
Hari yang ditunggu Bianca dan Skala tiba juga, meskipun belum mandi keduanya masih terlihat segar pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi little peanut mereka. Jam masih menunjukkan pukul empat sore saat keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju poliklinik dimana dokter Novita praktik.
"Ayo kita tebak dan taruhan Ca, little peanut berjenis kelamin laki-laki atau perempuan." Skala menatap wajah sang istri yang tengah berjalan bersisian dengannya. Sementara wajah Bianca terlihat berpikir untuk mengiyakan atau menolak taruhan yang diajukan suaminya.
"Apa taruhannya?" Bianca menghentikan langkah lalu menatap Skala dengan tatapan liciknya. "Bagaimana kalau tebakan kita sama!"
Skala menaikkan kedua alis matanya, ia juga tidak ingin jika tebakannya dan Bianca nantinya ternyata sama.
"Belikan aku kuda jingkrak jika aku menang, I stand for boy," ucap Bianca tiba-tiba.
"Lho ... kita harusnya suit dulu Ca yang pertama yang boleh milih duluan." Skala kalah telak, Bianca hanya terkekeh geli sambil berjalan kembali meninggalkan suaminya.
"Ayolah Ska!" goda Bianca.
"Baiklah, aku pilih perempuan dan kalau little peanut benar perempuan aku minta kamu berhenti bekerja." Skala menghentikan langkah kakinya.
"Dia laki-laki, dia akan tampan sepertimu, jadi bermimpilah untuk membuatku berhenti bekerja!" kelakar Bianca sambil berbalik dan menjulurkan pucuk lidahnya ke Skala—menghina.
"Dasar licik, kamu pasti sudah tahu kan jenis kelamin little peanut kita?" Skala setengah berlari mensejajari langkah Bianca, meraih telapak tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.
"Bisa-bisanya kamu membuat aku galau selama ini."
Keduanya masih sibuk bercengkerama saat Bianca tertegun dan menatap punggung seorang pria yang tengah cekcok dengan seorang gadis. Bianca menaikkan sudut bibirnya. Ia lantas melepas genggaman tangan Skala yang sedari tadi tertaut erat di tangan kirinya, tangannya mengepal sementara clutch yang tengah ia pegang terlihat ia angkat tinggi-tinggi.
PLAKK
Clutch menghantam kepala pria tinggi berjaket sport hitam dengan aksen garis di lengannya. Kelakuan Bianca sukses membuat semua orang terperanga. Beruntung tidak ada orang lain di sana.
"Sial!" Pekik pria yang kepalanya terkena gamparan Rouge Great Jige Elan Red Swift Clutch seharga enam puluh empat juta milik Bianca.
"Kau ..." Pria itu melotot. Namun, sejurus kemudian emosinya seketika padam.
"Apa? Ha?" Bianca tak kalah garang. Matanya membelalak lebar, mulutnya sudah siap melempari kata-kata beracun ke keponakan mama tirinya yang bernama Ravindra Mahavir itu. Pria itu juga teman satu angkatannya saat duduk di bangku SMA.
"Apa kamu sedang menindas gadis ini?" cecar Bianca.
"Sedang apa kamu di sini?" Ravin terkejut, Ia lantas memandang Skala yang mendekat ke arah mereka.
"Jangan mau ditindas dia!" perintah Bianca ke gadis yang tengah dimarahi Ravin tadi.
Mata Bianca mulai memandang gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu siapanya Ravin?" tanya Bianca yang sadar bahwa gadis itu begitu cantik—pasti puteri konglomerat pikir mama peanut.
__ADS_1
"Sa—saya pelayannya," ucap gadis itu terbata, Ia terlalu kaget melihat tuannya digampar seperti tadi.
"Pelayan?" Bianca berkacak pinggang, menatap musuh bebuyutannya lalu memulai bertanya agar bisa segera menjawab rasa keingintahuannya .
"Kenapa kamu mau dijadikan pelayan sama bocah ini?"
Ravin tak bisa berkata-kata, pria itu langsung menarik gadis yang bernama Audrey itu merapat ke arahnya.
"Jangan panggil aku bocah, umur kita sama!" amuk keponakan mama tirinya itu.
"Ya sudah aku ganti pertanyaanku, apa hubunganmu dengan jomblo ngenes ini? apa kamu tahu dia pernah melamar gadis dan ditolak mentah-mentah." Bianca terbahak, kejahilannya malah makin menjadi-jadi.
Skala menepuk pundak sang istri, menatap bergantian Ravindra dan Audrey yang nampak seperti sepasang kekasih. Tak ingin berdebat dengan sepupunya itu, Ravindra menarik tangan gadis yang baru saja dimarahinya pergi dari sana.
"Malas aku berdebat dengan Singa bunting," ledek Ravindra sambil melihat perut Bianca, pria itu tersenyum menghina lalu berbicara pada Skala sebelum benar-benar pergi. "Dia galak kan?"
Skala pun mengangguk dan tertawa. Sebuah cubitan mendarat di lengan tangannya dari sang istri tercinta. "Awas ya Ska! main gundu lagi aja kamu ntar malam."
"Jangan donk Ca! ampun!" rajuknya manja.
***
Bocah itu duduk di samping Prawira di depan teras rumah tantenya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menangkup pipi dengan kedua tangannya.
"Jadi bagaimana? kakek harus apa?" tanya Prawira.
"Kakek tidak boleh jatuh cinta dengan wanita yang sudah bersuami kek, dosa itu."
"Tapi kakek suka, kakek tergila-gila padanya." Entah apa yang dipikirkan Prawira sampai curhat ke anak bau kencur tentang perasaannya. Mereka menghela napas lagi bersamaan. Nuna menatap pintu rumah tantenya.
"Kemana sih kok onty belum pulang!" gerutu anak tunggal Billy Nataniel itu.
"Mereka pasti tengah bersenang-senang sekarang. Ayolah kita ke seberang saja!" ajak Prawira.
"Kemana?"
"Ke rumah Tamia." Prawira berdiri diekori Tidar alias Radit sekretaris yang sekaligus merangkap menjadi bodyguard nya.
Nuna berdiri lalu setengah berlari mengejar Prawira, "Tamia mainan anak cowok itu kek?"
Pria tua itu hanya tersenyum, Ia sedang galau tujuh tanjakan tujuh turunan merasakan nada-nada cinta di dadanya.
__ADS_1
eyaaaaaa
...Guys Maaf ya, lagi agak rempong sama RL jadi updatenya dikit, tapi kuusahakan rutin ya. Aku kembali berkolaborasi dengan temen otor aku. Mampir ya ke novelnya 😊...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...ADD FAVORITE...
...RATE BINTANG 5...
...❤...
__ADS_1