Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Razia Narkotika


__ADS_3

Skala terlihat gusar, sementara Bianca cemberut bahkan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Ampun anakku saja belum lahir, tapi kenapa aku harus menjadi wali seseorang?" gerutu Skala sambil memakai kaus dan celana.


"Aku ikut ya," rengek Bianca.


"Ini sudah malam, kamu pasti lelah apalagi tadi kamu sampai minta ampun." Skala masih bisa tertawa meledek sang istri.


"Ska aku takut, aku ... "


Bianca terdiam seketika karena Skala langsung berlutut di depannya dan mencium bibirnya.


"Ada Radit yang akan menemaniku," ucapnya menenangkan hati sang istri.


"Seharusnya kita tetap mempertahankan pengawal-pengawalmu Ska, aku tidak ingin ... "


Bianca lagi-lagi terbungkam karena Skala melumaat habis bibirnya. Bahkan dengan durasi yang cukup lama, sampai Bianca meremas bagian samping kaus yang dikenakan suaminya.


"Aku janji tidak akan tersesat lagi, aku pastikan satu jam lagi aku sudah sampai rumah, hem..." Skala membujuk istrinya kembali.


Dengan terpaksa Bianca merelakan Skala pergi, Ia sedikit kesal karena suaminya mendapat telpon dari Prawira beberapa menit yang lalu, pria itu meminta di jemput di kantor polisi oleh cucu kesayangannya.


Skala menatap Radit yang membawa mobil menuju kantor polisi, Ia lantas bertanya kira-kira sang kakek pergi kemana sampai bisa berakhir di kantor polisi.


Mata Skala melotot tak percaya mendengar ucapan Radit bahwa kakeknya pergi karaoke dengan ibu-ibu geng sultini blok Kamboja.


"Astaga bandot tua itu," umpat Skala karena terlalu kesal dan tak percaya dengan kelakuan kakeknya.


***


"Pak,sumpah! tadi ada seorang wanita yang tiba-tiba memasukkan bungkusan itu ke ruangan kami, saat di luar ramai dengan teriakan razia, seorang wanita membuka ruangan kami lalu melempar sabu itu ke meja."


Bu Erin memegangi kepalanya dengan sebelah tangannya, Ia sepertinya terkena azab karena pergi tanpa meminta izin ke sang suami meskipun hanya lewat pesan atau panggilan singkat. Bahkan penjelasannya yang benar-benar adalah sebuah fakta tak digubris oleh petugas.


"Kami tidak akan melepas kalian semua sebelum hasil test urin keluar dan wali kalian datang, salah siapa tidak membawa identitas diri."


Ucapan petugas membuat Bu Dewan langsung berdiri dan menyampaikan argumennya. "Pak, lagian bapak ngadain razia narkotika alat tes yang dibawa dikit bener, emang alat tes nya limited edition? Kok kami yang diminta kesini sementara yang lain di tes di sana?"

__ADS_1


"Karena kalian rombongan, kalian ke karaoke apa bedol desa?" timpal petugas lain.


"Eh bapak ya kuper, ke karaoke itu asyiknya ya rame-rame, emang mau uji nyali ke karaoke sendirian?" Ucapan Bu Syifa membuat para tetangganya manggut-manggut.


"Lagian Bu ibu, malam Jumat tu dipakai Ibadah bukannya malah karaoke." Seorang petugas kembali menasehati mereka.


"Pak, kalau kita ga ke bukti pakai sabu bapak harus minta maaf lho!" bentak Bu Eli dengan mimik wajah garang.


Petugas itu akhirnya memilih minggir dari pada berdebat dengan para ibu-ibu yang emosi, bagaimana tidak? sudah kesepian di malam Jumat mereka malah terjaring razia narkotika saat tengah mencari hiburan.


Sementara para ibu-ibu itu berdebat, Prawira malah asik bermain game PUBG, pria itu berprinsip tidak perlu emosi jika memang tidak melakukan kesalahan.


Selang beberapa menit, Skala yang datang bersama Radit dibuat heran dengan pemandangan yang masih tidak ingin dia percaya. Prawira dengan santai melambaikan tangan ke arahnya seolah tak memiliki dosa. Suami Bianca itu menatap satu persatu wajah ibu-ibu geng sultini blok Kamboja. Ia lalu membuka ponselnya dan melakukan panggilan video grup ke anggota Wolf geng.


"Ngapain Ska?" tanya Bu Dewan.


"Melaporkan tingkah Ibu-ibu ke bapak-bapak."


Ucapan Skala membuat ibu-ibu itu ketakutan, mereka berkerumun di dekat Skala memintanya untuk mematikan panggilan itu.


"Ska, jatahku bisa dipotong sama si Rhoma ntar." Iba Bu Erin.


"Ska aku bisa dipecat jadi istri bang Hamish," Bu Eli juga tak mau kalah.


Suami Bianca itu bukanlah laki-laki bodoh, melihat kedekatan Prawira dengan ibu-ibu geng sultini blok Kamboja, Skala pun menjadi curiga.


"Baiklah, aku tidak akan melaporkan kejadian ini kepada bapak-bapak, tapi katakan padaku yang sejujurnya, kenapa kakek dan ibu-ibu bisa pergi bersama seperti ini, apa kakek dan ibu-ibu sudah berhubungan dekat? atau ada hal yang sedang kakek rencanakan?"


Tebakan Skala membuat Prawira menghentikan kegiatannya bermain game, Pria tua itu melirik ke semua anggota geng Bianca kemudian sang sekretaris.


"Ya kami dekat, kan sudah kakek bilang kakek suka sama Bu Erin."


Skala membelalak tak percaya, sementara para


petugas yang berada di sana dan ikut mendengarkan percakapan mereka sedari tadi nampak geleng-geleng kepala.


"Akan aku adukan ke pak Rhoma, lihat saja!" ancam Skala sambil menatap Bu Erin curiga.

__ADS_1




















...Ya ambruk aku crazy up 🤣🤣...

__ADS_1


...jangan lupa LIKE KOMEN VOTE nya ya...


...ga tau kenapa lagi encer ide nya...


__ADS_2