan melarangmu, tapi bisakah kamu menunggu sampai kita memeriksakan kandunganmu lagi?" tawar Skala.
Bianca menjauhkan wajahnya, menatap suaminya dengan aura berseri. Dikecupinya bibir Skala berkali-kali. "Terima kasih papa peanut," ucapnya bahagia karena dia tahu jadwal check up nya tinggal dua hari lagi.
***
"Bagaimana? udah lebih sehat kan badan kamu?" tanya Bu Dewan.
Ibu-ibu geng sultini menggrebek rumah Bianca. Setiap hari selama satu minggu kemarin mereka bergantian membuatkan makanan bergizi untuk istri Skala Prawira itu. Seperti sekarang, mereka datang dan Bu Eli membawakan Bianca Nila bakar berukuran besar.
"Aku ada masak rendang juga buat kamu, tapi tadi masih panas jadi nanti biar Barbie bawa kesini," ucap Bu Dewan.
Bianca memganggukan kepala sambil memangku kotak Nila bakar yang menggiurkan itu, entah kenapa Ia seketika merasa terenyuh dengan perlakuan ibu-ibu tetangganya.
"Lha kok nangis?" Bu Erin terheran-heran dan langsung duduk si samping Bianca.
"Kenapa Bi?" Ditepuknya punggung gadis itu lembut.
"Saya terharu, ibu-ibu pasti tahu saya udah ga punya mama kandung dan mama mertua, tapi entah kenapa saya merasa memiliki banyak mama karena ibu-ibu memperhatikan saya sampai seperti ini." Bianca menghapus buliran air mata yang meleleh di pipinya.
"Ya ampun! Kirain apa?" seru ibu-ibu itu hampir bersamaan.
__ADS_1
"Sudah sudah, jangan nangis lagi, sesama manusia apalagi tetangga kita wajib menyanyangi," ucap Bu Hana.
Bianca mengangguk dan tertawa. Gadis itu kemudian berpamitan untuk menyiapkan hidangan untuk para ibu-ibu gengnya yang tengah bertamu. Saat Bianca berdiri, mba Barbie yang sudah insyaf menjadi provokator terlihat masuk ke dalam rumahnya dengan membawa rantang berisi rendang yang bu Dewan janjikan tadi.
"Eh ibu-ibu, tau ga? Rumah Bu Ratih udah kebeli sama orang lho," ucap Mba Barbie bak pewarta berita.
"Iyakah?" Tanya ibu-ibu itu serempak.
Bianca hanya tersenyum karena ia sudah tahu siapa bakal penghuni baru rumah bu Ratih yang pindah ke Thailand.
"Iya, perempuannya cantik, tapi sayang.... " Mba Barbie tiba-tiba memotong ucapannya, membuat ibu-ibu geng sultini semakin penasaran.
"Sayang apa Berbie? jangan bikin orang penasaran deh!" seru sang majikan.
"Tapi sayang lakinya cacat Bu, pakai kursi roda kayaknya udah tua dan kena stroke."
Mulut Bianca menganga bersamaan dengan suara tawa yang menggelegar dari arah mini bar. Skala terbahak-bahak sampai memegangi perutnya, Ia memukul-mukul meja mendengar ocehan julid pembantu Bu Dewan itu.
Semua orang kaget, begitu juga Bianca yang langsung masuk ke dalam. Ia mencubit lengan Skala gemas.
Skala Menggeleng-geleng sampil terus tertawa, "haduh Ca ampun—ampun, bisa-bisanya mba Barbie kira Tama udah tua dan terkena stroke." Cucu kesayangan Prawira itu masih terbahak-bahak, membiarkan istrinya yang melotot ke arahnya berlalu pergi menuju dapur.
"Aku emang nguping tau, aku dapat misi untuk menguping pembicaraan kalian," cicit Skala. Laki-laki itu kembali terbahak-bahak, Ia sepertinya bahagia jika kakak sepupunya sengsara.
"Masa sih Bar? ngaco deh!" Bu Erin tak percaya.
"Ya udah kalau ibu ga percaya, silahkan lihat sendiri!"
Semua ibu-ibu itu langsung berdiri meringsek ke depan pintu,mencoba melihat benarkah informasi yang diucapkan pembantu bu Dewan itu, kebetulan Rumah Bu Ratih terletak persis di depan rumah Bianca.
"Kayaknya aku pernah lihat perempuan itu," ucap Bu Eli.
"Iya lho suaminya pakai kursi roda, kasihan ya!"
Mba Barbie bersidekap dan manggut-manggut, Ia senang bisa memberikan informasi yang langsung membuat ibu-ibu itu kepo.
__ADS_1
Otor : Maaf ya guys update dikit, yang penting crazy up dulu, mukaku udah kayak si pentol nih gara-gara crazy up jangan lupa LIKE KOMEN ya
__ADS_1