Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Meminta Bantuan Nico


__ADS_3

Saat pesta syukuran di rumah Tama


“Jadi sekarang anda tinggal sendirian? Di rumah sebesar itu?” Bu Dewan bertanya dengan nada yang berapi-api saat Prawira menceritakan bahwa dia berniat untuk tinggal nomaden, beberapa hari di tempat sang cucu dan beberapa hari rumahnya sendiri.


“Kasihan …. Kasihan ,” sambung Bu Eli menirukan tokoh kartun botak yang sudah sepuluh tahun tapi masih saja duduk di bangku TK.


“Kenapa anda tidak menikah lagi saja?” tanya Bu Erin. Ucapan istri pak Rhoma itu langsung mendapat pembenaran dari anggota geng nya yang lain.


“Ya, tapi aku takut cucu-cucuku tidak setuju.”


Prawira terlihat memasang muka sedih, Bu Syifa pun langsung berdiri dan memeluk Pria tua itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.


“Ah aku ada ide.” Bu Dewan langsung memasang kode sehingga para anggota gengnya merapat ke arahnya.


Prawira menyeringai lebar, sementara Bu Erin terlihat sedikit keberatan mendengar ide gila dari ibunda Dewa itu.


“Kenapa tidak Eli saja?” Bu Erin tidak ingin dijadikan tumbal karena ide gila bu Dewan adalah membuat Prawira seolah-olah ingin menjadi pebinor karena menyukai dirinya.


“Siapalah diantara kalian yang mau, aku akan memberikan apa yang diminta, kalau perlu aku belikan satu set berlian,” ucap Prawira dengan arogan.


“Ya sudah aku saja!” Ucap Bu Erin mendengar tawaran berlian dari kakek tetangganya itu.


***


Prawira menatap Nuna yang melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil, Pria itu sengaja membohongi keponakan cucunya itu dengan bercerita bahwa dia tengah jatuh cinta kepada Bu Erin, dan dengan akal liciknya iya meminta Nuna membocorkannya ke Skala dan Bianca.


“Maafin kakek ya Nuna, kalau kakek bener dapat istri baru nanti apapun yang Nuna mau kakek berikan!” Ucap Prawira.


Pria itu manggut-manggut sendiri lalu berbalik untuk masuk ke dalam. Prawira terjingkat karena sang sekretaris sekaligus bodyguard nya ternyata berdiri di belakangnya sedari tadi.


“Astaga! Tidar, kamu bikin kaget saja!” Prawira memegangi dadanya, Ia selalu bersyukur karena tidak memiliki penyakit jantung bawaan.


“Maaf Tuan, saya harus memastikan tuan masuk ke dalam rumah baru saya akan pergi,” Ucap Pria berumur tiga puluh tahun itu yang sayang masih jomblo.


Menatap wajah bodyguard nya, Prawira mengangkat jari telunjuk lalu menggerak-gerakkannya, meminta Radit mendekat.


“Aku punya tugas untukmu,” bisik Prawira.


***


Bahkan saat hari telah berganti, Bianca masih saja heboh dengan ketakutannya sendiri mendengar cerita Nuna bahwa sang kakek menyukai Bu Erin. Ia bahkan tak berani membuka chat group geng sultininya di karenakan tak enak hati.


“ Skala …. “ rajuknya lagi dan lagi.


Skala yang tengah mengancingkan kemejanya pun dibuat heran dengan tingkah sang istri. Laki-laki itu lebih bersikap realistis dengan tidak memikirkan celotehan Nuna.


“Kamu kok santai banget sih?” Bianca memilihkan dasi dari laci sang suami, membantu Skala mengancingkan ujung lengan kemejanya masih dengan muka yang tertekuk.

__ADS_1


“Aku tidak mau kakek merusak rumah tangga orang Ska,” ucapnya sambal membantu suaminya memakai dasi.


“Aku juga tidak ingin Cacamarica tapi aku berniat bertanya langsung ke kakek apakah benar beliau menyukai Bu Erin.”


“Aku ingin menemui temanku hari ini.” Bianca menatap wajah sang suami, memberi tahu untuk meminta Izin.


“Siapa?” Tanya Skala yang alis matanya sudah berkerut-kerut curiga.


“Nicolas Anderson.”


“Kenapa harus seorang pria lagi?”


