Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Pernikahan Batu Bernapas


__ADS_3

Diana yang baru saja kembali dari acara keluarganya dari luar kota terlihat syok mendapati gudang di rumah sang mertua sudah tinggal puing-puing. Mencoba menenangkan hatinya yang ketakutan, ia memilih bersikap biasa saja. Wanita itu tidak ingin sampai sang suami tahu kegelisahan hatinya.


"Nun, apa ada yang aneh saat para pekerja membongkar gudang tiga hari yang lalu?" tanya Diana ke sang puteri.


Nuna menggeleng sambil menikmati cokelat stick kesukaannya. "Ga ada kok Ma, emang ada apa?" dustanya.


***


Siang itu, dengan setelan jas berwarna biru tua Skala terlihat gagah, demi menggantikan sang kakek yang lebih memilih pergi berkencan dengan Hana, ia rela menghadiri pesta pernikahan laki-laki yang dia tahu adalah ayah dari dua monster kecil yang pernah memecahkan wine berharga miliknya.


Meskipun sudah diganti dengan merek yang sama persis, tapi jelas Skala masih menyimpan rasa kesal karena dua anak yang membuat kerusuhan di rumahnya.


Gantikan kakek, dia kolega penting. Ingat! kakek sudah membantumu menjaga Rain dan Lintang minggu kemarin.


Skala bukan tipe pria yang suka ingkar janji. Ia juga ingin kakeknya menikmati sisa hidup dengan bahagia.


Bianca yang memang masih cuti paska melahirkan juga tengah bersiap untuk datang ke pesta bersama suaminya, kali ini ibunda Rain itu memilih mengenakan gaun berbentuk A line yang tertutup tanpa belahan sama sekali.


Pada awalnya Skala menolak permintaan Prawira untuk menghadiri pesta pernikahan koleganya bernama Farhan Budiman itu, tapi saat Bianca mendengar nama pria itu disebut seketika ia merajuk dan berkata ingin menemui duo kembar Cilla dan Cello. Ia yakin dua anak lucu itu pasti berada di pesta.


“Lucu dari mana? yang ada menyebalkan,” gerutu Skala yang sibuk mengancingkan lengan jasnya.


“Jangan terlalu kesal dengan anak orang Ska, ingat kamu juga sudah punya anak. Bayangkan jika ada orang yang kesal pada anak kita.” Bianca menasehati sang suami sambil merapikan dasi di leher pujaan hatinya itu.


"Kamu ganteng banget sih Ska, kan aku jadi ingin fitness malam kalau kayak gini," goda Bianca.


"Cih ... kamu selalu bisa membuat kata-kata menggoda iman, itu pasti istilah dari bu Erin. Iya kan?" tebak Skala.


Bianca pun mengernyit heran, Ia seolah lupa bahwa suaminya sudah dikukuhkan menjadi anggota geng bapak-bapak blok kamboja.


***


Skala menekuk lengannya sesaat setelah turun dari mobil, Bianca pun melingkarkan tangannya, Ia merasa senang bisa pergi ke pesta bersama sang suami seperti itu. Dengan langkah pasti keduanya berjalan memasuki ballroom hotel X ONE X yang merupakan hotel milik keluarga besar sang mempelai Pria.


Setelah mengisi buku tamu dan memberikan hadiah spesial mereka pun masuk ke dalam, pasangan itu terkejut karena tidak melihat mempelai pria berada di sana. Skala terkekeh geli, mulutnya mulai bergunjing di telinga istrinya.


“Apa ini? Kenapa hanya ada mempelai wanita? Apa mempelai prianya kabur?”


Bianca mengernyitkan dahi, apa yang diucapkan sang suami memang benar. Ia juga hanya melihat mempelai wanita yang begitu anggun dengan gaun pernikahannya. Saat menoleh ke sana kemari mencari keberadaan mempelai pria, dua orang anak berlari girang mendekat ke arah keduanya.

__ADS_1


Bianca langsung melepaskan tangannya dari Skala. Ia berjongkok sambil melebarkan lengannya, menyambut duo kembar yang sangat menggemaskan.


“Tante datang uga,” ucap Cilla dengan mimik bahagia.


