Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)

Bukan Kontrak Pernikahan (Buku 2)
S2 : Libur


__ADS_3

"Ca!"


Menendang-nendang selimut sampai jatuh ke lantai, Skala nampak sangat kesal. Sejak pagi Bianca sengaja bersikap cuek kepadanya. Istrinya itu memilih mengobrol dengan sang kakek dan kakak iparnya sepanjang hari, mulai dari membahas kostum apa yang akan mereka pakai untuk melamar pujaan hati Prawira, sampai tema pasta pernikahan yang akan diusung pria itu nanti.


"Ish ... kalau sampai Rain bangun, aku mutilasi anacondamu jadi dua!" Ancam Bianca yang sibuk dengan ponselnya.


Skala memandangi Rain yang terlihat bergerak-gerak karena kelakuannya tadi. Ia lantas menepuk-nepuk paha bayi mungilnya agar tidak sampai menangis. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ancaman istrinya.


"Kamu sudah tidak sayang aku lagi!"


Hanya melirik sekilas, Bianca membiarkan suaminya itu merajuk untuk mencari perhatian. Ia yang sudah harus mulai bekerja kembali memilih membaca beberapa pesan penting yang dikirimkan oleh Bayu.


"Kalau anaconda milik 'ku termutilasi jelas kamu yang rugi!"


Turun dari atas ranjangnya, Skala memilih keluar dari kamar. Mukanya terlihat cemberut dan kusut, mirip kanebo kering. Bianca memilih berpura-pura tak mendengar ucapan suaminya. Ia pikir Skala hanya akan keluar sebentar dan pasti akan segera kembali ke kamar.


***


Sudah lewat lima belas menit. Namun, Skala belum juga kembali ke kamarnya. Menepikan ego, Bianca mencoba mencari keberadaan sang suami. Terdiam sejenak setelah menutup pintu kamar secara perlahan, ia merasa Skala pasti sedang berada di ruang kerjanya.


Bianca pun berjalan mengarah ke sana. Benar saja, Ibunda Rain itu mendapati sang suami tengah menutup pintu ruang kerjanya. Namun, bukannya berjalan menuju ke arahnya, Skala memilih membuka pintu menuju balkon.


Mendekat ke arah suaminya, selain melingkarkan tangannya ke pinggang, Bianca juga menyandarkan kepalanya ke punggung Skala.


"Papa ga bobok?" tanyanya.


Senyum terbit dari bibir Skala, menggenggam erat tangan Bianca. Ia memilih diam, menikmati adegan romantis yang sukses membuat anacondanya meronta-ronta di bawah sana.

__ADS_1


"Apa aku sudah dimaafkan?" tanya Skala tanpa membalikkan badannya.


"Hem ... aku tidak bisa marah kepadamu lebih dari satu kali dua puluh empat jam." Canda Bianca.


"Apa masih tidak mau bercerita, kenapa kamu sampai bertengkar kemarin?"


"Aku membela Felisya dan kakak 'ku. Wanita-wanita itu menghina Tama dan menyinggung Felisya—keterlaluan." Akhirnya Bianca mau berkata jujur ke suaminya.


Berbalik, Skala mencoba melihat bekas memar keunguan di pipi istrinya yang terlihat sedikit memudar. Diusapnya lembut, Ia mendaratkan satu kecupan di sana.


"Apa ucapan mereka sangat kejam, sampai menyulut emosi mu?"


"Sangat, maka dari itu aku tidak ingin mengatakannya," jawab Bianca sambil memejamkan mata. Selain angin malam yang menerpa wajahnya, Skala juga mulai bermain dengan ceruk lehernya.


Sambil tertawa-tawa, Skala menggandeng tangan Bianca menuju salah satu kamar tamu di rumah kakeknya. Ia berdoa semoga minimal setengah jam Rain tidak terbangun agar dia bisa melepaskan kecebong dari pabriknya dengan aman sentosa.


"Apa tidak dikunci?" tanya Bianca penasaran.


Skala yang bersemangat terlihat memutar gagang pintu. Dahinya mengernyit heran karena ternyata tebakannya salah. Pintu itu tidak mau terbuka, kamar itu sepertinya terkunci.


Masih terus berusaha, Skala dan Bianca kaget mendapati kepala Tama menyembul dari baliknya. "Pakai kamar yang lain, Bro!" ucapnya santai.


"Sial, keduluan!"


Ucapan penyesalan yang meluncur dari bibir Skala membuat istrinya tertawa geli. Bianca memilih berbalik menuju kamarnya sambil menggoda sang suami.


"Libur papa, libur."

__ADS_1














...LIKE...


...KOMEN...

__ADS_1


...Bagi kopi 🤣...


...makasih...


__ADS_2