
"Sudah?" Pertanyaan Tama membuat Bianca salah tingkah saat masuk ke dalam kamar untuk melihat anaknya.
"Mana Felisya?"
"Di kamar, sekarang gantian kamu jagain anakku!" Tama yang sedari tadi berbaring di atas ranjang terlihat bangun secara perlahan agar tidak mengganggu Rain dan Lintang.
"Memang kalian mau kemana?"
"Ke Way Kambas, melihat gajah," jawab Tama santai.
"Tam... " panggil Bianca sedikit ragu.
"Ya."
"Em … bolehkah mulai sekarang aku memanggilmu kakak—Kak Tama?"
Pertanyaan Bianca membuat suami Felisya itu mengerutkan dahi. Ditatapnya Bianca yang masih berdiri menunggu jawaban darinya.
"Wah ... permintaanmu membuatku terharu, dan apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merinding?" Tama menekuk sebelah lengannya di depan dada, Ia tunjukkan ke Bianca bulu kuduknya yang berdiri menari-nari.
"Ah sudahlah! sana pergi!" usir Bianca dengan gaya arogannya.
"Kenapa malah mematung di situ sih? Sana pergi!" Bianca begitu kesal, ia merasa Tama menolak permintaan tulusnya.
Laki-laki itu pun tertawa, tak ingin melepaskan kesempatan yang didapat untuk membuat gajahnya masuk kandang, Ia bergegas berlari keluar kamar.
***
Tama merasa bahagia saat melihat sang istri yang sudah duduk di atas ranjang. Ibunda Lintang itu jelas sedang menunggunya untuk bertamasya melihat gajah. Dengan jari telunjuknya Felisya memberikan kode ke sang suami agar mendekat ke arahnya.
"Apa lingerie mu baru?" Tanya Tama sambil membelai lengan Felisya yang jelas tak tertutup apapun.
"Siapa yang menjaga Lintang?"
Saat akan pergi bertamasya pun seorang ibu pasti tetap akan memikirkan anaknya.
"Bianca," Jawab Tama sambil menciumi pundak istrinya.
Sementara itu, Skala yang langsung ditinggalkan istrinya setelah selesai berpetualang, memilih menyusul ke kamar anak dan keponakannya. Ia lihat Bianca tengah berbaring di samping Rain dan membetulkan selimut lintang.
"Ca, yuk bawa Rain ke kamar kita aja," Skala mendekat, duduk di tepian ranjang sambil menatap bayinya yang tertidur pulas.
"Kamu tidur aja duluan, aku akan menemani Rain dan Lintang di sini."
__ADS_1
"Besok kan hari minggu, seharusnya kita lembur malam ini." Skala mengusap betis kaki istrinya, memijitnya lembut untuk memberi kode lagi seolah yang tadi kurang.
"Tama dan Felisya akan bertamasya melihat gajah, jadi ...."
Mendengar ucapan Bianca, otak Skala yang terkadang sok polos dalam menterjemahkan sesuatu seketika tak terima. Bersungut kesal, Ia langsung meninggalkan kamar tempat dua bayi itu tertidur.
Bianca yang ingin mencegahpun tidak bisa berbicara dengan suara keras apalagi berteriak karena ada dua bayi yang tengah terlelap. Bianca langsung bangun, baru saja sebelah kakinya memakai sandal rumah, Rain menangis . Membuatnya mau tak mau harus menenangkan bayinya terlebih dulu.
***
Tama mengulum bibir Felisya, jemari tangannya mulai meraba apa yang ada di balik baju tipis yang dikenakan sang istri, dengan sedikit dorongan lembut Felisya pun jatuh terbaring dan membuat suaminya lebih leluasa membuka tali baju yang melingkar di pundak. Tama hampir saja mencium ceruk leher Felisya saat tiba-tiba ...
"TAMIA!"
"Woi! ga ada ahklak!"
"Woi, kamu mau bertamasya melihat gajah kemana? Thailand? bawa anakmu!"
Suara papa Rain menggelegar dari luar, bak gelombang tsunami yang menghantam pantai, seketika aliran listrik yang menjalar ke tubuh Tama padam. Apalagi sepupu yang sekarang menjadi adik iparnya itu menggedor pintu kamarnya.
"Sial!" umpat Tama.
Felisya juga kesal, Ia sampai menendang-nendang sprei ranjang. Tama langsung melompat turun dan dengan sengaja tak memakai kausnya lagi.
"Dasar! Jangan tinggalkan anakmu kalau ingin pergi bertamasya, orang tua macam apa kalian yang tega bersenang-senang sendirian, Ha?"
Bak knalpot motor racing suara Skala benar-benar mengganggu telinga dua mahkluk yang gagal berhiya-hiya itu. Felisya sampai memilih menutup kepalanya dengan bantal karena terlalu kesal.
"Aku hanya menitipkan Lintang sebentar agar aku bisa wik wik bersama mamanya." Dada Tama naik turun menahan amarah.
"Wik wik?" Skala terlihat berpikir, alis matanya berkerut. Entah kenapa otaknya yang selalu mesum tiba-tiba berubah menjadi suci.
"Iya dan sekarang ambyar karena kamu!" Tama mengepalkan tangannya di depan muka pemilik PG Factory itu.
Skala masih terus berpikir arti wikwik yang dimaksud Tama, Ia sampai menundukkan kepalanya sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Seketika matanya membelalak lebar melihat belalai gajah menyembul dari balik celana Tama. Suami Bianca itu sampai melompat mundur ke belakang karena kaget.
"Astaga!" teriaknya.
Sejurus kemudian Skala baru sadar bahwa Ia tengah mengganggu aktifitas Tama dan Felisya.
"Maaf Tamia aku lupa kalau gajah itu... " Skala mundur ke belakang, bersiap melarikan diri.
Terlambat, Tama terlalu marah. Ia kejar suami laknat adiknya itu sampai ke lantai bawah. Bak kucing mengejar anjing tingkah mereka sampai membuat pembantu rumah Prawira terbangun. Seperti anak kecil mereka terlibat perkelahian konyol.
__ADS_1
Felisya yang sudah memakai baju tidur lengkap pun bergegas turun ke bawah karena mendengar keributan, ibunda Lintang itu menuju halaman belakang dimana suaminya dan sang mantan kekasih terlibat adegan saling jambak.
"Kenapa sih kolam renang selalu jadi tempat kesukaan kalian untuk bertengkar?" Felisya mendekat, mencoba melerai perkelahian suaminya dan Skala.
"Jangan larang aku Fel! Dia harus diberi pelajaran," Ucap Tama sambil memukuli lengan Skala.
Felisya bergeming, Ia cekal tangan sang suami. Na'as Ia malah terhuyung dan jatuh ke kolam renang.
"FELISYA... " teriak Tama. Ia sadar sang istri tidak bisa berenang. Tama yang memang sudah bertelanjang dada pun langsung terjun ke kolam, membantu istrinya untuk naik ke atas.
Felisya terbatuk-batuk sesaat setelah berhasil naik, netranya menyorot tajam sang suami. Benar-benar lengkap sudah kesialan dua manusia itu. Apakah ini yang disebut wikwikwikwik ambyar yang sesungguhnya?
Karena Skala, Tama dan Felisya gagal bertamasya dan malah menggigil kedinginan di tengah malam.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Otor : Halo, I am back, kalian kangen ga? Maaf ya maaf, aku cuma manusia biasa. Terima kasih mau mengerti dan mau menunggu ku 😄
__ADS_1