“Bagaimana kabar kalian? ah...kalian sudah semakin tinggi,” puji Bianca sambil mengelus pucuk kepala Cilla dan Cello bergantian.


"Heh bocah, ini pernikahan ayah kalian ya kan? lalu kemana ayah kalian?" Skala bertanya dengan gaya khasnya, tak ada manis-manisnya kepada anak kecil.


"Ini surprise untuk ayah."


Jawaban Cello membuat Skala dan Bianca saling pandang, pesta pernikahan macam apa ini? kenapa pakai acara kejutan, ini pesta pernikahan atau pesta ulang tahun. Untung saja tidak ada hiasan balon warna warni di sana.


Membiarkan suaminya menggerutu, Bianca memilih untuk berfoto bersama Cilla dan Cello, mengambil puluhan gambar karena dulu mereka tidak sempat melakukannya.


Beberapa saat kemudian sang pembawa acara mulai berbicara, ia menyebutkan pesta pernikahan itu adalah sebuah pesta kejutan, Skala semakin bingung dan kembali berkomentar.


“Sepertinya keluarga ini aneh, konsep pesta pernikahan apa yang mereka usung? apa ini sedang trend?” Mulut Skala mulai terdengar mengganggu istrinya. Bianca pun memilih mengambil sepotong kue dan menyuapkannya ke dalam mulut sang suami.


“Enak?” tanya Bianca sedikit kesal.


Pesta itu berlangsung cukup meriah, setelah melewati kejutan ala-ala pemilik acara, semua tamu mulai berbaur dan menyelamati mempelai yang berbahagia. Acara demi acara pun dilalui dengan suka cita, sampai acara dimana mempelai wanita hendak melemparkan bucket bunga.


“Hei, cacamarica! Bukankah kamu sudah menikah, untuk apa berebut bunga seperti itu?” gumam Skala.


Semua orang tahu ada mitos soal siapa yang mendapat bucket bunga pengantin akan segera menikah juga.


Skala memilih melanjutkan menikmati hidangan di tangannya saat sang pembawa acara mulai berhitung dari satu sampai tiga, bunga itu terbang melayang lepas dari tangan mempelai perempuan, seluruh wanita yang tengah menunggu pun bersorak kegirangan.


Skala memukul dadanya, ia tersedak makanan yang tengah ia telan saat melihat Bianca menjadi pusat perhatian, bucket bunga pengantin itu terlihat berada di tangan sang istri.


“Wah selamat, semoga anda segera menyusul menikah bulan ini,” ucap si pembawa acara yang tidak tahu bahwa Bianca telah bersuami. Direktur Neil Fashion itu terlihat tersenyum menahan malu, ia tak menyangka akan mendapat bucket itu.


Namun, tak lama Bianca dibuat terkejut setengah mati saat sebuah tangan merampas bunga yang tengah ia pegang. Skala melotot, mukanya merah menahan amarah.


“Apa? apa kamu senang? Apa kamu berniat menikah lagi?” cecar Skala ke sang istri.


“Ska itu hanya mitos, tidak usah percaya.” Bianca mencoba meminta bucket bunga itu kembali, tapi sayang Skala yang tengah kesal mengangkat bucket itu tinggi-tinggi menggunakan tangan kanannya.


“Skala, hentikan! malu.”

__ADS_1


Bianca salah tingkah karena dirinya dan Skala sudah menjadi pusat perhatian semua tamu. Ia masih berusaha membujuk sang suami untuk tidak bersikap konyol. Skala yang cemburu buta seperti kehilangan akal sehat dan malah melempar bucket bunga itu ke arah depan dengan kencang dan siapa sangka …


PLETAK


Gagangnya yang terbuat dari kayu terdengar menghantam sesuatu. Semua mata tertuju pada korban utama. Di mana Bianca ingin menjerit dengan mulut terbuka lebar. Ia syok, dan rasanya ingin pura-pura tidak mengenali Skala.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


...Yuhuuu tadi diundang sama penulis Novel Hello My Boss! buat kondangan, jangan lupa nanti mampir ke sana ya bala Amazon 😄...


...LIKE...


...KOMEN...


...BAGI HADIAH buat Na biar bisa beli Jet pribadi juga boleh...


...love you toooo maatttt...

__ADS_1


__ADS_2