Skala mengangkat dagu sang istri dengan jari telunjuknya, melumaat bibir merah muda Bianca tanpa basa-basi. Napas mereka tersengal-sengal karena durasi ciuman mereka begitu lama.


Wajah Bianca memerah. Ia memejamkan mata merasakan tangan Skala mengusap lembut bibirnya. Gadis itu sadar banyak pekerjaan yang sudah menunggunya di kantor, ia mendorong lembut dada Skala agar menjauh.


“Kenapa?” bisik Skala.


“Pakai tanya, kamu pasti tahu dengan jelas,” cibir Bianca sambal mencubit pipi suaminya, tak lama setelah Skala mengaduh mata Bianca membelalak lebar, membuat suaminya itu cemas.


“Ada apa Ca? apa kamu sakit lagi?" Skala memengang kedua lengan istrinya erat-erat seolah takut Bianca jatuh.


“Ska, aku mungkin salah tapi sepertinya Little peanut baru saja menendang.” Bianca tertawa, tangannya mengusap pipi badak Afrikanya yang baru saja ia cubit tadi sebagai ucapan maaf.


“Benarkah?” Skala tertawa, ia merasa benar-benar Bahagia mendengar bahwa anaknya sudah mulai menendang di dalam sana.


“Wah … sepertinya dia tidak terima kalau kamu menganiaya diriku Ca,” kelakar Skala sambil mengusap lembut perut sang istri. “Dia memang anakku.”


***


“Aku tahu ada seorang mak comblang terkenal yang sukses menjodohkan para konglomerat-konglomerat negeri ini, tapi sayangnya tidak banyak yang bisa menemuinya dan aku mendengar kamu memiliki kontaknya jadi berikan padaku!” perintah Bianca.


“Cih …. Bisa-bisanya meminta hal itu kepadaku.” Nico menatap tajam Bianca, satu tangannya terangkat ke atas memanggil pelayan untuk memesan. “espresso, ga pakai lama,” titahnya dengan mimik wajah sombong.


CEO NIPO Commpany itu dengan jahilnya berdiri untuk memastikan kondisi Bianca yang tengah berbadan dua. Nico lantas geleng-geleng kepala dan lagi-lagi menghina Bianca. “ Ada ya laki-laki yang mau nikah sama gadis kayak kamu, galak, sombong dan seenaknya.”


Bianca berpura-pura terbahak lalu melemparkan sebuah paperbag yang langsung ditangkap oleh Nico dengan kedua tangannya. “Apa ini? Apa sogokan?” celanya sebelum melihat isi di dalamnya.


“Aku tahu kamu sedang dekat dengan seorang gadis, berikan itu kepadanya sebagai hadiah. Aku jamin dia akan berterima kasih kepadamu dan aku bisa pastikan kamu akan langsung bisa membuatnya seperti ini,” tunjuk Bianca ke perutnya yang sudah kelihatan membuncit.


“Benarkah?” Tanya Nico dengan polosnya.


“Hem, maka dari itu berikan kontak mak comblang yang terkenal itu kepadaku!” Bianca mengulurkan ponselnya, meminta Nico langsung memasukkan nomor mak comblang yang dia maksud ke daftar kontaknya.


Lima belas menit kemudian, Bianca tersenyum Bahagia. Ia memandang punggung Nico yang pergi sambil membawea a new able bra hits yang tanpa sadar akan membuat bencana di dalam hubungan pria itu dan gadis yang disukainya.


Istri Skala Prawira itu lantas mendial nomor mak comblang yang terkenal dengan nama Madam Zi. Ia ingin meminta bantuan wanita itu untuk mencarikan jodoh bagi Prawira.

__ADS_1






















Otor : Hei na mau promo lagi, ini bukan babang Nico nya Mina ya, tapi babang Nico yang lain, bantu like dan rate Bintang Lima ya guys



Reader julidin : Promo mulu dah


Otor :Julidin rese dah! dari pada Na bikin tokoh baru lebih baik Na gandeng cameo dari novel lain, plus Na nyari amal solehah membantu temen otor Na Promo, kalau kalian mau mampir dan bantu like dan rate aku doain kalian murah rejeki 😘 kalau kalain ga mau bantu aku doain Murah nya hilang R nya jadi Muah Muah kucium kau

__ADS_1


Reader Julidin : Iyuhhhhhh


Besok maljum aku bertapa dulu yes 👍 jangan lupa LIKE KOMEN dan VOTE


__ADS_2