Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Side Story : Tama Felisya


__ADS_3

Felisya sedikit terkejut saat melihat sepuluh jari-jemari Tama menjulang ke atas. Pria itu menatap langit-langit sambil menghitung sesuatu. Membuat Felisya penasaran melihat suaminya melakukan hal tidak berguna seperti itu.


"Kamu sedang apa?" Felisya menaruh nampan berisi makanan untuk Tama di atas nakas.


"Sedang menghitung, Sayang." Tama menjawab dengan kilatan mata aneh. Terlihat aura sedikit nakal di wajah pria itu.


"Menghitung apa? aneh-aneh aja." Felisya menatap suaminya bingung. "Kamu lagi sakit, jangan mikirin kerjaan atau masalah lain dulu," omel Felisya geram.


Tama terkekeh pelan. Lantas mencubit bibir Felisya—gemas. "Kamu itu lucu banget tau. Bikin aku laper," ungkap Tama.


"Makanlah, aku udah siapin makanan. Bisa makan sendiri 'kan?" tanya Felisya sedikit ketus.


"Aduh, tanganku mendadak ikut sakit gara-gara kebanyakan ngitung," kelakar Tama dengan senyum smirk yang menggoda jiwa.


"Aku suapin, gak usah pake kode-kode segala!" tukas Felisya seraya mengambil mangkuk bubur ayam untuk Tama.


"Lagian kamu ngitungin apa, sampai tangan payah kamu bisa kelelahan begitu," ejek Felisya. Matanya berputar sebal, lalu melotot pada sang suami sedikit tegas. "Sayangi kesehatan kamu, jangan mikir kerjaan dulu," omel Felisya mengulangi nasihatnya sekali lagi.


"Siapa yang kerja sih, sayang? Aku itu sedang menghitung sudah berapa lama gajahku tidak mendapat jatah dari kamu. Ternyata lebih dari dua minggu, sampai tanganku sudah tidak mampu menghitungnya lagi. Kasihan banget Gajahku dibiarkan keliaran di luar kandang, tidak ada yang mau membuka kandang, nih." Tama mengelus dedek yang bergerak-gerak di bawah sana. Mengusapnya pelan-pelan dan penuh kasih sayang.


"Maaf ya, gara-gara aku sakit kamu jadi terlantar begini. Tolong maklumin, majikan kamu tidak pintar dalam memilih gaya ranjang. Harusnya dia bisa memberikan servis padamu walau aku sedang sakit."


Tama berbicara pada adik kecilnya sendiri, membuat Felisya merasa tertantang karena dihina tidak bisa melakukan aneka gaya yang ia mau.


"Siapa bilang aku tidak bisa?" Mata Felisya melotot bengis.


Yes berhasil. Tama teriak hore di dalam hati. Jiwanya berkobar bersamaan dengan senyum tipis yang menyungging di bibirnya.


"Setelah kamu makan, aku akan membuktikan pada Gajah nakalmu itu, kalau tuan putri Felisya yang cantik ini jago dalam memberikan pelayanan ranjang," ucap Felisya bangga. Ia menyendok bubur ayam pelan-pelan, lalu menyuapkannya pada bibir Tama hati-hati. Pria itu menyambutnya dengan suka cita.

__ADS_1


"Kutunggu servis memuaskannya, Sayang." Tama mengelus puncak rambut kepala Felisya. Matanya berbinar polos, penuh sejuta harapan yang tak terungkapkan.


***


Malam yang di nanti-nanti pun tiba. Tama duduk di atas ranjang seraya melirik jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan. Pria itu menunggu sang istri yang sedang ganti baju di ruang ganti. Tama sungguh tidak sabar, ia sangat penasaran dengan pelayanan spesial yang dijanjikan istrinya tadi sore.


"Sayang ...." Felisya keluar dari ruang ganti baju. Mata Tama seketika membola saat melihat sang istri mengenakan baju minimalis kekurangan bahan, Wanita itu terlihat sangat seksi, andai Tama bisa berjalan, sudah dipastikan ia akan menubruk tubuh menggiurkan itu sekarang juga.


"Apa kamu suka?" Felisya berputar-putar dengan gaya sensasional. Membuat Tama tertegun dan menelan salivanya susah payah.


"Suka banget, buruan ke sini!" rayu Tama tidak sabaran.


"Tunggu dulu, aku mau foto sebentar. Sayangkan, kalau sudah seksi tapi tidak diabadikan?" ucap Felisya sambil mengedipkan matanya genit.


"Ya sudah, buruan fotonya. Lima menit saja Sayang." Tama mendesah frustasi. Dalam diam ia merutuki kakinya yang tak berguna. Padahal ia sudah mendapat kejutan langka yang berharga dari Felisya.


"Iya ... aku foto dulu." Felisya berjalan ke arah sofa. Di mana mata Tama terus mengekori kemolekan wanita itu saat berjalan.


Sampai tak terasa waktu yang ia gunakan sudah memakan durasi lima belas menit. Tama yang sudah tidak tahan langsung mengambil remot lampu di atas nakas. Mematikannya dengan cepat dengan hati yang bersungut-sungut kesal.


"Kalau cuma mau pamer bilang, Fel. Mentang-mentang aku gak bisa jalan, kamu seenaknya ngejek aku," decak Tama sebal.


Felisya terkekeh senang. "Ya ampun, Tamiaku sudah tidak sabar rupanya. Yuk di mulai--"




__ADS_1













_


...LIKE...


...KOMEN yang banyak...


...VOTE...

__ADS_1


...ADD FAVORITE...


...makacih 🥰...


__ADS_2