
Bianca dan Skala tertawa bahagia, akhirnya kecebong sukses didistribusikan keluar pabriknya. Mereka kembali saling mencumbu, Skala mengusap pipi istrinya mesra. Bahkan Bianca kembali mencium laki-laki yang amat dicintainya itu bertubi-tubi. Masih dalam posisi Bianca duduk di atas pangkuannya, Skala kembali mencumbui istrinya, sampai suara gagang pintu yang hampir terbuka mengangetkan keduanya.
“Jangan masuk!” teriak mereka bersamaan.
Bianca langsung melompat turun dan menyambar bajunya, begitu juga dengan Skala yang kalang kabut berguling ke belakang sofa.
“Sedang apa kalian?”
Suara Tama menggelegar dari balik sana. Beberapa saat yang lalu di dalam lift, Ia bertemu dengan Bayu yang sudah selesai dengan urusannya, Tama mendapat balasan anggukan kepala dari Bayu saat bertanya apakah Bianca ada di ruang kerjanya.
Berniat mengantarkan Tama sampai ke depan pintu ruang kerja bosnya. Namun, panggilan alam yang tidak terhindarkan membuat Bayu harus berbelok ke kamar mandi.
“Ibu Bian paling sedang sibuk membaca laporan sekarang.”
Mengingat ucapan Bayu, Tama tersenyum menghina. Sibuk membaca laporan? Laporan dari mana? dari Amazon.
Bagaimana mungkin pikiran Tama tidak bertamasya, yang ia dapati sekarang adalah sebuah pemandangan absurd dimana Bianca sedang duduk manis di sofa sambil merapikan rambutnya, sementara Skala berdiri di belakang memegang pundak istrinya. Pandangan mata suami Felisya itu dipenuhi rasa curiga. Ia yang awalnya datang untuk membicarakan masalah bisnis dengan Bianca seketika ingin berkomentar nyinyir juga.
“Apa kalian melakukan perbuatan mesum di ruang kerja?”
Pertanyaan Tama membuat Bianca dan Skala saling pandang. Memasang wajah sombong, sayang keduanya tidak kompak menjawab pertanyaan laki-laki itu.
“Tidak Mungkin”
“Iya, kenapa?”
Bianca memukul lengan Skala sampai suaminya itu mengaduh kesakitan. Saling memelototi satu sama lain, tingkah keduanya membuat Tama hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pungut ikat pinggang Skala di bawah sofa yang akan dia duduki. Dilemparkannya benda itu ke mantan kekasih istrinya.
“Dasar adik ipar bobrok!” Cibir Tama. “Apa kalian terlalu miskin untuk memesan kamar di hotel?”
Skala memandang sinis wajah sepupu yang sekarang lebih suka disebut sebagai kakak iparnya itu. Alih-alih memutari sofa untuk duduk, Skala melompat dari sandaran bak atlit lompat indah. Cengegesan, Bianca mencubit pinggang suaminya gemas.
“Huek!” Tama berpura-pura mual melihat kelakuan dua mahkluk gaib di depannya.
“Mau apa ke sini?” tanya Bianca sedikit ketus.
“Ish … aku adalah calon kolegamu, jangan bersikap sombong seperti itu.
__ADS_1
“Sepertinya anda terlalu percaya diri Pak Tama, masih calon kan? kalau aku menolak bekerjasama dengan anda bagaimana? Ha?”
Skala terkekeh geli mendengar jawaban istrinya, apalagi melihat Tama yang tak berkutik mendengar jawaban Bianca. Melipat lengannya ke depan dada, Skala lalu menyilangkan kakinya jumawa.
“Jangan terima jika dia hanya menawarkan sebuah booth kecil di dalam PG Mall,” ucap Skala penuih percaya diri seperti sudah bisa menebak apa yang akan ditawarkan kakak iparnya.
“Jangan menghinaku Seketek, mana mungkin aku menawarkan hal receh ke Bianca.” Tama Mengepalkan tangannya seolah akan memukul Skala dari tempat duduknya.
“Lalu apa yang ingin kamu tawarkan?” Bianca penasaran juga dengan hal yang akan diucapkan Tama.
“Membuat kontrak denganmu, aku ingin produk Neil Fashion yang dikeluarkan secara eksklusif hanya akan dijual di PG Mall,” ucap Tama sambil menaik turunkan alis matanya.
Bianca terdiam, kedengaran tidak menarik di telinganya. Sampai, Tama melanjutkan ucapannya.
“Kalau kamu tidak mau, aku akan menemui Papamu dan berkata aku adalah anaknya, setelah itu aku akan mulai berebut Neil Fashion denganmu.”
Seletika Bianca pun berdiri “Deal! Ayo kita buat kontrak itu, tapi jangan berebut Neil Fashion denganku!”
Mulut Skala langsung menganga lebar. Namun, jelas alasan Bianca bukan hanya semata-mata karena ancaman Tama. Sebagai saudara, ia juga ingin membantu bisnis sang kakak.
**
Memeluk tubuh polos Bianca dari belakang, malam itu Skala meminta pengasuh Rain menemani sang anak tidur di markas. Sementara dirinya dan pujaan hatinya sedang bermesraan di kamar tamu. Keduanya baru saja menyelesaikan jilid ke dua dari ritual hiya hiya hari itu.
"Kamu pasti tahu bukan hanya itu alasanku Ska." Membalikkan badannya, Bianca memeluk erat tubuh suaminya. "Kamu wangi, aku suka," pujinya.
"Aku cinta banget sama kamu Skala."
Menjauhkan kepalanya, Skala merangkum pipi Bianca yang ternyata berbicara sambil memejamkan mata. "Woi ... jangan tidur dulu! kita belum selesai ini."
Bianca membuka matanya, mama Rain itu tertawa geli mendapati suaminya yang terlihat tak terima jika Ia tertidur.
"Hari ini udah dua kali Papa!"
"Ayo kita berhitung! berapa lama kita sudah tidak melakukan itu."
Skala menegakkan badannya, menyandarkan tubuh polosnya yang hanya berbalut selimut ke headboard. Mengikuti suaminya, Bianca ikut bangun. Dilingkarkan tangannya ke pinggang Skala, sementara kepalanya bersandar ke lengan laki-laki itu.
__ADS_1
"Berhitung, mulai!" ucap Bianca memberi aba-aba.
"Selasa gak kan? malam Jumat, Jumat enggak, Sabtu, Minggu juga enggak, lama Ca!" Skala menunjukkan sepuluh jarinya ke sang istri.
"Ish ... korupsi!" cibir Bianca. "Kan cuma lima!"
"Hem ... korupsi bercinta denganmu kan tidak merugikan kita, yang ada kan makin cinta."
"Em ... manisnya, aku jadi gemas!" Bianca memasang muka imut sambil menyodorkan bibirnya ke Skala.
Mendapat lampu hijau, Papa Rain itu tidak ingin melewatkan kesempatan emas. Disambarnya bibir Bianca, sesapan dan gerakan lidah yang menari di dalam mulut membuat sesuatu di bawah sana meronta kembali. Memadu cinta, keduanya kembali saling memeluk. Dibawah kungkungan tubuh Skala, Bianca mulai dimanjakan oleh rasa nyaman nan nikmat yang menjalari tubuhnya hasil dari tumbukan anaconda tak ada ahklak yang meringsak piranhanya.
Kenapa tidak sejak kemarin kita meminta pengasuh Rain lembur.
—
—
—
—
—
—
—
—
—
...LIKE...
...KOMEN...
...Bagi kopi 🤣...
__ADS_1
...makasih...
...Info update follow IG na @Nasyamahila...